Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
177. Kutemukan Cinta Bersama Denganmu


__ADS_3

Faras memang lebih beruntung daripada Kagendra kecil. Ia beruntung memiliki ayah Kagendra yang pernah memiliki trauma yang sama sehingga mendapatkan perlakuan yang tepat.


Walaupun Faras sudah dinyatakan sehat secara fisik, ia masih harus berusaha mengatasi bayangan-bayangan kelam yang terkadang masih mengganggunya. Sekarang, Faras tidak seceria dulu. Faris, sebagai saudara kembar, terus berusaha membuat Faras nyaman. Seperti Kagendra, sekarang Faras lebih lama berada di kamar mandi. Ia pun lebih sering mencuci tangan. Bayang-bayang tubuhnya yang dikotori para penculik masih mengganggunya, begitu pun saat ia dipaksa untuk makan sesuatu yang kurang bersih dan menyebabkan dirinya sakit.


Setelah terapi dan pendekatan tepat yang dilakukan Kagendra, perilaku OCD Faras berangsur-angsur berkurang dan sudah bisa berinteraksi dengan baik. Tidak seperti Kagendra yang terus tertutup hingga usia dewasa, Faras mampu mengatasi traumanya dalam waktu relatif singkat. Tentu saja peran Kagendra, Sadiyah, Faris, dan anggota keluarga lainnya membantu Faras mengatasi trauma.


Satu tahun kemudian, Aki Musa yang berusia hampir sembilan puluh tahun menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang di tengah sanak keluarga. Aki Musa meninggal satu bulan setelah Alena dan Atep melangsungkan pernikahan mereka.


Empat tahun kemudian


Hari ini, keluarga Kagendra mengadakan syukuran hari ulang tahun si kembar Ardana dan Arkana yang ke-lima sekaligus syukuran akikah putri mereka yang kelima. Ya, akhirnya Sadiyah melahirkan anak perempuan yang ditunggu-tunggu Kagendra satu minggu lalu. Selama kehamilan yang ketiga, Sadiyah memutuskan untuk tidak mengetahui jenis kelamin sang bayi hingga saat melahirkan.


Walaupun Kagendra selalu bilang akan menerima apapun jenis kelamin bayi mereka, tapi Sadiyah tahu kalau suaminya sangat mendambakan anak perempuan. Bersyukur anak kelima mereka berjenis kelamin perempuan. Kagendra mengazani anak perempuannya dengan takzim dan penuh syukur. Tidak ada drama-drama menjelang dan sesudah melahirkan seperti halnya kelahiran Ardana dan Arkana ataupun kelahiran Faras dan Faris yang tidak diketahuinya.


“Terima kasih yang tak terhingga untuk orang tua, adik, sepupu, keluarga besar, dan sahabat yang telah membersamai keluarga kami bertumbuh dan berkembang.” Kagendra memberikan sambutan.


Hadir di sana orang tua Kagendra yang memasuki usia tujuh puluh tahun, tetapi masih sehat dan tentu saja selalu harmonis bak pengantin baru. Ada juga Alena dan Atep beserta kedua anak mereka. Alena baru melahirkan putri bungsunya dua bulan lalu, yang membuat Kagendra iri setengah mati karena Atep dan Alena lebih dulu mendapatkan anak perempuan.  Anak pertama mereka laki-laki, dan sekarang berusia tiga tahun. Tidak seperti Kagendra yang dikarunia anak kembar hingga dua kali, Alena tidak melahirkan anak kembar walaupun Atep sangat menginginkannya.


Yusuf dan Indriani sangat berbahagia dikelilingi oleh anak-anak dan cucu-cucu mereka. Yusuf telah menyerahkan segala urusan perusahaan sejak lima tahun lalu kepada Kagendra. Dengan dua perusahaan yang dikelola, bahkan tiga, jika kelompok undergroundnya dihitung, membuat Kagendra semakin sibuk. Ia meminta bantuan Atep, adik iparnya untuk ikut serta mengelola perusahaan keluarga.


Tentu saja, Kagendra tidak ingin sibuk sendiri selagi bisa memanfaatkan adik iparnya. Ia tidak peduli kecerewetan Alena yang terus saja memintanya untuk tidak mengeksploitasi Atep.


“Hari ini adalah acara syukuran kedua anak kami, Ardana dan Arkana yang telah berusia lima tahun sekaligus syukuran akikah anak bungsu yang kami beri nama, Nakeisha Putri Nataprawira. Untuk anak perempuan kami, saya yang memberi namanya langsung tidak seperti nama kakak-kakaknya, dimana saya tidak mendapatkan kesempatan untuk memberi nama.”


“Dasar gak kreatif, cuma cari nama depannya saja. Nama belakang nyontek nama kakak-kakaknya,” sindir Alena.

__ADS_1


Alih-alih mengindahkan sindiran adiknya, Kagendra meneruskan monolognya. “Nakeisha artinya hidup bahagia. Kami berharap, kelak Nakeisha memberikan banyak manfaat dan kebahagian pada banyak orang.”


“Panggilannya siapa, Ndra?” celetuk Arfian, sahabat sekaligus supupunya.


“My little princess,” jawab Kagendra bangga.


Terdengar berbagai macam ekspresi suara dari orang-orang yang hadir. Sadiyah menghela napasnya. Ia khawatir Kagendra terlalu memanjakan putri bungsu mereka. Bukan hanya anak bungsu, Nakeisha juga menjadi anak perempuan mereka satu-satunya.


Setelah sambutan Kagendra dan pembacaan doa, semua yang hadir langsung menikmati hidangan yang telah tersedia. Halaman belakang rumah Kagendra penuh tidak hanya oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Terhitung ada lima belas orang anak-anak yang ikut bergabung. Selain lima orang anak-anak Kagendra dan Sadiyah, ada dua orang anak Alena dan Atep, tiga orang anak Arfian dan Keisha, tiga orang anak Arfan dan Prita, dan dua orang lagi anak dari sepupu Kagendra yang lain.


Kiran, sepupunya, datang terlambat bersama sang suami. Kiran menikah dua tahun lalu dan sekarang ia sedang hamil. Satu tahun lalu, Kiran pensiun dari pekerjaannya karena permintaan suaminya. Setelah pensiun dari kepolisian, sekarang Kiran aktif mengajar di perguruan tinggi seperti ayah dan suaminya yang seorang dosen juga.


“Kapan HPL-nya?” tanya Sadiyah sambil mengelus lembut perut Kiran.


“Minggu depan, Teh,” jawab Kiran santai.


“Biar hati senang, melahirkannya pun mudah,” ungkap Kiran memberikan alasan.


Sadiyah mengangguk, setuju dengan apa yang dikatakan Kiran.


Setelah selesai menyusui Nakeisha di kamar bayi, Sadiyah kembali ke halaman belakang. Ia melihat Kagendra berdiri sendiri di pinggir kolam renang.


“A,” panggil Sadiyah.


“Sudah selesai menyusui?”

__ADS_1


“Hm…”


“Anak kita sudah lima orang, dan akhirnya kita mendapatkan anak perempuan. Kamu bahagia, Sayang?”


“Aa masih nanya?” ungkap Sadiyah tidak suka.


“Tinggal jawab saja, Sayang. Tidak perlu marah.”


“Ya aneh aja kalau Aa masih nanya begitu.” Sadiyah masih tidak terima.


“Bahagia?” tuntut Kagendra.


“Ya tentu saja bahagia atuh, A. Hidup Iyah begitu semarak dengan suami dan lima anak. Nikmat mana lagi yang iyah dustakan.”


“Nah gitu, dong.” Kagendra mencium puncak kepala Sadiyah. “I love you to the moon and back.”


“Sama. Iyah juga.”


“Sama apa?” tuntut Kagendra.


“Uhibukka fillah. Iyah mencintai Aa karena Allah.”


Perjalanan Sadiyah dan Kagendra untuk mencapai titik ini tentu saja tidak mudah. Ada tangis, darah, doa, dan harapan mengiringi perjalanan cinta mereka. Mereka bersyukur menemukan cinta sejati bersama-sama. Namun, perjalanan tidak berhenti di sini karena akan ada banyak kisah yang menyertai mereka dan anak-anak mereka kelak.


The End/ Selesai

__ADS_1


Akhirnya selesai juga kisah Kagendra dan Sadiyah di season ini. Nantikan kelanjutan kisah mereka di season berikutnya dama kisah anak-anak mereka


__ADS_2