
Malam itu, Sadiyah memberanikan diri masuk ke dalam kamar Faras dan Faris. Ia menguatkan hati untuk tidak melihat salah satu anak kembarnya tidak ada.
“Aris,” panggil Sadiyah dengan suara bergetar.
Faris seketika menghambur ke dalam pelukan Sadiyah. “Ibu…”
Baru hari ini, Faris merasakan kembali pelukan ibunya setelah dua hari lalu dia kembali ke rumah. Kagendra membujuk Faris untuk tidak bertemu dengan Sadiyah karena saat itu kondisi Sadiyah benar-benar belum bisa ditemui siapapun, terutama Faris.
“Ibu kangen sama Aris,” ucap Sadiyah sambil memeluk Faris dengan begitu erat.
“Aris juga kangen sama Ibu. Aris sudah lihat adik-adik Aris.” Faris berusaha tidak menyebut nama Faras di hadapan ibunya.
“Sebentar lagi, kita semua akan berkumpul kembali. Ayah, ibu, Aris, Aras, Ardan, dan Arkan,” tukas Sadiyah.
“Ardan dan Arkan?” tanya Faris heran. Ia tidak mengenal dua nama yang disebut Sadiyah.
“Adik kembar Aras dan Aris,” jelas Sadiyah.
“Ardan dan Arkan? Bukannya nama mereka Upin dan Ipin?”
“Haah? Siapa yang bilang nama mereka Upin dan Ipin?”
“Tante Lena,” jawab Faris.
__ADS_1
“Itu panggilan yang dibuat tante kamu saja. Nama adik-adiknya Aris itu Ardan dan Arkan,” jelas Sadiyah. “Aris sayang sama Ardan dan Arkan?”
“Sayang. Aras juga pasti sayang sama Ardan dan Arkan, eh… maaf, Bu. Aris gak sengaja.”
“Kenapa minta maaf?”
“Ayah bilang jangan nyebut nama Aras, takut Ibu sedih.”
“Ibu memang sedih belum bisa ketemu sama Aras, tapi tidak apa-apa kalau Aris sebut nama Aras. Ibu tidak akan marah. Coba ceritakan sama Ibu, bagaimana keadaan Aras dan Aris waktu tinggal sama orang-orang yang jahat itu?”
“Aris takut, Bu, tapi Aris gak nangis. Aras selalu ngelawan orang-orang jahat itu. Aras sering dipukul. Kalau Aris mau dipukul, Aras pasti ngehalangin.”
Sadiyah tidak tahan lagi menahan kesedihannya. Air mata mulai mengalir tak terbendung.
“Ibu… maafin Aris. Aris ninggalin Aras. Aras yang menyuruh Aris pergi. Seharusnya Aris gak boleh ninggalin Aras ya, Bu?”
“Enggak. Aras sudah benar menyuruh Aris supaya Aris bisa minta tolong. Karena Aris pergi ke kantor polisi, Ayah bisa jemput Aris. Sekarang Ayah dan polisi sedang mencari Aras. Karena petunjuk Aris, mereka bisa mulai cari Aras. Aris hebat, Aras juga hebat. Anak-anak Ibu memang hebat. Ibu bangga sama kalian.” Sadiyah kembali memeluk Faris.
“Aris kangen sama Aras,” ucap Faris sambil terisak.
“Ibu juga kangen sama Aras. Semuanya kangen sama Aras dan berharap kita semua bisa kembali berkumpul.” Sadiyah dan Faris kembali saling berpelukan. “Sekarang Aris bobo ya!” Sadiyah membetulkan letak selimut. “Jangan lupa berdoa.” Sadiyah mencium kening Faris sebelum meninggalkan kamar.
Sadiyah menatap nanar pintu ruangan kerja Kagendra. Ia ragu-ragu untuk mengetuk pintu. Sejak peristiwa penculikan Faras dan Faris, ia benar-benar mengabaikan keberadaan Kagendra. Ia pun menyalahkan Kagendra atas semua musibah yang sekarang terjadi. Ia sadar bahwa musibah tersebut bukanlah kesalahan Kagendra. Ia hanya marah dan lelah pada keadaan, apalagi saat tahu Natasha yang berada dibalik penculikan Faras dan Faris.
__ADS_1
Sadiyah mengetuk pintu dengan pelan karena khawatir mengganggu Kagendra. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Setelah dari kamar Faris, Sadiyah menyusui Ardan dan Arkan terlebih dahulu. Saat menatap wajah kedua bayi kembarnya, rasa rindu terhadap Kagendra tiba-tiba menyergapnya. Ia rindu pelukan hangat milik Kagendra.
“Boleh Iyah masuk, A?” ucap Sadiyah lirih. Ia sendiri tidak yakin suaranya terdengar Kagendra.
Sepertinya Kagendra memang tidak mendengar suara Sadiyah karena tidak terdengar suara apapun dari dalam.
Sadiyah mencoba untuk mengetuk sekali lagi tapi ia urungkan. Ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
“Siapa?” terdengar suara Kagendra dari dalam.
“Iyah, A. Boleh Iyah masuk?”
“Tunggu sebentar!” seru Kagendra, terdengar suara barang-barang berjatuhan.
Sadiyah langsung membuka pintu karena khawatir terjadi hal buruk pada Kagendra. Baru dua hari yang lalu, Kagendra pingsan dan harus mendapatkan suntikan cairan infus untuk memulihkan kondisinya. Sadiyah khawatir, Kagendra pingsan lagi.
Saat memasuki ruangan Kagendra, tercium aroma tembakau yang sangat pekat. Sadiyah melihat puntung rokok berserakan di atas lantai. Sepertinya, suara barang yang terjatuh tadi adalah asbak yang penuh dengan puntung rokok dan kursi yang terjungkal. Kemungkinan karena Kagendra terburu-buru menyalakan air purifier untuk membersih asap rokok dan mengambil sapu yang berada di pojok ruangan. Karena terburu-buru, Kagendra menendang kursi yang menghalangi jalannya. Ini pertama kalinya Sadiyah melihat Kagendra merokok. Selama menikah, ia tidak pernah sekalipun melihat Kagendra merokok, pun tidak pernah mencium aroma tembakau dari tubuh Kagendra.
“Aa…Kenapa?”
***********
to be continued...
__ADS_1