Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
141. Cocok


__ADS_3

“Teteh yakin kalian berdua akan cocok,” teriak Sadiyah hingga terdengar oleh semua orang yang berada di halaman belakang.


“Kei… Prita… Teteh punya gamis dan tas baru buat kalian. Sini ikut Teteh.” Sadiyah kembali berteriak memanggil kedua teman Alena yang tadi duduk bersama di kursi taman.


“Jangan teriak-teriak, Sayang!” sergah Kagendra.


“I’m excited, A. Sepertinya rencana kita menjodohkan mereka akan sukses.”


“Hm... Feeling Aa juga begitu. Tatapan mereka berbeda. Mereka terlihat sudah kenal sebelumnya.”


“Nah, Iyah juga merasa seperti itu. Sepertinya Atep dan Lena sudah kenal lama. Jangan-jangan mahasiswa menyebalkan yang diributkan Lena itu Atep dan dosen menyebalkan yang sering disebut Atep itu Lena. Kalau betul begitu, dunia memang sempit.” Sadiyah menggeleng-gelengkan kepala tampak sulit percaya dengan dugaan yang baru saja ia ungkapkan.


“Aa, sini deh.” Sadiyah memanggil suaminya untuk mendekat. Ia mengintip Alena dan Atep yang mengobrol di taman.


Kagendra ikut-ikutan mengintip dari belakang tubuh Sadiyah.


“Tuh kan… Iyah yakin mereka sudah saling mengenal sebelumnya.”


Kagendra mengangguk membenarkan perkataan istrinya.


********


“Besok Lena mau ajak Aras dan Aris ke T Studio. Boleh tidak?” Alena meminta izin pada Kagendra untuk mengajak Faras dan Faris bermain.


“Boleh,” jawab Kagendra.


“Asyiiik…” seru Faras dan Faris sambil berlarian keliling rumah dan melompat-lompat gembira.


“Besok Lena dan Atep yang ngajak Aras dan Aris ke T Studio.” Sadiyah memperjelas rencana Alena dan Atep yang mengajak si kembar bermain.


“Oh…mau latihan jadi orangtua, huh?” tanya Kagendra sambil mengedip-ngedipkan sebelah mata menggoda Alena.


“Apaan sih, Aa?” Alena memukul bahu kagendra hingga terdengar bunyi tamparan yang cukup keras. Wajah Alena berubah warna semerah jambu air matang.


“Ya baguslah. Kalian bawa main Aras dan Aris sampai sore. Lumayan kan kami jadi punya waktu untuk berduaan saja,” seru Kagendra girang lalu mengedipkan sebelah mata pada istrinya.


“Dasar pasangan bucin.” Alena menggerutu.


“Mau kemana, Tep?” Indriani bertanya pada Atep yang sedang bersiap-siap pergi.


“Mau pamit dulu, Bu. Ada pekerjaan yang harus saya bereskan. Saya mau minta izin sama Ibu dan Abah untuk mengajak Lena jalan-jalan besok.” Dengan berani Atep meminta izin pada Indriani.


“Boleh, biar sekalian jadi ajang untuk saling mengenal,” ucap Indriani bersemangat.


“Abah… ini calon menantu Abah mau pamit pulang dulu.” Indriani berteriak memanggil suaminya.


“Mau kemana pulang cepat-cepat, Tep?” tanya Yusuf.


“Pamit pulang dulu, Abah. Ada yang harus dikerjakan malam ini,” jawab Atep sopan lalu mencium punggung tangan Yusuf dan Indriani.


“Besok Atep mau mengajak Lena jalan-jalan.” Indriani memberitahu Yusuf.


“Bagus, kalian bisa saling mengenal lebih jauh. Tapi jalan-jalannya jangan berduaan saja. Abah khawatir kalau cuma berduaan saja, besoknya Abah harus menikahkan kalian berdua.”

__ADS_1


“Abaaah…” protes Alena.


Kagendra dan Sadiyah cekikikan mendengar perbincangan seru antara ayah dan anak gadisnya.


“Besok mereka mau ngajak Aras dan Aris. Katanya mau latihan jadi orangtua,” jelas Kagendra yang membuat wajah Alena semakin memerah.


“Oh, rencana bagus. Selain Lena dan Atep yang latihan jadi orangtua, Endra dan Iyah juga jadi punya waktu untuk berduaan saja.” Yusuf bertepuk tangan diikuti oleh semua orang yang hadir di ruangan kecuali Alena dan Atep.


*********


Jam tujuh pagi, rumah pasangan Sadiyah dan Kagendra sudah didatangi Atep dengan penampilannya yang rapi dan bersih, siap mendampingi Alena, Faras dan Faris bermain di T Studio.


Pagi-pagi udah ganteng aja, Tep. Gak sabar mau ngedate sama Lena?” goda Sadiyah.


“Teteh bisa aja. Kan Teteh yang minta supaya Atep lebih mengenal Alena,” jawab Atep berusaha santai untuk menutupi kegugupannya.


“Eh, kok kalian bisa sih langsung akrab begitu? Terus sepertinya Lena rada-rada ketus sama kamu. Sepertinya kamu pernah ada salah sama dia. Kalian sudah kenal sebelumnya, huh?” selidik Sadiyah. Kecurigaannya mungkin benar.


Atep menggaruk-garuk tengkuk walau tidak gatal. Kegugupannya tiba-tiba muncul saat Sadiyah mencurigainya.


“Eeeeh… itu… sebenarnya kami sudah saling kenal sih.”


“Kenal di mana?” Sadiyah menarik tangan Atep dan menyeretnya ke taman belakang untuk menginterogasi lebih lanjut.


“Itu… Alena itu dosen pembimbing Atep.”


“Haaa…” Sadiyah berteriak girang.


“Jangan teriak-teriak, Teh!”


“Ada apa?” Kagendra duduk di kursi taman.


“Aa tau gak? Ini sih Breaking News, A. Hot News!” seru Sadiyah.


“Tahu apa? Bagaimana bisa tahu kalau kamu gak bilang,” balas Kagendra mengernyitkan dahi.


“Iiiih si Aa mah… Makanya dengerin Iyah baik-baik.”


“Iya, sok atuh cerita.”


“Iiih si Aa mah gak sabaran pisan. Tunggu atuh, Iyah mau tarik nafas dulu,” gerutu Sadiyah.


“Iya… iya… ini juga sabar nunggu kamu yang mau bercerita tapi gak mulai-mulai.”


Sadiyah mencubit lengan suaminya karena kesal.


“Kenapa main cubit segala?” protes Kagendra.


“Makanya jangan banyak omong. Dengarkan baik-baik yang mau Iyah omongin.”


Kagendra kembali menghela nafas memanjangkan sabar.


“Aa tau gak? Dugaan kita sangat tepat. 100% tepat dan akurat. Lena itu dosen pembimbingnya Atep,” ungkap Sadiyah.

__ADS_1


“Terus?”


“Aeh aeh… si Aa mah gak ada ekspresi begitu,” gerutu Sadiyah.


“Oh….”


“Iiih… kok cuma oh sih?” protes Sadiyah.


“Ya terus Aa harus bilang apa? Atau Aa harus lompat-lompat atau guling-guling di tanah gitu?”


Atep tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Kagendra.


“Iiiiih gak seru ah. Aa mah gitu. Nyebelin! Dedek-dedek bayi dalam perut Ibu. Nanti kalau sudah besar jangan nyebelin seperti ayah kalian ya. Kalian harus mirip sama Ibu. Jangan mirip sama ayah kalian.” Sadiyah mengusap-ngusap perutnya yang terlihat menonjol.


Kagendra hanya menghela nafas mendengar kata-kata dari istrinya.


Sadiyah beranjak masuk ke dalam rumah meninggalkan Kagendra dan Atep.


“Tep, tuh kamu perhatikan Teteh kamu yang sedang merajuk itu. Nanti kalau kamu jadi nikah sama si Lena, sikap dia tidak akan jauh berbeda sama Teteh kamu. Jadi kamu harus sabar dalam menghadapi istri kamu terutama kalau nanti si Lena hamil, kamu harus ekstra sabar.” Kagendra memberikan wejangan pada Atep.


“Teh Iyah tidak mengalami morning sickness?” tanya Atep.


“Tidak tiap hari. Dari kehamilan pertama sampai kehamilan kedua kali ini, saya yang mengalami morning sickness,” jawab Kagendra.


“Nikmati saja ngidamnya Teh Iyah. Mungkin sekarang Teteh akan sangat manja karena ketika hamil Aras dan Aris, Teteh menahan semua keinginan ngidamnya.” Atep menceritakan saat Sadiyah hamil tanpa didampingi oleh suaminya.


“Hm…”


“Teh Iyah itu perempuan mandiri dan kuat. Saat Teh Iyah hamil dulu, dia juga ngidam dan banyak keinginan tapi Teh Iyah tidak ingin menyusahkan saya dan ibu saya sehingga dia menekan semua keinginannya. Sering dulu saya membelikan makanan yang kira-kira orang hamil sukai tapi Teh Iyah selalu bilang kalau dia tidak ngidam dan tidak ingin makanan yang aneh-aneh.”


“Maaf kalau dulu kamu jadi ikut susah,” ucap Kagendra meminta maaf.


Atep menggeleng.


“Saya menganggap Teh Iyah seperti kakak kandung. Ibu dan saya sangat menyayangi Teh Iyah. Jangan pernah menganggap Teh Iyah menyusahkan kami.”


“Hm...”


“Saya hanya berharap agar Teh Iyah selalu bahagia. Sekarang saya melihat dengan mata kepala sendiri kalau Teh Iyah memang benar-benar bahagia berkumpul lagi dengan laki-laki yang selalu ia cintai. A Endra itu cinta pertama Teh Iyah. Makanya teteh benar-benar hancur ketika dulu harus meninggalkan A Endra,” jelas Atep.


“Dulu aku memang laki-laki paling berengsek. Aku juga tidak habis pikir bagaimana bisa dulu aku jadi manusia berengsek dan menyia-nyiakan perempuan salehah seperti Iyah. Aku terlambat menyadari kalau saat itu aku sudah mencintainya dan ketika kesadaran itu datang, semuanya sudah terlambat. Aku bersyukur Allah memberikan kesempatan kedua untukku bisa bersama kembali dengan istri dan anak-anak.”


“Terima kasih karena mau memperjuangkan Teh Iyah.”


“Tidak… bukan kamu yang harus berterima kasih tapi aku yang seharusnya berterima kasih pada kamu dan ibu kamu. Karena kalau tidak ada kalian, aku tidak bisa membayangkan bagaimana Iyah akan bertahan.”


“Jangan berterima kasih juga pada saya. Sudah menjadi kewajiban seorang adik laki-laki untuk melindungi kakak perempuannya.”


“Ya… itu juga yang akan aku minta sama kamu sekarang.”


“Maksudnya?” tanya Atep heran.


*******

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2