Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
120. Tempat Tinggal


__ADS_3

Malam hari sebelum tidur, Kagendra meminta Sadiyah untuk duduk di sampingnya. Mereka berdua duduk bersisian di sofa yang ada di kamar Sadiyah.


“Iyaah, Aa harus segera kembali mengurusi pekerjaan Aa yang sudah terbengkalai hampir satu bulan. Aa pikir kita harus membicarakan bagaimana selanjutnya kita menjalankan kehidupan kita sebagai suami istri dan juga keluarga dengan anak-anak kita.”


Sadiyah menatap Kagendra dan menunggu kelanjutan yang akan Kagendra katakan.


“Tentu saja Aa ingin kita tinggal bersama dalam sebuah rumah. Kita bersama-sama mendidik Aras dan Aris. Kamu bersedia kan? Aa harap kamu sudah benar-benar memaafkan kesalahan Aa di masa lalu dan mau bersama-sama mendidik Aras, Aris dan tentu saja adik-adik mereka nantinya.”


Sadiyah menatap tajam Kagendra.


“Jangan jutek seperti itu. Kamu jadi tambah manis kalau melotot begitu. Aa jadi tambah gemas.” Kagendra menangkup wajah Sadiyah dengan kedua tangannya kemudian mengecup singkat bibir Sadiyah.


“Aa…..” Sadiyah mencubit lengan Kagendra.


“Aa serius, Sayang. Kapan kamu akan pindah ikut Aa? Aa akan menunggu kamu siap untuk pindah ke rumah kita yang dulu.”


“Aa….”


“Hmmm….”


“Boleh tidak kalau kita tidak tinggal di rumah yang dulu?” tanya Sadiyah ragu.


“Kenapa?”


“Iyah tidak betah tinggal di tempat yang panas. Iyah sudah nyaman tinggal di tempat yang sejuk. Kalau boleh dan kalau Aa mengizinkan, Iyah ingin kita tinggal di Bandung. Anak-anak juga tahun ini akan mulai sekolah. Iyah rasa, kualitas sekolah di Bandung bagus. Jadi bagaimana kalau kita tinggal di Bandung?” Sadiyah menatap lekat pada Kagendra.


Kagendra menarik nafasnya dengan berat.


“Usaha dan pekerjaan Aa ada di Jakarta. Rumah kita juga ada di Jakarta.” ujar Kagendra.


“Kalau rumah, Iyah juga punya rumah di Bandung. Rumah Iyah nanti akan menjadi rumah kita.” jelas Sadiyah.


“Alasan apalagi yang membuat kamu ingin kita tinggal di Bandung?”


Merasa mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, Sadiyah semakin bersemangat untuk membeberkan berbagai alasan agar mereka bisa tinggal di Bandung.


Sadiyah menatap Kagendra dengan tatapan hangatnya, ia juga menggenggam kedua tangan Kagendra.


“Usaha dan pekerjaan Iyah juga ada di Bandung. Iyah berencana untuk menyekolahkan Aras dan Aris di Bandung karena lingkungan pendidikan di Bandung itu yang paling baik menurut Iyah. Suhu di Bandung juga lebih sejuk dan nyaman, di Bandung juga tidak sepadat dan seramai di Jakarta. Iyah lahir dan dibesarkan di Bandung. Tapi kalau Aa tidak mengizinkan…..”


“Kalau Aa tidak mengizinkan dan ingin kalau kita semua tinggal di Jakarta bagaimana?” tanya Kagendra.


“Kalau Aa tidak mengizinkan, Iyah akan maksa sampai Aa mengizinkan.” jawab Sadiyah sambil melepaskan genggaman tangannya.


Kagendra menarik kembali tangan Sadiyah.


“Aa minta bayarannya.”


“Maksudnya?”


“Izin Aa tidak gratis. Kamu harus bayar.”

__ADS_1


“Iiiih apaan sih. Masa sama istri sendiri pasang tarif.”


“Aa tidak mau tahu. Kamu harus bayar kalau ingin mendapatkan izin Aa.” tegas Kagendra.


“Bayarnya berapa?”


“Ini DP nya dulu.” bibir Kagendra langsung menyergap bibir Sadiyah.


Cukup lama bibir Kagendra dan Sadiyah saling memberi dan menerima hingga Kagendra melepaskan tautan bibirnya.


“Yang barusan DPnya, sekarang pelunasannya.”


Sadiyah mengangguk pelan dengan wajah yang sudah merona.


Tangan Kagendra merangkum wajah Sadiyah. Bibirnya menelusuri setiap sudut dan area dari wajah dan leher Sadiyah. Sekali lagi, bulan dan bintang menjadi saksi dari kebersamaan mereka dalam menghabiskan malam yang hangat.


Setelah menunaikan sholat subuh, Kagendra dan Sadiyah kembali berbaring sambil berpelukan.


“Jadi gimana, A?” tanya Sadiyah dengan tangan yang mengelus-ngelus dada Kagendra.


“Kamu genit.” ucap Kagendra.


“Iiiih apaan sih…ya sudah kalau Aa gak mau Iyah sayang-sayang.” Sadiyah memukul pelan dada Kagendra dan hendak beranjak dari berbaringnya.


Kagendra kembali menarik tangan Sadiyah agar kembali berbaring di sisinya.


“Kita akan tinggal di manapun kamu mau. Kalau kamu maunya kita tinggal di Bandung, maka kita akan tinggal di Bandung. Bagi Aa, dimanapun kita tinggal asalkan kita tinggal bersama, maka Aa akan bahagia.” Kagendra memeluk Sadiyah dengan erat.


“Aa minta bonusnya.”


“Haaa…..Aa….tadi sebelum subuh kan sudah Iyah kasih bonus.” rajuk Sadiyah.


“Bonusnya minta dobel dan sekalian minta cicilan yang nunggak selama enam tahun.” ujar Kagendra sambil terkekeh.


“Aa……”


Dan mereka pun kembali mereguk apa yang memang telah menjadi hak mereka hingga mentari menyembul dari peraduannya.


*******


“Sayang, akhir pekan ini, si Fian sepupunya Aa itu mau menikah. Kita kesana sama anak-anak. Sekalian Aa ambil barang-barang Aa buat pindahan ke sini. Kita juga harus menemui Aki. Sudah sering Aki menghubungi Aa dan meminta kita untuk menemuinya”


“Iya, A. Iyah juga sudah kangen sekali sama Aki. Aki bakalan marah gak ya sama Iyah?”


“Marah kenapa?” tanya Kagendra heran.


“Marah karena Iyah meninggalkan Aa.” ucap Sadiyah lirih.


“Saat itu, Aki marahnya sama Aa. Kamu tidak bersalah, Aa yang bersalah. Sudahlah, kita kan sudah janji kalau kita akan meninggalkan masa lalu di belakang dan tidak akan mengungkit-ungkitnya lagi.”


Sadiyah menganggukkan kepala pelan.

__ADS_1


********


Hari ini, Kagendra dan Sadiyah beserta anak kembar mereka sedang berada di rumah Sadiyah yang di Bandung.


“Ayo, kita cepat berkemas.” seru Kagendra.


“Iya, A. Tapi jangan bawa terlalu banyak ya A, bawa seperlunya saja. Di sini juga baju Aa sudah banyak. Kalau memang perlu, Aa belanja saja disini. Iyah sama anak-anak bawa baju yang agak banyakan ya A. jadi kalau sewaktu-waktu kita main ke sana tidak usah bawa banyak barang. Gimana?”


Kagendra menganggukan kepala tanda setuju.


“Kalau begitu, Aa tidak perlu bawa apa-apa, nanti beli saja di sini. Lagian nanti juga kita pindah dari sini.” ujar Kagendra.


“Maksud Aa apa?” tanya Sadiyah heran.


“Aa adalah pemimpin dalam rumah tangga kita. Aa berkewajiban memberikan sandang, papan dan pangan buat istri dan anak-anak Aa. Salah satu hal yang harus Aa lakukan sebagai pemimpin adalah menyediakan rumah yang nyaman untuk kita tinggali.”


“Tapi kan rumah ini juga rumah kita. Ini bukan lagi rumah Iyah tapi juga rumah kita berempat.”


“Tetap saja, kewajiban Aa untuk menyediakan rumah untuk kita. Aa mohon agar kamu memberikan kesempatan kepada Aa untuk menunaikan kewajiban Aa dengan memberikan apa yang memang kamu dan anak-anak butuhkan.”


Sadiyah menyadari jika ia tetap keukeuh untuk tinggal di rumah yang ia beli sendiri akan melukai ego Kagendra sebagai laki-laki, suami dan juga ayah.


“Rumahnya sudah ada?” tanya Sadiyah hati-hati.


“Besok kita lihat rumah baru kita. Kalau ada barang-barang yang perlu dibeli, kamu jangan segan-segan untuk membuat daftarnya.”


“Aa….”


“Hmmmm….”


Sadiyah sedikit ragu-ragu untuk mengutarakan apa yang ada di pikirannya.


“Kamu mau bicara apa?”


“Iyah minta maaf sama Aa.”


“Maaf untuk apa? Seharusnya juga Aa yang meminta maaf sama kamu.”


“Maaf, karena Aa harus tinggal di kota ini sedangkan pekerjaan Aa ada di kota lain.” ujar Sadiyah menundukkan kepalanya.


“Hei…sayang….” Kagendra menangkup wajah Sadiyah dan mengangkatnya hingga mereka saling menatap.


“Di manapun kamu dan anak-anak berada, di situlah rumah Aa yang sebenarnya. Aa ini sudah biasa sibuk dan pergi bulak balik antar kota bahkan luar negeri dalam hari yang sama. Jarak Jakarta dan Bandung bagi Aa tidaklah jauh.”


Sadiyah mengembangkan senyum di bibirnya.


“I love you, A.” Sadiyah menyentuh tangan Kagendra yang masih menangkup pipinya. Ia bawa tangan Kagendra menuju bibir dan kemudian dengan takzim menciuminya.


“I love you more.” Kagendra mencium kening dan puncak kepala Sadiyah. Rasa bahagia membuncah dalam dadanya. Mereka saling berpelukan dengan erat sampai tak ada lagi jarak diantara mereka.


*************

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2