
“Kakak lagi ngapain?” seorang bocah perempuan berusia sekitar empat tahun menyapa Faras yang sedang duduk di atas pasir. Hari ini, para penculik membiarkan Faras untuk berjalan-jalan di Pantai. Mereka iba juga melihat kondisi Faras yang semakin memburuk, tetapi tidak mampu melakukan hal selain yang diperintahkan kepada mereka. Agar Faras tidak terlalu sedih, para penculik itu membebaskan Faras sejenak untuk sekadar melihat pemandangan air laut yang indah. Mereka menyekap Faras di sebuah pulau terpencil yang disewa oleh Marco. Tidak ada seorang pun selain dari mereka yang menghuni pulau kecil itu.
“Kamu siapa?” tanya Faras pada gadis kecil itu.
“Namaku Chloe. Nama Kakak siapa?”
“Aras,” jawab Faras. Melihat Chloe membuat Faras teringat saudara kembarnya. Sepeninggal Faris, tidak ada anak-anak sebayanya yang bisa diajak berkomunikasi. Selama disekap, hanya ada orang-orang dewasa di sekitar Faras. Kehadiran Chloe membuat Faras sedikit tenang.
“Kakak sedang apa di sini?” tanya Chloe.
“Kamu sendiri sedang apa di sini?” balas Faras menjawab pertanyaan Chloe dengan pertanyaan.
“Chloe sedang liburan sama mommy. Mommy bilang, Chloe bisa main-main di pantai. Chloe suka sama pantai. Kakak juga suka pantai?”
“Hm,” jawab Faras singkat.
“Kita main pasir, yuk!” ajak Chloe. Ia menyimpan boneka yang sedari tadi dipegangnya di atas pasir, lalu mulai membentuk sesuatu dari pasir pantai.
Faras merespon ajakan Chloe. Ia mulai menggali pasir dengan tangan munggilnya.
“Kita buat istana. Chloe suka istana. Kakak Aras mau buatin istana buat Chloe?”
“Hm,” jawab Faras sambil mengangguk.
__ADS_1
“Asyiiik…” Chloe berjingkrang-jingkrak senang mendengar jawaban Faras.
“Chloe sayang sama Kakak Aras,” seru Chloe sumringah.
“Chloe!” panggil Natasha.
“Mommy…” Chloe menghambur memeluk Natasha. “Mommy, Chloe lagi main sama Kakak Aras. Kakak Aras mau buatin istana buat Chloe.”
“Faras, ayo ikut Tante kembali ke rumah! Di sini sudah mulai terik. Tante sudah buatkan pudding buat kamu.”
Faras mengabaikan perkataan Natasha, ia terus mengeruk pasir membuat lubang yang cukup besar. Entah apa yang akan dibuat Faras. Mungkin ia ingin membuat kolam pasir.
“Faras!” panggil Natasha dengan nada suara meninggi. Ia merasa kesal karena diabaikan.
“Jangan berani mengabaikanku. Kamu harus melakukan semua perintahku. Mengerti?”
Faras diam, tak sepatah kata pun keluar dari mulut kecilnya. Diamnya Faras semakin membuat Natasha marah. Ia mencengkram pergelangan tangan Faras dengan kuat hingga kulit tangan Faras memerah dan tubuh kecilnya sedikit terangkat.
“Jawab aku! Jangan pernah mengabaikanku lagi,” teriak Natasha histeris. Teriakan Natasha membuat Chloe kaget hingga akhirnya menangis karena ketakutan.
“Bawa Chloe ke kamarnya!” perintah Natasha pada pengasuh Chloe. Matanya kembali menatap Faras. Ada sorot mata tajam milik Kagendra dalam bola mata Faras. “Jangan menatapku seperti itu, berengsek!” Natasha melepaskan cengkramannya dan mendorong Faras hingga jatuh terjengkang.
“Kamu jahat, Kagendra. Kenapa kamu meninggalkanku? Aku sangat mencintaimu tapi kamu meninggalkanku. Kamu jahat.” Natasha meraung sambil memukul-mukul dada dan kepalanya.
__ADS_1
Faras menatap Natasha yang berteriak-teriak histeris. Ia bingung dengan sikap wanita dewasa yang meraung-raung sambil menyebut-nyebut nama ayahnya.
Marco tergopoh-gopoh menghampiri Natasha yang masih meraung-raung. “Babe, kenapa kamu seperti ini lagi? Sudah kukatakan agar tidak berbicara dengan anak itu. Kenapa kau tidak mendengarku?”
“Aku ingin Kagendra. I need him, I want him. Kamu tidak akan pernah mengerti apa yang kurasakan. I love him. Aku menginginkannya. I can’t live without him.”
“Jangan gila, Natasha. Hentikan semua ini. Stop it!” Marco merasa jika perbuatan mereka sudah melampaui batas kemanusiaan. Ia menyadari bahwa cinta yang dipaksakan tidak akan pernah berjalan dengan baik. Ia memang jatuh cinta pada Sadiyah, tetapi ia tidak ingin menjadi orang yang jahat. Melihat kegilaan Natasha membuka hati Marco bahwa cinta yang berlebihan akan membuat seseorang menjadi tidak waras dan hilang akal. Kecintaan Natasha pada Kagendra sudah sangat tidak sehat. Ia melihat bagaimana Natasha selalu histeris setiap kali melihat Faras yang ia anggap sebagai jelmaan dari Kagendra. Kemiripan Faras dengan Kagendra membuat Natasha semakin hilang kewarasan.
Marco memerintahkan anak buahnya untuk membawa Faras masuk ke dalam rumah. Ia tidak ingin anak itu mendengar ocehan perempuan tidak waras.
“Jangan coba-coba menghentikanku, Marco. Kita sudah sepakat. Aku akan mendapatkan Kagendra dan kau akan mendapatkan perempuan berengsek itu.”
“Jangan menyebut Sadiyah dengan sebutan berengsek! Dia adalah wanita yang kucintai. Aku akan membuat hidupmu menderita jika kau berani menyakiti wanitaku,” ancam Marco.
“Ha-ha-ha, dia belum jadi wanitamu. Kalau kau mengkhianati perjanjian kita, kau tidak akan pernah mendapatkan wanita yang kau inginkan. Jadi, jangan coba-coba jadi pengkhianat kalau kau ingin mendapatkan dia.” Natasha balik mengancam Marco.
“Dasar gila!”
“Ya. Aku memang gila. Gila karena aku terlalu mencintai Kagendra. Sebelum perempuan itu datang, Kagendra adalah milikku. Dia yang merebutnya dariku. Aku tidak salah kalau aku mengambil kembali apa yang kumiliki sebelumnya.” Natasha berlalu sambil berteriak-teriak mengumandangkan nama Kagendra.
***********
to be continued....
__ADS_1