Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
89. Bahagia


__ADS_3

“Aras…Aris…mau makan di mana? Di sini atau di restoran?” tanya Kagendra.


“Memangnya boleh makan di kamarnya Om?” tanya Faris.


“Boleh saja tapi jenis makanannya tidak terlalu banyak. Kita bisa pesan lewat telepon. Kalau mau makan di luar hotel, kita bisa pergi ke restoran yang Aras dan Aris mau. Bagaimana?”


“Boleh tidak kalau kita makannya di sini saja? Tadi Aras lihat kolam renang di sini. Boleh tidak kalau kita berenang di sini? Soalnya Aras belum pernah berenang di kolam renang.”


“Boleh saja. Jadi kita makannya di restoran hotel saja ya? Setelah makan siang kalian bisa berenang. Kalian bawa tidak celana untuk berenangnya?”


“Memang tidak boleh ya kalau berenangnya pakai celana ini saja seperti kalau kita berenang di sungai?” tanya Faras.


“Nanti kalau celananya basah karena dipakai berenang, pulangnya Aras dan Aris pakai celana yang mana? Masa pakai celana yang basah.” kata Kagendra mengingatkan.


“Yaaah, kita tidak jadi deh berenang di kolam renang. Besok kita berenangnya di sungai saja deh kalau begitu.” ujar Faris bernada kecewa.


“Kalau kalian mau berenang di sini, Om belikan celana renangnya. Mau?”


“Mau……” teriak Faras dan Faris girang.


“Kamu Tuti kan?” tanya Kagendra pada Tuti yang sedari tadi hanya menonton saja percakapan antara Kagendra, Faras dan Faris.


“Iya, Om.”


“Kamu lapar juga? Tidak apa-apa kalau makan siangnya di restoran hotel saja? Soalnya Faras dan Faris maunya berenang di sini. Nanti lain kali saya ajak Aras, Aris dan kamu makan di restoran.” tawar Kagendra.


“Mau…mau…mau Om.” seru Tuti yang kadar kegirangannya sama dengan Faras dan Faris.


Tuti tidak pernah menyangka kalau Kagendra akan menyapa dan bahkan berjanji untuk mengajaknya makan di restoran walaupun harus bersama Faras dan Faris. Tentu saja Tuti menyadarinya jika Kagendra tidak akan mengajak dirinya jika bukan karena Faras dan Faris.


Setelah selesai makan siang dan puas bermain di kolam renang. Kagendra mengantar Faras, Faris dan Tuti pulang. Mereka semuanya berada dalam satu mobil yang dikendarai oleh Rudi. Tuti duduk di kursi penumpang depan sedangkan Kagendra, Faras dan Faris duduk di kursi penumpang bagian belakang.


Karena kelelahan setelah bermain di kolam renang, Faras dan Faris tertidur di pangkuan Kagendra. Kepala Faras terletak di paha kanan Kagendra sedangkan kepala Faris berada di paha sebelah kirinya.


Tuti juga sudah tertidur dengan kepalanya menempel ke kaca mobil  di sampingnya.


Rudi yang melihat Faras dan Faris tertidur di pangkuan Kagendra merasa terharu. Ia melihat pancaran bahagia dari wajah Kagendra. Sejak bertemu dengan Faras dan Faris, Rudi sering melihat Kagendra tersenyum dan tertawa, hal yang sangat jarang Kagendra lakukan selama enam tahun terakhir ini.


“Bos bahagia?” tanya Rudi.


“Hmmm….”


“Aneh ya Bos. Kok bisa Bos langsung dekat seperti ini dengan Aras dan Aris. Padahal kalian baru saja bertemu. Bos juga merasa aneh tidak?”

__ADS_1


Kagendra terdiam mendengar pertanyaan dari Rudi karena Ia bingung harus menjawab apa.


“Sepertinya Bos, Aras dan Aris memiliki bonding. Tapi saya juga tidak tahu sih bonding semacam apa. Hanya saja kalau saya melihat Aras, saya seperti melihat miniatur Bos.” Rudi tertawa terbahak setelah menyampaikan pendapatnya mengenai kemiripan antara Kagendra dan Aras.


“Maksud kamu apa dengan menyebut Aras itu miniatur saya?” sebenarnya Kagendra kaget dengan pernyataan dari Rudi. Ternyata Rudi juga menyadari kesamaan antara dirinya dengan Aras.


“Maksud saya, Aras itu versi mininya Bos. Sikap dan kelakuan dia mirip sekali sama Bos. Mungkin itu yang membuat Bos menyukai Aras dan Aris.” tebak Rudi.


”Jadi maksud kamu, Aras itu sikapnya galak dan ketus seperti saya?” bentak Kagendra.


“Bukan saya loh yang bilang kalau Bos itu galak dan ketus.” Rudi terkikik.


“Kamu tahu tidak apa yang kamu pikirkan sama dengan apa yang saya pikirkan.” Rudi menghentikan kikikannya setelah mendengar Kagendra berkata dengan nada yang serius.


“Kamu dengar tidak apa yang Ibunya Aras dan Aris bilang untuk membedakan mereka. Ibu mereka bilang kalau mata Aras itu tajam sedangkan mata Aris hangat. Kamu percaya kalau mereka bisa dibedakan dari tatapan mata?”


Rudi tidak bisa menjawab pertanyaan dari Kagendra sehingga ia hanya bisa terdiam membisu.


“Setelah saya menatap wajah dan mata mereka, ternyata saya juga bisa membedakan mereka dengan tepat. Apa yang Ibu mereka katakan itu benar. Tatapan Aras itu tajam dan tatapan Aris itu hangat. Kamu tahu tidak tatapan hangatnya Aris itu seperti siapa?”


“Tidak Bos.”


“Cara Aris menatap saya itu mirip seperti cara Sadiyah menatap saya.” jawab Kagendra dengan suara yang hampir tercekat.


“Bos…..”


“Itu karena Bos terlalu merindukan istrinya Bos.”


“Sepertinya begitu.” ucap Kagendra sambil menghela nafas dengan berat. Ia menatap Faras dan Faris yang sedang tertidur nyenyak di pangkuannya.


Saat ini kerinduan Kagendra pada Sadiyah kembali menyeruak. Ia benar-benar ingin bertemu dengan Sadiyah. Entah sudah berapa sering ia meminta kepada Yang Kuasa agar dipertemukan dengan Sadiyah. Tapi sepertinya Sang Penguasa Bumi dan Manusia ini sedang menghukum dirinya yang sudah sangat bersalah karena menyakiti istrinya sendiri.


“Ini sepertinya kita sudah mau sampai. Tapi saya tidak tahu dimana rumahnya Aras dan Aris.”


“Bangunkan itu si Tuti.” perintah Kagendra.


“Tuti…bangun…” Rudi menggoyang-goyangkan lengan Tuti dengan sedikit keras.


“Eh, sudah sampai ya, Om?” Tuti terbangun dari tidurnya dan tampak seperti orang yang linglung karena dipaksa bangun.


“Ini arah rumah kalian ke mana?” tanya Rudi.


Setelah kesadarannya sudah terkumpul, Tuti memberikan arahan untuk sampai ke rumah mereka kepada Rudi yang sedang menyetir.

__ADS_1


Tidak berapa lama kemudian, Rudi sudah memarkirkan mobil di depan rumah Faras dan Faris.


Kagendra membangunkan Faras dan Faris dengan lembut. Setelah beberapa kali menggoyangkan badan Faras dan Faris, akhirnya anak kembar itu pun terbangun sambil mengucek-ngucek mata mareka.


“Mau Om gendong sampai ke rumah?” tawar Kagendra.


“Tidak usah, Om. Kita bisa jalan kok.” tolak Faras.


“Ya sudah. Setelah sampai di dalam rumah, ganti pakaian kalian, cuci kaki dan tangan, jangan lupa sikat gigi dan langsung tidur ya.”


“Iya, Om.” jawab Faras dan Faris kompak.


“Kita pulang dulu ya, Om.” Pamit Faris.


“Terima kasih karena mau bermain dengan Aras dan Aris.” ucap Faras berterima kasih.


Faras dan Faris bergantian meraih tangan kanan Kagendra dan mencium punggung tangan kanannya.


“Dadah, Om.” Faras dan Faris berlarian masuk ke dalam rumah mereka.


Sedangkan Kagendra masih tertegun setelah Faras dan Faris mencium punggung tangannya.


“Bos, ini kita langsung balik ke hotel atau bagaimana?” tanya Rudi.


Kagendra masih terdiam dan menyentuh punggung tangan yang tadi dicium Faras dan Faris dengan tangan kirinya. Senyuman mengembang di bibirnya dan hal itu tidak luput dari penglihatan Rudi.


“Bos bahagia?”


“Hmmm….” senyuman tidak lepas dari bibir Kagendra.


******


“Aras, kita lupa lagi menanyakan namanya Om.” sesal Faris yang lupa untuk menanyakan nama pada Kagendra.


“Besok saja kalau kita bertemu lagi dengan Om, kita tanyakan namanya.”


“Memangnya besok kita bisa bertemu lagi dengan Om?”


“Kita pergi saja ke tempat syuting. Pasti ada Om.”


“Ya sudah, besok kita cari Om lagi.”


Faras dan Faris pun tertidur dengan cepat setelah lelah bermain seharian bersama dengan Kagendra.

__ADS_1


******


to be continued...


__ADS_2