
“Teteh….” Atep mendekati dan memeluk Sadiyah. “Jangan takut, Teh. Ada Atep.”
“Teteh takut, Tep. Apa yang Teteh takutkan terjadi juga. Aras dan Aris…Aras dan Aris…Teteh kangen sama mereka. Teteh takut kalau tidak bisa bertemu lagi dengan mereka.”
“Teteh jangan takut. Kita berdoa semoga Aras dan Aris segera ditemukan. A Endra juga tidak tinggal diam. Setiap hari Aa mencari Aras dan Aris.”
“Andai saja Teteh tidak bertemu lagi dengan dia. Andai saja Teteh tidak berbaikan dengan dia, Aras dan Aris tidak akan diculik. Kami akan hidup tenang bertiga tanpa dia. Teteh menyesal kembali lagi pada dia,” kata Sadiyah terbata-bata karena menangis.
“Teteh tidak boleh bicara seperti itu. Atep melihat kebahagian ketika Teteh bersama dengan A Endra.”
“Aku benci sama dia. Dia yang membuat semuanya menjadi kacau. Dari awal pertemuan Teteh dengan dia, tidak ada hal baik yang terjadi. Dia selalu membuat Teteh sakit. Dulu dia menyakiti Teteh karena lebih memilih untuk bersama dengan perempuan itu. Sekarang dia juga yang menyebabkan Aras dan Aris diculik. Karena perempuan itu terobsesi dengan dia makanya Aras dan Aris jadi korban.”
“Teh, Aa juga menderita seperti Teteh. Sekarang Aa sedang berusaha mencari Aras dan Aris.” Alena menghampiri dan memeluk Sadiyah.
“Lepas!” teriak Sadiyah mengagetkan Atep dan Alena. “Kakak kamu penyebab semuanya. Aku benci dia.” Sadiyah meronta melepaskan diri dari pelukan Alena.
Atep memberi isyarat pada Alena untuk melepaskan pelukannya dan keluar.
Alena meninggalkan Atep dan Sadiyah berdua di kamar. Sadiyah kembali menangis. Atep memeluk mencoba untuk meredakan tangisannya.
Setelah beberapa saat, Sadiyah kembali tenang.
“Teteh istirahat dulu. Atep tunggu di luar. Kalau Teteh membutuhkan Atep, panggil saja.”
Sadiyah mengangguk pelan.
Atep membetulkan letak selimut dan meninggalkan Sadiyah yang sudah tampak tenang lalu ia tertidur karena kelelahan menangis.
“Bagaimana, Tep?” tanya Alena setelah Atep menutup pintu kamar.
“Untuk sementara, kamu jangan menemui Teh Iyah dulu. Aku khawatir kehadiran kamu akan memicu kemarahan Teh Iyah.”
Alena mulai menangis. “Kenapa jadi begini? Aku gak ngerti kenapa Teh Iyah sampai menyalahkan Aa? Apa dia tidak sadar kalau Aa juga sedih seperti halnya dia?” Alena terduduk di lantai. Ia sangat kecewa dengan sikap Sadiyah.
__ADS_1
“Teh Iyah sedang depresi, Len. Kita harus memaklumi keadaanya sekarang. Dia baru saja melahirkan lalu mengetahui kabar Aras dan Aris diculik.”
“Kasihan mereka. Ayahnya belum kasih nama, Ibunya tidak mau menyusui mereka.”
“Kenapa A Endra belum memberikan nama? Apa sudah ada nama yang disebutkan? Kalau sudah ada bisa kita adakan aqiqah buat mereka.”
“A Endra pernah bilang namanya Upin dan Ipin. Masa nama mereka Upin dan Ipin?” cebik Alena.
“Coba kamu tanyakan namanya pada A Endra. Bilang sama dia kalau kita yang akan melaksanakan aqiqah buat mereka.”
Alena mencoba menghubungi kakaknya.
“Bagaimana?”
“Tidak diangkat.”
“Coba kamu kirim pesan teks saja.”
“Apa jawabannya?” tanyaku.
“Aa sedang dalam perjalanan pulang dari kantor polisi. Aris sudah bersama dengan Aa,” ungkap Alena sedikit lega.
“Aras?”
“Aras masih berada di tangan para penculik.”
“Kata Aa, untuk sementara baru terpikir nama Ardana dan Arkana.”
“Memangnya mereka tidak menyiapkan nama?”
“Gak tahu.”
“Ya sudah untuk sementara namanya Ardana dan Arkana,” kata Atep.
__ADS_1
“Ardana Putra Nataprawira dan Arkana Putra Nataprawira,” usul Alena.
“Mirip nama Aras dan Aris. Hanya tambah Putra dan nama keluarga.”
Mendengar nama Aras dan Aris membuat raut wajah Alena kembali sedih. Air mata keluar mengaliri pipinya.
“Bagaimana keadaan Aras sekarang? Dia pasti ketakutan. Jahat sekali orang yang menculik mereka.”
“Kita doakan yang terbaik buat Aras. A Endra juga sedang mengerahkan timnya untuk mencari Aras. Tapi aku heran kenapa A Endra gak lapor polisi saja untuk membantu mencari Aras,” kata Atep.
“A Endra tidak mau.”
“Harusnya lapor polisi saja yang lebih professional.”
“Tim A Endra sama profesionalnya dengan polisi.”
“A Endra juga sudah minta bantuan sepupu kami. Dia seorang polisi dan berjanji mau membantu. Hanya saja sekarang juga dia lagi ada misi. Jadi belum bisa bantu banyak.”
Ya mudah-mudahan sepupu kamu bisa bantu.”
“Hm…”
“Jadi kapan acara aqiqah buat Ardana dan Arkana?”
“Dua hari lagi. Pas empat belas hari kelahiran mereka.”
“Kamu sudah menyiapkan segalanya?”
“Tidak usah mewah. Yang penting rasa syukur kita sama Tuhan lalu kita bagi kebahagian kita dengan orang banyak. Walaupun sekarang kita sedang mendapatkan musibah.”
********
to be continued...
__ADS_1