
Hari Jum’at sore, Sadiyah baru saja sampai di rumahnya yang munggil setelah seharian berkutat dengan proyek barunya dalam mengolah hasil dari pertanian yang dihasilkan oleh perkebunan milik keluarganya.
Sadiyah melihat nama bibinya memanggil di ponselnya.
“Halo, assalamu’alaikum bi Ita.” Sadiyah memberikan salam pada bibinya yang menelpon.
“Wa’alaikumsalam. Neng, ada dimana? Kenapa sudah jam segini belum nyampe ke sini?” tanya Rostita khawatir
“Ini baru pulang dari tempat kerja Bi. Insya Allah, besok pagi Iyah pulang.” Jawab Sadiyah.
“Iya, takutnya kamu gak pulang Neng. Soalnya ada sesuatu hal yang penting yang harus Bi Ita bicarakan sama kamu.” Ujar Rostita.
“Insya Allah, besok pagi Iyah berangkat dari sini. Tadinya mau sore ini, tapi tadi Iyah keenakan ngerjain proyeknya jadi gak kerasa aja udah mau magrib baru selesai.” Jawab Sadiyah memberikan alasan kenapa dia tidak pulang Jum’at sore seperti biasanya.
“Ya sudah, besok hati-hati kamu bawa motornya. Jangan kebut-kebutan.” Rostita mengingatkan keponakannya.
“Siapa yang suka kebut-kebutan atuh Bi. Iyah mah kalau bawa motor ya biasa aja pelan-pelan.” Sahut Sadiyah membela diri.
“Lah itu, minggu kemarin kamu datang dengan luka dimana-mana karena jatuh dari motor.” Ujar Rostita kesal sekaligus merasa khawatir dengan keponakannya.
“Itu kan karena Iyah ngehindar kucing yang nyebrang tiba-tiba, jadinya Iyah jatuh.” Ungkap Sadiyah membela diri.
“Ya pokonya mah kamu harus hati-hati, jangan sampai celaka lagi.” Ujar Rostita mengingatkan.
“Iya Bibiku tersayang….assalamu’alaikum.” Sadiyah segera menutup teleponnya setelah mengucapkan salam kepada bibinya.
*******************
“Assalamu’alaikum biiiiiiii…..” Sadiyah langsung menerobos masuk ke dalam rumah sambil berteriak-teriak memanggil bibinya.
“Bi….Bi Ita dimana?......” teriak Sadiyah lagi.
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Rostita.
Sadiyah segera mencium punggung tangan Rostita ketika menemukan bibinya yang baru keluar dari kamar tidurnya.
“Bi, ada makanan gak? Iyah laper nih, belum sempat sarapan tadi.” Baru saja sampai rumah, Sadiyah sudah meminta makan pada bibinya.
“Duuuh ini dasar anak gadis yah, baru juga datang sudah teriak-teriak minta makan.” Ujar Rostita sambil mencubit pipi Sadiyah.
“Laper pisan, Bi.” Sahut Sadiyah.
“Tuh ada goreng singkong sama goreng pisang di meja makan. Tadi ada yang ngirim ke sini.” Ujar Rostita sambil menunjuk ke arah meja makan dengan dagunya.
Langsung saja, Sadiyah melesat ke meja makan dan menghabiskan singkong dan pisang goreng yang masih tersisa.
“Dasar anak gadis makannya meuni rewog (Makannya lahap sekali).” Ujar Rostita.
Setelah menghabiskan sisa singkong dan pisang gorengnya, Sadiyah menghabiskan satu teko teh tawar hangat. Rostita hanya bisa beristighfar melihat kelakukan minus keponakannya itu.
Setelah menyimpan piring dan gelas kosong ke dapur, Sadiyah mengikuti bibinya ke ruang keluarga dan duduk di sofa di depan bibinya duduk.
“Ada apa, Bi? Serius pisan.” tanya Sadiyah
“Nanti tunggu Amang (paman) kamu kembali dulu ya. Tadi Amang kamu pergi ke rumah pak RT, katanya ada perlu dulu.” Jawab Rostita.
“Ada apa Mang Awan pergi ke rumah Pak RT, Bi?” tanya Sadiyah curiga karena biasanya pa RT lah yang selalu berkunjung ke rumahnya.
“Mau ngurusin sesuatu.” Jawab Rostita singkat.
Setelah beberapa saat, Darmawan, suami dari Rostita pulang setelah berkunjung ke rumah Pak RT.
“Assalamu’alaikum” Darmawan memberi salam sebelum masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam” jawab Sadiyah dan Rostita kompak.
“Sudah selesai urusannya, Bah?” tanya Rostita pada suaminya.
“Sudah, Mbu.” Jawab Darmawan.
“Neng, ada yang mau Amang bicarakan sama Eneng. Amang harap, Neng Iyah menanggapinya dengan kepala yang dingin dan hati yang tenang.” Darmawan mulai menjelaskan sesuatu hal yang penting itu pada Sadiyah.
“Ada apa, Mang. Apa kita dililit hutang banyak? Apa kita harus menjual tanah dan rumah kita? Bagaimana dengan para pekerja?” Sadiyah menanyakan beberapa pertanyaan langsung saking khawatirnya.
“Bukan itu Neng. Alhamdulillah, tanah dan rumah kita baik-baik saja, para pekerja juga sudah nambah karena semakin banyak dan luas tanah yang harus kita garap.” Jawab Darmawan menenangkan Sadiyah.
“Kalau begitu, ada apa Mang?” tanya Sadiyah.
“Iyah, dengarkan baik-baik apa yang akan dikatakan oleh Amang kamu ya.” Ujar Rostita sambil mengelus puncak kepala Sadiyah yang ditutupi oleh jilbab.
Sadiyah menganggukkan kepalanya.
“Begini Neng. Satu minggu yang lalu, sahabat lama Aki kamu datang menemui kami. Pak Musa namanya. Pak Musa ini datang menemui kami untuk melaksanakan janji yang diikrarkan oleh beliau dan Aki sewaktu mereka masih muda. Janji mereka itu….” Darmawan menggantungkan kalimatnya.
“Janji apa, Mang?” tanya Sadiyah tak sabar.
“Mereka berjanji untuk menjadi besan dengan menikahkan anak-anak mereka.” Jawab Darmawan.
“Lah, Ayah kan sudah meninggal, sudah menikah juga dengan ibu. Bibi juga sudah menikah dengan Amang kan. Gak mungkin kan Amang menceraikan Bi Ita?” tanya Sadiyah sedikit heran dengan keadaan yang tak dimasuk akal ini.
“Ya gak mungkin atuh Neng, masa Bi Ita yang mau dinikahkan dengan anak beliau. Yang pasti anak-anak beliau juga sudah menikah semua.” Sahut Rostita berusaha menjelaskan untuk meluruskan keanehan pikiran Sadiyah.
“Jadi siapa yang mau dinikahkan?” tanya Sadiyah semakin heran.
******************
__ADS_1