Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
175. Ayah dan Anak


__ADS_3

Kagendra dan Faras sudah berada di bibir pantai. Mereka berdua menatap ombak laut yang saling berkejaran. Kagendra belum melepaskan pegangan tangannya pada tangan Faras.


“Aras,” panggil Kagendra pelan. “Maaf, Ayah sangat terlambat menemukan Aras.”


Hati Kagendra terasa sangat pedih membayangkan peristiwa mengerikan yang terjadi pada putranya. Ia kembali teringat pada kejadian puluhan tahun yang lalu saat kejadian yang sama terjadi pada dirinya. Saat itu, ia merasa sangat ketakutan, tetapi tidak mampu melakukan apapun untuk mencegah rasa takut itu menggerogoti dirinya.


“Aras, dulu Ayah pun pernah mengalami kejadian menakutkan seperti yang terjadi pada Aras sekarang. Ayah merasa sangat takut dan ingin menghilang, pergi dari semua orang. Saking takutnya, dulu Ayah berpikir bahwa tidak ada seorang pun yang bisa Ayah percayai. Ayah mengira semua orang akan menyakiti Ayah sampai-sampai Ayah tidak ingin bertemu dengan siapa pun termasuk aki dan nenek.”


Kagendra melihat Faras masih terdiam dan tidak memberikan reaksi apapun selain diam. Kemudian ia duduk di atas pasir dan mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi tubuh Faras.


Kagendra terus bicara tanpa memandang ke arah Faras, tapi ke arah lautan.


“Ayah cuma mau mengatakan kalau ternyata Ayah dulu salah berpikir semua orang tidak bisa dipercaya. Saat itu, aki, nenek, dan saudara-saudara Ayah sangat sayang sama Ayah. Ayah, ibu, aki, nenek, tante Lena, mang Atep, dan Aris, semuanya sayang sama Aras. Dua adik baru Aras juga gak sabar ingin ketemu sama Aras. Nama adik-adik barunya, Ardan dan Arkan. Aras gak sabar juga kan ketemu dan bermain bersama mereka?”


Faras mengetatkan pegangan tangan munggilnya di tangan Kagendra. “Ayah,” panggilnya.


“Ya?”


“Laki-laki tidak boleh menangis, kan?” tanya Faras lirih.


“Tidak begitu. Kalau kita sangat sedih, kita boleh menangis. Ayah pun pernah menangis. Saat Ayah tinggal berjauhan dari ibu, Aras, dan Aris, Ayah menangis.”

__ADS_1


Deru ombak mengisi keheningan di antara mereka.


“Aras ingin menangis?” tanya Kagendra hati-hati. “Aras boleh menangis. Tidak akan ada yang mendengar Aras menangis di sini karena suara ombak laut akan mengalahkan suara tangisan Aras.”


“Ayah!” Faras memeluk erat Kagendra. Ia tumpahkan seluruh air mata yang tertahan di dada ayahnya. Seluruh tubuh Faras bergetar dalam pelukan Kagendra.


Kagendra mengelus kepala dan punggung Faras bergantian, mencoba memberikan kekuatan lewat sentuhan lembut tangannya.


30 menit Faras menangis dalam dekapan Kagendra hingga ia tertidur karena kelelahan, lelah raga dan jiwa. Kagendra menggendong Faras ke dermaga, dimana mereka akan menaiki speedboat untuk kembali ke lokasi helipad berada.


Sadiyah resah menunggu Kagendra dan Faras yang belum kembali sejak 30 menit yang lalu. Dari kejauhan, ia melihat Faras tertidur dalam gendongan Kagendra. “Bagaimana Aras, A?”


Sadiyah mengangguk.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Kagendra menanyakan keadaan Sadiyah. “Gak ada luka? Tadi orang-orangnya Natasha berlaku kasar sama kamu?”


“Gak, A. Atep aja yang kena pukul mereka.”


“Tangan kamu gak apa-apa?” Kagendra ingat anak buah Natasha menyeret Sadiyah dengan kasar.


“Gak apa-apa, A.”

__ADS_1


“Coba lihat pergelangan tangan kamu,” Kagendra menarik tangan Sadiyah dan melihat ada luka kecil di sana.


Kagendra menghubungi salah satu anak buahnya dan memerintakan mereka untuk memberikan pelajaran kepada anak buah Natasha yang menangkap dan menyeret-nyeret Sadiyah.


“Sudahlah, A. Mereka kan hanya menjalankan perintah saja. Kasihan mereka kalau sampai lumpuh dan tidak bisa bekerja lagi untuk menafkahi keluarganya.”


Kagendra diam, tidak membalas perkataan Sadiyah, tetapi tatapan tajamnya membuat Sadiyah merinding dan menyadari bahwa suaminya bisa sangat kejam jika orang -orang yang dicintainya tersakiti.


“Sudah, Teh. Jangan membela para penjahat itu. Aa akan lebih sadis kalau Teteh ngebela penjahat itu,” kata Alena.


“Atep gimana? Gak apa-apa?” tanya Sadiyah khawatir dengan keadaan adik angkatnya itu.


“Cuma memar saja, Teh. Biasalah, anak laki-laki mah memar-memar dikit. Iya kan, Tep?”


Atep hanya bisa meringis mendengar ocehan Alena.


“Sampai rumah, aku obatin luka kamu,” bisik Alena menenangkan.


********


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2