Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
156. Mengurus Bersama


__ADS_3

Alena berada di kamar bayi. Tadi pagi, bayi kembar adik-adiknya Faras dan Faris sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Sekarang, ia sedang benar-benar kewalahan dengan dua bayi kembar yang kompak menangis.


“Ateep….”


“Berisik, Len. Kalau kamu teriak-teriak begini, pantas saja mereka menangis. Mereka terganggu dengan suara cempreng kamu.”


“Kamu darimana? Aku panggil-panggil kenapa tidak bergegas ke sini? Kalau aku teriak-teriak panggil kamu itu artinya situasi di sini urgent.”


“Aku lagi bikin susu buat mereka, Len. Mereka nangis karena mereka lapar,” jelas Atep.


“Kok kamu bisa tahu mereka menangis karena lapar?”


“Aku bantu Teh Iyah mengurus Aras dan Aris Ketika mereka masih bayi, jadi aku tahu arti dari tangisan bayi yang lapar.” Atep mengukur suhu air susu ke dalam alat pengukurnya. Dengan keadaan Sadiyah yang sedang terpuruk dan tidak memungkinkan untuk memompa ASInya, terpaksa bayi kembar yang baru lahir dan keluar dari inkubator itu minum susu formula. Persediaan ASI sudah dua hari lalu habis.


“Aras, Aris…kalian di mana? Tante kangen sama kalian.” Kembali air mata menggenang di pelupuk mata Alena. Ia benar-benar mengkhawatirkan para keponakannya, baik yang masih di tangan penculik maupun para bayi kembar yang belum mendapatkan kehangatan pelukan ibu.


“Sabar, Len. Kakak kamu dan timnya sedang berusaha mencari Aras dan Aris.  Sekarang kamu fokus saja sama si kembar ini, kembar yang belum punya nama.” Atep juga terlihat sedih. Ia pun sangat menyayangi Faras dan Faris. Ia mengenal mereka sejak bayi dan ikut membantu mengurus mereka. Rasa sedihnya pasti sama dengan rasa sedih Alena, tante kandung mereka.


“Seperti yang sudah A Endra bilang. Kita panggil saja si kembar dengan Upin dan Ipin. Yang lebih gembil ini, kita panggil Upin dan yang ini panggilannya Ipin,” ucap Alena asal. Ia benar-benar tidak mampu memikirkan nama panggilan untuk dua keponakan barunya.


“Upin.” Alena menciumi salah satu bayi kembar dengan pipi yang lebih gembil.


“Ipin.” Ia mencium juga bayi yang ukurannya lebih kecil. Menurut dokter, tubuh Ipin lebih kecil karena sewaktu dalam kandungan, masukan oksigennya lebih lama sampai ke otak.


“Kenapa bisa mereka kembar tapi kemampuan mereka berbeda dalam menyerap oksigen?” Alena penasaran dengan alasan yang diungkapkan oleh dokter ketika bertanya kenapa ukuran mereka bisa berbeda.


“Dulu juga Aras dan Aris, ukuran tubuhnya berbeda,” ungkap Atep.


“Siapa yang lebih besar? Pasti Aras, kan?”


“Kok kamu bisa tahu?” tanya Atep heran dengan tebakan Alena.


“Terlihat dari kelakuan Aras yang lebih menyebalkan,” ucap Alena berusaha untuk tersenyum. Ia teringat dengan berbagai kelakuan Faras yang sering membuatnya pusing tapi sekarang, ia benar-benar merindukan kejahilan Faras, juga sikap dinginnya. Ia juga rindu dengan keramahan Aris dan sikap bersahabatnya.


“Aras lebih besar ukurannya ketika bayi. Aras juga tumbuh lebih kuat dan kerap menjadi pelindung Aris. Kalau ada yang menjahili dan mengejek mereka karena dulu mereka tidak punya ayah, Aras yang akan menghadapi anak-anak yang mengejek mereka. Sering juga Aras berkelahi dengan anak-anak yang lebih besar dari mereka.” Penjelasan Atep membuat Alena semakin merindukan duo kembar kesayangannya.


Oaa….oaa…


Setelah menghabiskan satu botol susu formula, Upin dan Ipin kembali menangis.

__ADS_1


“Sepertinya mereka belum kenyang. Aku buatkan lagi susu buat mereka. Kamu gendong mereka dulu!” perintah Atep.


“Tunggu, Tep. Kamu saja yang gendong mereka dan aku yang membuatkan susu buat mereka.”


“Memangnya kamu bisa?” tanya Atep dengan nada mengejek seakan Alena tidak bisa membuatkan susu untuk keponakan kembarnya.


“Belum pernah coba buat sih. Tapi aku pasti bisa kalau kamu ajarin aku.”


“Sekarang bukan waktunya belajar. Kamu tidak lihat mereka sudah menangis kejer seperti itu?”


“Tapi aku gak bisa gendong mereka bersamaan. Aku gak berani, takut mereka jatuh.”


Kemudian Atep mengambil Upin dari atas Kasur dan meletakkannya di lengan kanan Alena.


“Pegang yang benar.”


Lalu Atep menggendong Upin yang masih menangis keras dan meletakkannya di lengan kiri Alena.


“Nah, sudah. Goyangkan badan kamu pelan-pelan ke kanan dan ke kiri.”


“Kamu tunggu sebentar. Aku buatkan susu buat mereka.” Atep segera bergegas membuatkan susu untuk keponakan kembarnya.


Beruntung Atep sudah membawa termos berisi air panas dan botol-botol susu ke kamar bayi sehingga Alena tidak ditinggalkan sendirian.


“Kamu gendong Upin, aku yang gendong Ipin.”


Atep dan Alena terlihat seperti orangtua yang baru memiliki anak. Mereka bekerja sama untuk memberi yang terbaik untuk keponakan mereka.


“Lucu juga panggilan mereka. Upin dan Ipin.” Alena terkekeh membayangkan duo kembar berkepala plontos, karakter kartun terkenal asal negeri jiran. Sejak aku masih anak-anak sampai usia dewasa sekarang, Upin dan Ipin tidak tumbuh besar. Mereka masih tetap bersekolah di taman kanak-kanak.


“Kalau nanti kita punya anak kembar, mungkin seperti ini.”


“Hm…”


“Kamu mau punya anak kembar?” tanya Atep.


Alena menggeleng.


“Kenapa tidak mau?”

__ADS_1


“Kan aku udah bilang kalau punya anak kembar itu ribet. Lihat saja sekarang. Kita berdua kepayahan mengurus mereka.” Alena menunjuk Upin dan Ipin.


“Ribetnya memang double tapi pasti bahagianya juga double. Iya kan?”


“Gak tau ah. Menikah saja belum, sudah membicarakan tentang anak. Lagian kembar atau tidak itu urusan Yang Maha Kuasa. Si Arfan dan Arfin yang kembar saja, anak mereka tidak kembar. Kamu masih ingat sama sepupuku yang kembar itu kan?”


Atep mengangguk.


“Jadi urusan anak kembar atau tidak kembar, kita pikirkan nanti saja. Sekarang fokus kita sama Upin dan Ipin. Kasihan mereka, belum kenyang minum ASI sudah harus minum susu formula.”


“Coba kamu bicara lagi sama Teh Iyah. Bujuk dia agar mau menyusui bayi kembarnya.”


“Sudah tadi pagi. Pas Upin dan Ipin dibawa pulang aku sudah langsung sodorkan Upin tapi Teh Iyah langsung menangis histeris dan berteriak-teriak memanggil Aras dan Aris.” Alena menceritakan pengalamannya saat tadi pagi saat berusaha untuk membujuk Sadiyah.


“Kita harus bagaimana, Len. A Endra juga susah dihubungi.”


“Aku juga bingung. Ibu juga gak bisa menolong banyak karena harus menjaga Aki yang kesehatannya menurun akibat kabar penculikan Aras dan Aris.”


Sejak mengetahui kondisi Aras dan Aris yang diculik, kondisi Sadiyah semakin memburuk. Ia depresi dan menolak untuk menyusui bayi kembar yang baru saja dilahirkannya sehingga membuat Atep dan Alena memutuskan untuk mengundur pernikahan mereka sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Semuanya fokus pada Faras dan Faris.


“Coba kamu yang bujuk Teh Iyah, Tep,” usul Alena.


Atep mengangguk dan beranjak menuju kamar Sadiyah. Ia masuk ke dalam kamar dan melihat Sadiyah yang berbaring dengan tatapan kosong.


“Teh…” panggil Atep pelan.


Tidak ada reaksi.


Kemudian Atep duduk di sisi kanan tempat tidur.


“Teh, Teh Iyah…” Atep mencoba memanggil lagi.


Air mata mengalir di pipi Sadiyah. Ia menatap Atep.


“Atep?”


“Iya, Teh. Ini Atep.”


“Tep!” tiba-tiba Sadiyah menangis histeris.

__ADS_1


********


to be continued...


__ADS_2