
Apa Iyah sudah memiliki pilihan sendiri?” tanya Pak Musa.
“Neng, jawab pertanyaan dari Aki Musa.” Bisik Rostita karena melihat Sadiyah diam saja.
“Belum, Aki.” Jawab Sadiyah pelan sambil menggelengkan kepalanya.
“Alhamdulillah.” Pak Musa mengucapkan syukur.
“Iyah, mau menerima cucu Aki sebagai calon suami?” tanya Pak Musa.
Banyak hal yang berseliweran dalam pikiran Sadiyah sehingga ia tidak mendengarkan pertanyaan lanjutan dari Pak Musa.
Rostita menyenggol lengan Sadiyah dengan sikunya.
“Eh, iya apa Aki?” tanya Sadiyah gelagapan.
Yusuf dan Indriani tersenyum melihat calon menantunya yang terlihat sangat gugup itu.
“Iyah, mau menerima cucu Aki sebagai calon suami Iyah?” ulang Pak Musa.
“Insya Allah.” Jawab Sadiyah semakin dalam menundukkan kepalanya karena merasa malu.
“Alhamdulillah.” Seru Pak Musa, Yusuf, Indriani, Rostita dan Darmawan berbarengan.
__ADS_1
“Terima kasih, Nak Iyah.” Ucap Indriani.
“Maafkan kami, kalau hari ini anak kami tidak ikut kesini. Insya Allah pekan depan kami akan berkunjung lagi bersama dengan anak kami.” Yusuf meminta maaf karena anaknya Kagendra tidak ikut berkunjung.
“Eh….” Sadiyah terkesiap kaget mendengar ucapan Yusuf.
“Kenapa, Nak?” tanya Indriani.
“Eh…jadi…bukan ya…. Aduuuuh…ini gimana ya...” Sadiyah gelagapan menanggapi pertanyaan dari Indriani.
Wajah Indriani tampak bingung melihat Sadiyah yang gelagapan.
“Maaf, Bu. Jadi… aduh maafkan Iyah. Iyah tidak tahu.” Iyah meminta maaf pada Indriani.
“Kenapa minta maaf?” tanya Yusuf.
Tawa dari Yusuf pun meledak dan membuat semua yang ada di ruangan tersebut terbengong-bengong.
“Jadi Iyah menyangka kalau Abah ini calon suami kamu ya?” tanya Yusuf sambil terus tertawa terbahak-bahak.
Pak Musa, Indriani, Rostita dan Darmawan pun ikut tertawa setelah menyadari salah paham ini.
“Jadi Iyah ternyata naksir sama calon mertua?” goda Yusuf.
__ADS_1
“Eh, bukan begitu……..” Sadiyah terkesiap mendengar godaan dari Yusuf.
“Maaf kalau tadi Iyah berburuk sangka pada Aki Musa. Iyah menyangka bahwa Aki Musa sudah berlaku kejam karena menjodohkan Iyah dengan cucu Aki yang sudah tua.” Sadiyah tidak menyadari perkataan jujur yang keluar begitu saja dari otaknya.
Yusuf terperangah atas ucapan jujur dari Sadiyah yang mengatakan dirinya lelaki tua.
Indriani menutup mulutnya menahan tawa mendengar perkataan Sadiyah yang mengucapkan tua pada suaminya.
“Sudahlah Abah, jangan tersinggung disebut tua. Emang Abah kan sudah tua.” Ucap Indriani sambil menahan tawa.
“Aduuuuuh, maafkan Iyah. Bukan maksud Iyah menyebut tua sama Abah.” Iyah memukul mulut lancangnya itu dengan kedua tangannya.
Serentak semua orang yang ada di ruang tamu itu tertawa mendengar kepolosan Sadiyah.
“Sudah…sudah…jangan terus minta maaf. Kalau kamu terus ngomong, kita tidak akan berhenti tertawa.” Ujar Pak Musa.
Sadiyah semakin menundukkan kepalanya karena malu.
“Iyah, calon suami kamu itu anak kami, namanya Kagendra. Insya Allah minggu depan kami bawa anak kami itu ke hadapan kamu.” Ujar Indriani.
Setelah mengobrol ringan sambil mencicipi hidangan yang ada di atas meja, Pak Musa pun pamit undur diri.
“Ita, insya Allah minggu depan kami datang lagi berkunjung untuk memantapkan maksud dan niat baik kami untuk melamar Sadiyah. Minggu depan akan kita putuskan waktu dan tempat untuk melangsungkan pernikahan antara Sadiyah dan Kagendra. “ ujar Pak Musa.
__ADS_1
“Baik.” Jawab Rostita
*************