
“Aras dan Aris belum bangun?” tanya Kagendra.
“Belum. Sebentar Iyah bangunkan dulu mereka. Biasanya mereka bangun pagi tapi semalam mereka tidur agak malam karena nonton dan main game bareng sama Lena.” jelas Sadiyah.
“Lena sudah bangun?” tanya Kagendra. Ia belum melihat adiknya turun dari kamar sejak subuh tadi.
“Sepertinya belum. Tadi habis salat subuh berjamaah dia langsung masuk kamar lagi,” jawab Sadiyah.
“Kebiasaan buruk sudah salat subuh tidur lagi,” gerutu Kagendra. “Nanti kalau sudah menikah, kamu harus nasehati dia. Dia itu banyak kebiasaan buruknya.”
Mendengar apa yang diucapkan Kagendra, Atep tersedak air minum yang sudah setengah jalan melalui tenggorokannya.
“Tidak perlu kaget seperti itu. Aku harus memberitahu semua hal yang buruk tentang adikku karena kalau yang baik-baiknya pasti kamu akan mudah menerima tapi belum tentu kamu bisa menerima kebiasaan buruk Lena,” jelas Kagendra.
“Teeeh… Lena lapaaar.”
“Aaargh…..”
Melihat Atep yang duduk manis di meja makan, Alena langsung berbalik menaiki tangga menuju kamarnya.
“Teteeh… Kenapa gak bilang sama Lena kalau si Atep udah ada di sini?” Alena sedikit berteriak saat menelepon Sadiyah
“Teteh juga gak tau kamu tiba-tiba muncul di ruang makan. Tadinya Teteh baru mau membangunkan kamu sekaligus mau bangunin Aras dan Aris. Belum juga Teteh naik ke kamar kamu, kamu udah turun.”
“Teteeh, Lena kan malu. Mana Lena gak pake kerudung. Lena juga belum cuci muka, rambut Lena acak-acakan. Pasti dia ilfil lihat Lena kaya gitu. Sebel… sebel… sebel.”
“Bukannya ngetawain tapi Teteh senang karena baru saja Teteh mendapatkan petunjuk yang sangat menggembirakan.”
“Maksud Teteh apa sih? Lena gak ngerti,” Sungut Alena.
“Kata-kata kamu yang bilang kalau kamu khawatir Atep ilfil setelah lihat penampilan kamu yang acak-acakan.”
__ADS_1
“Siapa yang khawatir? Lena cuma malu,” elak Alena.
“Iya, cuma malu,” goda Sadiyah.
“Beneran, Teh. Lena cuma malu, gak ada tuh perasaan khawatir.” Alena bersikukuh dengan pembelaan dirinya.
“Ya sudah kalau tidak khawatir. Cepat turun buat sarapan. Sekalian juga bangunkan Aras dan Aris!” perintah Sadiyah.
“Lena gak mau sarapan di bawah. Nanti saja makannya kalau dia sudah pulang.”
“Gimana sih kamu, Len? Mana ada Atep pulang. Dia datang buat jemput dan antar kalian main ke T Studio.”
“Lena lupa, Teh,” jawab Alena cengengesan.
“Cepat turun! Jangan lupa sekalian bangunkan Aras dan Aris.”
“Siap Bos.”
********
“Masa samain si Lena sama ayam sih, A?”
“Tep, Lena memang seperti itu. Kamu siap jadi suaminya? Siap membimbing dia? Kalau tidak siap lebih baik kamu mundur saja dari sekarang daripada nanti habis aku pukulin kalau kamu berani mengecewakan adik kesayanganku.”
“Insya Allah siap, A”
Kagendra mengangguk mendengar jawaban Atep.
“Mang Atep.” Faras dan Faris berlarian menuruni tangga memanggil paman mereka dan langsung bergelayutan di lengannya.
“Aras…Aris, jangan langsung gelayutan sama Mang Atep. Makan dulu!” perintah Kagendra tegas. Kagendra memang disiplin dan tegas maka tak heran jika ia pun memperlakukan anak-anaknya dengan keras dan disiplin.
__ADS_1
Faras dan Faris langsung melaksanakan apa yang ayah mereka perintahkan, duduk manis di depan piring berisi menu sarapan favorit, nasi goreng buatan ibu mereka.
Setelah menghabiskan tehnya, seperti biasa Kagendra langsung mengganggu Sadiyah yang sedang mengupas buah.
“Tuh…Tante liatin Ayah deh. Kebiasaan Ayah tiap pagi ya begitu,” seru Faris dengan mulut penuh nasi.
Alena terkekeh mendengar penuturan Faris sedangkan Faras fokus menghabiskan sarapannya.
******
“Aa, lepas ih! Malu sama Lena, Atep dan anak-anak,” desis Sadiyah saat Kagendra menciumi tengkuknya.
“Kamu wangi.”
“Iyah sudah mandi pasti wangi. Tidak usah menggombal.”
“Siapa yang menggombal? Kamu wangi, Aa jadi suka cium-cium kamu.”
“Besok besok, Iyah gak akan mandi supaya Aa gak cium sembarang.”
“Tidak mandi juga kamu wangi. Wangi asem.” Kagendra terkikik sambil terus menciumi tengkuk dan bahu Sadiyah yang tertutup kain jilbab. Tidak puas menciumi tengkuk dan bahu yang terhalang kain jilbab, ia menciumi pipi istrinya.
“Aa… kalau tidak berhenti, Iyah khawatir pisaunya meleset nih.” Sadiyah mengacungkan pisau buah yang sedang dipegangnya.
“Aa rela berdarah-darah asalkan bisa bersama kamu.”
“Aa…” Sadiyah menancapkan ujung pisau yang tajam di atas talenan.
“Iya sayang. Kita lanjut nanti saja di kamar.”
“Aa…”
__ADS_1
*******
to be continued...