Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
110. Pahlawan


__ADS_3

Menjelang maghrib, Sadiyah baru sampai di rumahnya di desa Cibeber. Ia harus segera beristirahat karena besok ia akan meninjau sawah dan perkebunan miliknya. Pak Yaya, orang kepercayaan Sadiyah yang dipercayakan untuk mengelola semua usahanya di desa Cibeber ini melaporkan bahwa ada pihak yang menginginkan sebagian besar tanahnya. Pihak tersebut ingin membeli tanah milik Sadiyah dan akan dipergunakan untuk membangun resort.


Orang-orang suruhan pihak yang ingin membeli tanah Sadiyah dan tanah milik penduduk yang ada di dekat tanah milik Sadiyah sudah mulai menteror dan mengancam para pemilik tanah. Kebanyakan penduduk di sekitar memiliki tanah yang tidak terlalu luas sehingga mudah diintimidasi, sedangkan Sadiyah memiliki tanah yang paling luas diantara tanah milik para penduduk sehingga sulit untuk bisa mengintimidasi Sadiyah.


Sadiyah dalam perjalanan menggunakan motor menuju di tanah sawah miliknya ditemani oleh Pa Yaya. Di tengah perjalanan sebuah mobil jeep menghadang laju motor Pak Yaya. Beberapa orang suruhan pihak yang ingin membeli paksa tanah para penduduk keluar dari mobil lalu mengelilingi Sadiyah dan Pa Yaya. Ada empat orang berperawakan tinggi besar dengan tubuh berhiaskan rajah di sekujur lengan mereka. Sepertinya mereka adalah preman yang disewa oleh para pengembang itu.


Pak Yaya menghentikan motor yang sedang dikendarainya.


“Anda Ibu Sadiyah?” tanya salah seoarang preman dengan tubuh besar dan tato di lengan dan lehernya.


“Betul. Ada perlu apa?” tanya Sadiyah dengan suara tegas dan berani. Ia masih belum turun dari motor.


“Bos kami ingin bicara dengan anda. Saya harap anda bisa ikut dengan kami.”


“Siapa yang perlu dengan siapa? Kenapa saya yang harus menemui Bos kamu. Seharusnya Bos kamu yang datang menemui saya. Minggir! Saya mau lewat. Jalankan motornya, Pak.” Sadiyah menghardik para preman yang menghalangi jalannya dan memberi perintah kepada Yaya untuk melajukan motor.


“Neng, sebaiknya ikuti saja permintaan mereka. Bapak takut kalau mereka akan menyakiti Neng.” bisik Pak Yaya sudah mulai ketakutan melihat perawakan dan tampang para preman itu. Belum lagi Pak Yaya sempat melihat senjata tajam yang dibawa oleh para preman tersebut.


“Tidak usah takut, Pak. Mereka itu orang-orang kasar yang akan semakin menindas kita kalau mereka tahu kita takut sama mereka.” bisik Sadiyah.


“Kami tidak punya banyak waktu lagi. Anda harus ikut dengan kami.” dua orang preman berperawakan besar mencekal tangan Sadiyah dan memaksanya turun dari motor. Mereka  menyeret Sadiyah masuk ke dalam mobil dengan paksa.


“Saya tidak mau. Jangan memaksa saya.” Sadiyah sekuat tenaga memberontak berusaha untuk melepaskan dirinya dari cekalan dua orang preman tersebut tapi tenaganya kalah telak dibandingkan dua orang preman itu.


Sadiyah sudah berada dalam mobli jeep tapi ia masih berusaha melepaskan diri dengan menendang-nendangkan kakinya.


“Cepat jalan, Bram.” perintah salah seorang preman tersebut kepada temannya yang bertugas menyupir.


*************


Tidak berapa jauh dari tempat kejadian, Kagendra melihat dengan mata kepalanya sendiri kejadian Sadiyah yang dipaksa masuk oleh beberapa orang berperawakan besar ke dalam sebuah mobil jeep.


Setelah subuh tadi, Kagendra segera memacu mobilnya dari Bandung menuju desa Cibeber untuk menemui Sadiyah dan meninggalkan Rudi tetap di Bandung untuk mengurus segala urusan dengan klien mereka di Bandung.


Setelah tiba di rumah Sadiyah, Mak Isah memberitahu bahwa Sadiyah sedang pergi meninjau kebun dan sawahnya bersama dengan Pak Yaya. Meluncurlah Kagendra dengan mobilnya untuk menyusul Sadiyah.

__ADS_1


Kagendra segera menghentikan mobil di dekat Pak Yaya yang sedang berdiri mematung karena shock melihat kejadian dibawanya Sadiyah oleh para preman tersebut secara paksa.


“Mereka siapa? Mereka membawa Sadiyah kemana?” tanya Kagendra cepat. Ia sudah keluar dari mobilnya dan langsung mengambil alih motor yang sedang dipegang oleh Pak Yaya.


“Kita susul mereka pakai motor saja biar cepat. Cepat Pak, biar saya yang bawa motornya! Tolong hubungi aparat desa supaya dapat mengirimkan bantuan. Cepat Pak!” seru Kagendra.


“Iya.” Pak Yaya segera menelepon keamanan desa agar bisa menolong mereka.


Kagendra sudah mulai menyalakan motor dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


Dengan jarak tinggal beberapa meter lagi dari mobil jeep tersebut, Kagendra semakin memacu kecepatan motor.


“Sudah ada tanggapan dari aparat desa?” tanya Kagendra pada Pak Yaya.


“Sudah. Kamu ini siapanya Neng Iyah?”


“Saya suaminya.” jawab Kagendra cepat.


Pak Yaya merasa lega setelah mendengar jawaban dari Kagendra walaupun masih ada sedikit ragu dengan jawaban Kagendra.


“Berhenti kalian!”


“Tidak usah dihiraukan, Bram.” seru salah seorang preman yang duduk di sebelah Sadiyah dan masih mencengkram lengan Sadiyah dengan kuat.


“Lepaskan!” dengan sekuat tenaga Sadiyah memberontak berusaha melepaskan cekalan dua preman yang duduk di sebelah kiri dan kanannya.


Suara teriakan Kagendra memberikan energi tambahan pada Sadiyah untuk bisa melepaskan diri dari cekalan para preman itu. Sadiyah berhasil merangsek ke depan dan mengganggu konsentrasi supir sehingga laju mobil menjadi oleng dan hampir terperosok ke dalam area sawah. Bram, preman yang menyupiri mobil jeep tersebut mengerem secara mendadak dan mengakibatkan penumpang yang lain terpelanting ke arah depan.


Kagendra yang melihat mobil jeep tersebut oleng dan mengerem mendadak, langsung menghentikan motornya di dekat mobil jeep tersebut dan memaksa si supir untuk keluar.


“Keluar kamu, berengsek!” Kagendra membuka paksa pintu mobil sebelah supir dan menyeret preman bernama Bram keluar paksa dari mobil.


Setelah Kagendra berhasil mengeluarkan Bram dari mobil, ia langsung menghajar Bram tanpa ampun.


Seorang preman yang duduk di kursi penumpang bagian depan langsung keluar dan membantu temannya yang sedang dihajar oleh Kagendra.

__ADS_1


Pak Yaya yang melihat salah seorang preman keluar dari mobil dan hendak memukul Kagendra dengan pentungan yang dibawanya langsung berteriak memperingatkan Kagendra.


“Awas…..”


Beruntung refleks Kagendra sangat bagus. Ia langsung bereaksi terhadap serangan preman tersebut. Kagendra dengan lihai menangkis pentungan yang diarahkan padanya dengan lengan kemudian langsung menendang perut preman yang hendak menyerangnya itu hingga terjerembab.


Setelah selesai menghajar Bram hingga babak belur, sekarang giliran temannya yang dihajar Kagendra hingga babak belur.


Tak terima dengan perlakuan Kagendra terhadap dua orang temannya. Salah seorang preman yang mencengkram lengan Sadiyah langsung keluar dari mobil dan mengeluarkan pisau yang diselipkan di belakang pinggangnya.


Preman yang membawa pisau itu menendang punggung Kagendra yang sedang berkonsentrasi memukuli preman kedua.


Karena Kagendra tidak mengetahui serangan dari preman tersebut, ia terjungkal hingga mencium tanah. Sudut bibirnya mengeluarkan darah segar karena benturan keras dengan tanah.


Hanya sepersekian detik saja, Kagendra kehilangan fokus, ia segera bangkit dan mendapatkan fokusnya kembali. Kagendra melihat preman yang menghunuskan pisau di depannya. Dengan cekatan ia menendang tangan preman yang memegang pisau itu sehingga pisaunya terlempar jauh. Melihat lawannya tanpa senjata, Kagendra meransek dan menyerang preman yang tadi hampir menusuknya.


Preman yang ketiga ternyata memiliki kemampuan bertarung yang cukup mumpuni. Kagendra sedikit kewalahan menghadapinya. Beberapa pukulan dan tendangan berhasil bersarang di wajah dan tubuh Kagendra. Tapi ilmu beladiri Kagendra lebih tinggi sehingga ia berhasil mengatasi preman ketiga hingga tersungkur.


Melihat ketiga temannya sudah kalah bertarung melawan Kagendra seorang diri, preman yang masih mencengkram lengan Sadiyah langsung melepaskan cengkramannya dan segera keluar dari mobil untuk menolong teman-temannya.


Sebilah pisau sudah ia siapkan untuk menyerang Kagendra dari belakang.


Pak Yaya dan Sadiyah yang melihat preman itu hendak menyerang Kagendra dari belakang langsung berteriak bersamaan memperingatkan Kagendra.


“Awas di belakang!” teriak Pak Yaya.


“Aa…….” Sadiyah berteriak histeris, ia takut Kagendra akan terluka akibat dari serangan preman terakhir itu.


Kagendra yang mendengar teriakan peringatan dan Sadiyah dan Pak Yaya segera berbalik dan melihat hunusan pisau yang hendak diarahkan pada dirinya.


Jleeb…..


"Aaaargh...."


******

__ADS_1


to be continued....


__ADS_2