Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
153. Histeris


__ADS_3

“Ada kemungkinan Natasha yang ada dibalik penculikan ini tapi aku juga tidak bisa gegabah menuduh tanpa ada bukti yang jelas. Lagipula, Natasha belum pernah menghubungiku selama ini,” ucap Kagendra. Suaranya terdengar putus asa.


Atep mengangguk, setuju dengan pendapat Kagendra. “Kita memang tidak bisa gegabah menuduh orang lain tapi kita tetap harus waspada dan bisa jadi Natasha memang orang yang ada dibalik penculikan ini.”


“Hm…”


“Apa saya boleh tanya sesuatu?”


“Apa?”


“Saya harap Aa jangan marah dengan pertanyaan dari saya.”


“Katakan saja! Tidak usah basa-basi busuk. Aku sudah bisa menduga apa yang akan kamu tanyakan.”


“Eh?” Atep terkejut dengan pernyataan Kagendra.


“Kamu mau tanya apakah aku masih mencintai Natasha hingga kamu berasumsi kalau aku membelanya. Iya, kan?”


Atep semakin terkejut dengan apa yang dilontarkan Kagendra. Apa yang diucapkan Kagendra sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya.


“Bagaimana? Apa masih ada nama Natasha dalam hati Aa?” tanya Atep memberanikan diri.


Kagendra menghela nafasnya dengan berat.


“Nama perempuan itu sudah menguap sebelum Iyah meninggalkanku. Jadi, jangan pernah ada pikiran secuil pun kalau masih ada nama perempuan lain di hatiku selain Sadiyah,” ucap Kagendra tegas dan penuh keyakinan.


“Maaf kalau saya ada pikiran negatif terhadap Aa. Saya hanya khawatir karena dulu Aa pernah mencintai perempuan itu hingga tega menyakiti Teh Iyah.”


“Itu masa lalu dan aku tidak akan pernah ingin mengingat masa lalu yang buruk itu. Aku harap kamu juga jangan pernah mengungkit-ungkit masa laluku. Mengerti?”


“Iya, A. Maaf.”


“Jangan ceritakan kabar penculikan Aras dan Aris pada Iyah. Aku tidak ingin dia jadi kepikiran dengan masalah ini.”


“Baik, A.”


“Kasih tahu Lena untuk bersikap biasa saja di depan Iyah. Telepon dia sekarang!” perintah Kagendra.


“Baik, A.”

__ADS_1


Atep langsung menelepon Alena dan mengintruksikan sesuai apa yang diminta Kagendra. Alena yang mendengar intruksi dari kakaknya yang disampaikan Atep berusaha menjaga raut wajahnya agar terlihat biasa. Ia sedang berada di toilet dan segera membasuh wajahnya agar tidak terlihat garis bekas tangisannya.


Kedua orangtua Kagendra sudah tiba di rumah sakit. Sebelum mereka menemui Sadiyah, Alena memberitahu kabar buruk yang menimpa Faras dan Faris. Ia meminta Yusuf dan Indriani untuk menutupi kabar musibah ini dari Sadiyah.


“Len, kamu sudah telepon orang rumah? Gimana Aras dan Aris? Sudah pulang dari sekolah?”


“Sudah, Teh. Kata Nani, Aras dan Aris pulang sekolah langsung mandi dan tertidur. Sepertinya mereka kelelahan di sekolah. Jadi, Nani belum sempat memberitahu mereka kalau adik kembar mereka sudah lahir,” jawab Alena hati-hati.


“Iya, tidak apa-apa. Besok kamu jemput mereka ke sini. Teteh ingin ketemu Aras dan Aris. Mendadak Teteh kangen banget sama mereka.”


“Iya, Teh. Oh iya, abah dan ibu juga sudah datang. Ibu sedang ke toilet dulu sebentar kalau abah masih di kantin minum teh.”


“Aa mana?” Sadiyah menanyakan keberadaan Kagendra.


“Aa pulang dulu buat ganti baju. Sebentar lagi juga sampai.”


“Aa sudah makan belum? Tadi bilang kalau dia belum makan sejak pagi. Teteh khawatir Aa sakit lagi karena telat makan.”


“Eh, sudah Teh. Tadi kan Mang Edi datang bawakan rantang makanan buat Aa.”


“Oh, bagus deh. Kasihan Aa kelaparan dari pagi bilangnya cuma sempat makan roti dan teh.”


*******


“Teh Iyah sedang bersama ibu dan abah. Lena juga sudah bilang sama ibu dan ayah kalau Aras dan Aris diculik. Abah bilang kalau Aa butuh bantuan, abah akan mengerahkan semua anak buahnya.”


“Aa sudah menyebarkan anak buah Aa ke seluruh sudut kota ini. Aa akan meminta bantuan abah kalau Aa merasa sudah tidak mampu. Untuk sekarang, anak buah Aa masih bisa menghandle semuanya.”


Seperti Kagendra yang memiliki kelompok agen, ayahnya pun masih memilikinya sisa-sisa perjuangannya di masa muda. Walaupun kebanyakan anak buah Yusuf sudah tidak muda tetapi keahlian mereka masih bisa diandalkan dan tidak kalah dengan yang muda. Bahkan pengalaman mereka sangat membantu dalam pekerjaan mereka.


Kagendra masuk ke dalam ruangan Sadiyah. Ia melihat istrinya sedang memompa ASI untuk bayi kembar mereka.


“Sudah banyak ASI yang keluar?”


“Alhamdulillah, sudah banyak. Kata dokter, ASI Iyah bisa mencukupi kebutuhan mereka jadi tidak usah diberi tambahan susu formula,” ucap Sadiyah sumringah.


“Mana Aras dan Aris. Kenapa mereka gak mau menemui Iyah? Apa mereka marah karena Iyah melahirkan adik kembar mereka dan merasa Iyah abaikan?”


Ini hari kedua Sadiyah berada di rumah sakit. Selama dua hari pula, Sadiyah terus menerus menanyakan keberadaan Faras dan Faris. Kagendra sudah tidak bisa menyembunyikan lagi kebenarannya. Ia menatap wajah Sadiyah.

__ADS_1


“Bukan begitu, Sayang. Aras dan Aris tidak mungkin sedih karena kelahiran adik-adik mereka. Kamu sendiri juga tahu kan kalau mereka selalu bersemangat setiap kali membicarakan adik kembar mereka.”


“Tapi kenapa mereka belum ke sini?”


“Sayang…” Kagendra menarik nafasnya dengan berat.


“Apa?”


“Aa harap kamu mendengar kabar yang akan Aa sampaikan dengan kepala dingin.”


“Aa mau kasih kabar apa? Tentang Aras dan Aris? Kenapa dengan mereka? Mereka sakit? Cepat ceritakan!”


“Bisa tenang dulu?”


“Iyah gak akan bisa tenang kalau sesuatu yang buruk terjadi pada mereka. Kenapa Aa gak bilang dari kemarin?” Sadiyah sudah mulai terisak.


“Dengarkan, Sayang. Apapun yang terjadi, Aa adalah ayah mereka. Aa akan mengorbankan apapun demi mereka. Paham?”


Sadiyah mengangguk mendengar perkataan Kagendra tetapi berbeda dengan hatinya yang tidak bisa tenang. Ia khawatir dengan keadaan Faras dan Faris. Memang sejak kemarin, hati Sadiyah tidak tenang tetapi ia tidak mengetahui alasannya. Ia hanya merasa sangat merindukan Faras dan Faris dan ingin sekali melihat wajah mereka.


Namun, beberapa alasan yang dikemukakan Kagendra, Alena maupun Atep meyakinkan dirinya bahwa Faras dan Faris baik-baik saja walaupun hatinya tetap saja tidak tenang. Sadiyah pun kerap memandangi foto Faras dan Faris yang ada dalam ponselnya.


“Apa yang terjadi pada Aras dan Aris? Mereka tidak sakit kan? Atau kecelakaan? Mereka tidak kecelakaan, kan?”


Kagendra menggeleng.


“Dengar, Sayang. Sebenarnya Aa tidak ingin memberitahu kabar ini sama kamu. Aa berharap masalahnya sudah selesai sebelum memberitahu kamu. Tapi sepertinya kamu harus mengetahui apa yang terjadi pada mereka.”


“Jangan basa basi terus, A. ceritakan saja to the point!”


“Aras dan Aris diculik.”


“Kenapa?” tanya Sadiyah lirih.


“Aa juga tidak tahu alasan mereka diculik. Aa merasa kalau tidak punya musuh.”


“Pasti Natasha yang menculik mereka. Pasti dia yang menculik Aras dan Aris.” Sadiyah histeris saat menyadari kemungkinan Natasha menculik Faras dan Faris.


*******

__ADS_1


to be continued....


__ADS_2