
“Jadi siapa yang mau dinikahkan?” tanya Sadiyah semakin heran.
******************
“Pak Musa dan Aki itu bersahabat sejak mereka masih muda. Beliau cerita kalau Aki lah yang banyak membantu beliau sewaktu beliau mulai merintis usahanya. Aki yang memberikan modal, Aki juga yang banyak mendukung beliau sampai akhirnya sekarang beliau bisa sukses.” Darmawan menjelaskan awal mula persahabatan Pak Musa dan mertuanya yang sudah almarhum itu.
Darmawan menarik dan menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar karena merasakan beban berat yang ada di pundaknya.
“Pak Musa ini memiliki cucu laki-laki yang sudah cukup usianya untuk menikah. Beliau meminta kepada Bibi kamu selaku wali kamu untuk menikahkan kamu dengan cucu laki-lakinya itu, Neng.” Darmawan mengungkapkan beban berat itu pada Sadiyah.
__ADS_1
Seketika suasana menjadi hening.
“Ini gak salah, Mang?” tanya Sadiyah setelah beberapa saat terdiam mencoba mencerna kata demi kata yang terlontar dari mulut Darmawan.
“Pak Musa menjelaskan bahwa karena kesalahannya lah rencana menikahkan anak laki-lakinya dengan Bibi kamu batal dan rencana menikahkan anak perempuannya dengan ayah kamu gagal juga karena masing-masing dari kami memang sudah memiliki pilihan masing-masing. Oleh karena itu, Pak Musa tidak ingin lagi gagal dalam menunaikan janjinya pada Aki. Pak Musa tidak ingin lagi terlambat untuk meminang menantu.” Darmawan mencoba untuk menjelaskan sejelas mungkin maksud Pak Musa melamarkan Sadiyah untuk cucu laki-lakinya.
“Amang dan Bibi bisa menolaknya kan?” tanya Sadiyah yang sudah mulai memerah mukanya karena menahan emosi yang tidak tahu emosi macam apa yang menerpa dirinya, apakah marah, kecewa, atau malu.
“Tapi kan Bi…..” Sadiyah tidak bisa meneruskan kalimatnya karena bingung dengan apa yang akan dikatakannya.
__ADS_1
“Rencananya siang ini mereka akan datang kemari.” Ujar Rostita tiba-tiba.
“Kenapa mendadak sekali sih Bi. Iyah kan belum menyiapkan diri. Hati dan kepala Iyah masih syok mendengar kabar ini. Baru saja Bibi bilang kalau Iyah mau dilamar, eh ini dilamarnya hari ini juga. Iyah belum mempersiapkan hati dan diri Iyah, Bi.” Sadiyah mulai merajuk pada Bibinya. Walaupun Sadiyah merasa bahwa perjodohan ini adalah hal yang aneh tapi mau tidak mau Sadiyah harus menerimanya karena rasa sayangnya pada keluarga. Sadiyah tidak ingin dicap jadi anak durhaka jika tidak menuruti keinginan kakek dan mungkin juga ayahnya.
“Bibi juga merasa ini terlalu cepat, baru saja minggu yang lalu Pak Musa menemui bibi, dua hari yang lalu beliau menelepon bahwa hari ini akan datang untuk melamar kamu, Neng.” Sahut Rostita.
“Maafkan Bibi ya Neng.” Rostita memeluk Sadiyah dengan erat.
Sadiyah hanya sanggup menganggukkan kepalanya dan balas memeluk erat bibinya. Saat ini, Sadiyah sangat merindukan pelukan ibunya. Wulan, ibunya selalu memeluk dirinya jika dirinya merasa sedih. Sadiyah juga merindukan Nandang, ayahnya, yang selalu membela dan melidunginya dalam situasi apapun. Walaupun sepuluh tahun telah berlalu sejak kedua orangtuanya meninggal, tapi Sadiyah masih mengingat dan merasakan kehangatan yang selalu Wulan dan Nandang berikan.
__ADS_1
**************