Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
36. Perdebatan


__ADS_3

Tidak seperti biasanya, setelah sholat subuh Kagendra dan Sadiyah kembali merebahkan tubuh mereka di atas kasur. Kagendra tidak melakukan lari pagi yang biasanya rutin ia lakukan. Sadiyah tidak berkutat di dapur untuk membuatkan sarapan.


“A, sarapannya nanti beli saja ya. Saya gak sanggup nih kalau harus langsung memasak sekarang.” pinta Sadiyah dengan suaranya yang terdengar lelah.


Kagendra tidak menjawab Sadiyah karena ternyata ia sudah duluan menjelajah di alam mimpi.


Mereka berdua melanjutkan tidur hingga jarum jam menunjuk pada angka sepuluh. Sadiyah terkejut ketika ia terbangun dan melihat jam yang ada di dinding kamarnya.


“Astagfirulloh sudah jam 10. Bagaimana ini, tidak biasanya Iyah tidur sampai siang begini.” Sadiyah bergegas menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Ketika Sadiyah keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur, ia melihat Kagendra yang sudah terlihat segar sedang duduk di sofa sambil membaca berita di ponselnya.


“Ehm….” Sadiyah berdehem.


Kagendra mendongakkan kepalanya dan menatap wajah segar Sadiyah.


“Sudah bangun kamu? Maaf kalau saya buat kamu kelelahan.” sekarang kata maaf sudah mulai mudah terucap dari mulut Kagendra.


Sadiyah merasakan wajahnya terasa panas dan ia yakin pasti saat ini warna kulit wajahnya sudah berubah menjadi warna merah merona.


“Aa tidak pergi ke kantor?” tanya Sadiyah heran karena jarum jam sudah menunjuk angka 10 tapi Kagendra masih terlihat santai duduk di sofa dengan mengenakan kaos oblong berwarna biru dipadu celana pendek dengan warna yang senada.


“Saya ambil libur dua hari. Saya juga berhak kan untuk beristirahat. Apalagi jika saya yang punya perusahaan, saya bebas untuk menentukan hari libur saya sendiri.” jawab Kagendra ketus.


“Tidak perlu memakai nada suara tinggi. Biasa saja kan bisa. Dasar memang pria kejam berhati bengis” Sadiyah mendumel dalam hatinya.


“Kenapa diam?. Kamu mengumpat lagi dalam hati hati kamu, hah?” tanya Kagendra semakin ketus.


“Astaghfirulloh, A. Saya kan hanya bertanya. Tinggal jawab saja tanpa marah, bisa kan?. Jangan berburuk sangka juga sama saya. Mana berani saya mengumpat suami saya sendiri.” Sadiyah beristighfar dalam hatinya karena memang tadi ia mengumpat suaminya.


Kagendra kembali mengalihkan pandangannya pada ponsel yang sedang dipegangnya.


“Aa.” panggil Sadiyah.


“Apa!” sahut Kagendra dengan nada suara tinggi yang mengagetkan Sadiyah yang sebenarnya untuk menutupi kegugupannya di hadapan Sadiyah.


“Sudah dibilang tidak usah menggunakan nada suara yang tinggi. Dengan suara yang lembut juga saya sudah bisa mendengar ucapan Aa.” Sekarang Sadiyah sudah mulai berani protes atas sikap Kagendra yang tidak ada manis-manisnya itu.


“Iya maaf. Mau apa kamu panggil-panggil saya?” tanya Kagendra dengan suaranya yang tidak berteriak-teriak lagi.


“Memangnya gak boleh kalau manggil?” tanya Sadiyah jahil.

__ADS_1


Kagendra menatap Sadiyah dengan tatapan dinginnya.


“Brrrr….dingin banget A ditatap sama tatapan Aa yang sedingin kutub utara.” Sadiyah memeluk dirinya sendiri seolah-olah menahan udara dingin.


“Banyak tingkah kamu.” Kagendra kembali mengalihkan tatapannya pada ponsel di tangannya.


“Aa, mau dimasakkan apa buat makan siang hari ini?” tanya Sadiyah.


Kagendra meletakkan ponselnya di atas meja kecil yang terletak di samping sofa.


“Jadi kamu cuma mau nanya menu makan siang sama saya? Tapi kamu malah muter-muter dulu tidak jelas.” protes Kagendra.


Sadiyah terkikik mendengar protes yang dilayangkan oleh Kagendra.


“Becanda A, biar tidak sepi.” ujar Sadiyah.


“Memangnya rencana ini kamu mau masak apa?” Kagendra menjawab dengan pertanyaan.


“Belum ada rencana apapun sih. Hari ini saya mau masaknya by order saja. Aa mau dibuatkan apa, Insya Allah akan saya buatkan.” jawab Sadiyah.


Kagendra membayangkan makanan-makanan kesukaannya yang dibuatkan oleh Sadiyah. Dalam bayangannya tampak terlintas slide-slide tampilan masakan buatan istrinya itu yang tampak lezat semuanya.


“Wah, banyak sekali kepengennya, A. Tapi sepertinya bahan-bahannya tidak lengkap. Saya mau belanja dulu ke pasar, mumpung masih belum siang. Tidak apa-apa kan kalau nanti agak telat makan siangnya.” tanya Sadiyah.


“Kamu mau belanja ke mana?” tanya Kagendra.


“Kan tadi sudah dibilang kalau saya mau belanja ke pasar.”


“Saya tidak dengar.” sahut Kagendra ketus.


“Ya sudah saya mau siap-siap dulu.” Sadiyah masuk kembali ke dalam kamar untuk mengganti baju dan memakai jilbabnya.


Kagendra mengikuti Sadiyah masuk ke kamar.


“Ngapain Aa ikut-ikutan masuk ke kamar?” Sadiyah merasa risih untuk berganti pakaian dengan kehadiran Kagendra di hadapannya.


“Saya antar kamu belanja.” Kagendra membuka lemarinya dan mengganti celana pendeknya dengan celana panjang tanpa mengganti kaos oblong warna birunya.


“Aa mau ikut belanja ke pasar?” tanya Sadiyah heran.


“Kita belanja ke supermarket saja.” perintah Kagendra.

__ADS_1


“Tapi harganya lebih murah di pasar. Selain itu kita juga harus mendukung para pedagang lokal dan kecil. Kalau semua orang inginnya belanja di supermarket yang suasananya jauh lebih nyaman, siapa lagi yang mau belanja ke pasar tradisional. Lagipula, sekarang ini pasar juga gak terlalu kumuh dan kotor seperti dulu.” protes Sadiyah yang lebih memilih untuk berbelanja di pasar tradisional.


“Jangan membantah. Saya yakin masih banyak orang-orang yang berbelanja di pasar tradisional. Kalau hanya kamu seorang saja yang memutuskan untuk tidak belanja di pasar hari ini, tidak akan terlalu memberikan pengaruh.” papar Kagendra kesal karena perintahnya tidak diindahkan oleh Sadiyah.


“Kalau semua berpikiran seperti Aa yang menganggap tidak pengaruh satu orang yang memutuskan tidak berbelanja di pasar, maka akan terjadi kekacauan A. semua orang yang berpikiran seperti Aa hari ini akan mengakibatkan kerugian yang akan dialami oleh para pedagang di pasar.” jelas Sadiyah panjang lebar.


“Dasar cerewet.” dumel Kagendra.


“Kalau Aa tidak mau mengantar ke pasar juga tidak masalah. Memang awalnya juga saya tidak minta diantar.” sahut Sadiyah kesal dikatai cerewet.


“Oooh, jadi kamu tidak mau saya antar? Kamu tidak mau diantar sama suami kamu sendiri? Jadi kamu berencana untuk pergi sama pria lain atau malah sudah buat janji dengan pria yang lain.” tuduh Kagendra asal.


“Baru juga baikan sudah bikin ulah lagi.” ucap sadiyah pelan.


“Kamu bicara apa?” tanya Kagendra ketus.


“Gak ada.” jawab Sadiyah singkat.


“Pasti ada. Tadi bibir kamu gerak-gerak tapi saya gak denger dengan jelas kamu bicara apa.”  cecar Kagendra.


Sadiyah menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya dengan perlahan.


“Sabar Iyah…sabar….” batin Sadiyah menyabarkan dirinya sendiri.


“Jadi maunya Aa apa?” tanya Sadiyah mengalah.


“Kita belanja di supermarket.” jawab Kagendra tegas.


“Terserah Aa saja.” jawab Sadiyah pasrah atas keinginan suaminya yang keras kepala itu.


“Seharusnya dari awal kamu nurut sama saya. Jadi kan kita tidak usah perang kata dulu.” ujar Kagendra dengan rasa bangga karena telah berhasil memenangkan pertarungannya melawan istrinya sendiri.


Sadiyah memutar bola matanya kesal.


“Terserah.”


“Hehe….” Kagendra tersenyum merayakan kemenangan atas istrinya.


to be continued...


********

__ADS_1


__ADS_2