
Suara tembakan membuat Sadiyah dan Alena terkejut.
“Len, siapa yang tertembak?”
“Lena gak tau, Teh.”
“Tep, coba kamu lihat ke sana!” perintah Sadiyah.
“Perintah A Endra, aku harus disini menemani Teh Iyah dan Lena,” ucap Atep tegas.
“Teteh khawatir, Tep. Teteh khawatir terjadi sesuatu sama Aa.”
“A Endra akan baik-baik saja, Teh. Di sana dia bersama dengan anak buahnya. Mereka pasti melindunginnya,” jelas Atep menenangkan.
“Iya, Teh. Lagian di sana juga ada Kiran dan tim-nya. Mereka sangat berpengalaman dalam menghadapi situasi yang paling parah sekalipun. Kalau Atep pergi dan kita tinggal berdua di sini, akan lebih berbahaya. Sekarang Lena malah menyesal karena maksa ikut. Kita gak akan bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Aras,” ujar Alena.
“Sudahlah, Len. Jangan menyesali yang sudah terjadi. Yang penting kalian selamat. Aku akan melindungi kalian bahkan dengan taruhan nyawa sekalipun.”
“Jangan bicara sembarangan, Atep Dananjaya. Kalau kamu berani terluka, Teteh gak akan memaafkan kamu.”
__ADS_1
Atep terkekeh mendengar ancaman Sadiyah.
“Kalau kamu terluka terus mati, aku akan nikah sama orang lain.” Alena tidak mau kalah dalam memberikan ancaman.
“Memangnya mau nikah sama siapa? Boleh saja asalkan dia baik dan mencintai kamu sebesar aku mencintaimu.”
“Alena! Atep! Stop! Apa-apaan sih kalian? Bicara sembarangan. Kalian belum pernah merasakan terpisah dan merindukan orang yang kalian cintai. Rasanya itu sakit dan kalian tidak akan mampu membayangkannya.” Sadiyah mulai kesal dengan pembicaraan antara adik dan adik iparnya.
“Iya, Teh. Maaf,” lirih Alena.
“Dengerin Teteh. Lena, jangan pernah bicara kalau kamu akan langsung menemukan laki-laki lain setelah berpisah dengan Atep baik itu karena kematian ataupun alasan lain. Kamu gak akan sanggup. Atep, kamu juga jangan seenaknya bilang mati, lalu menyerahkannya pada laki-laki lain. Kamu juga gak akan sanggup. Percaya sama Teteh.”
“Candaan kamu membuat Teteh semakin khawatir. Dasar adik tidak tahu diri.” Sadiyah memukul ringan pundak Atep.
Terdengar lagi suara tembakan yang bersahutan.
“Tep, bagaimana ini? Apakah kita harus tetap menunggu di sini? Teteh khawatir sama Aa, Tep. Aras juga. Bagaimana anak sekecil Aras mengalami hal semengerikan ini. Teteh khawatir Aras trauma dengan apa yang dialaminya.”
“Tunggu di sini, Teh. Atep mau lihat keadaan dulu. Teteh dan Lena jangan kemana-mana. Tetap disini.” Setelah Atep memastikan keamanan Sadiyah dan Alena, ia berjalan cukup jauh untuk memantau keadaan. Ia juga merasa sangat khawatir setelah mendengar tembakan yang terus bersahutan.
__ADS_1
“Lena juga khawatir banget, Teh. Tapi kita harus sabar. Aa, Kiran, dan tim mereka pasti berhasil mengalahkan para penculik itu. Dulu juga Aa pernah mengalami penculikan, Teh. Aa pasti bisa membantu Aras andaikata dia mengalami trauma. Lena berharap sih Aras baik-baik saja.”
“Aa pernah diculik, Len?”
“Aa belum pernah cerita sama Teteh?”
Sadiyah menggeleng.
“Biar nanti Aa saja yang cerita, Teh. Lena cuma bisa cerita kalau dulu Aa pernah diculik, mungkin seumuran Aras atau lebih tua sedikit. Lena masih kecil banget saat itu, jadi tidak terlalu ingat. Ibu pernah cerita tapi tidak detail.
“Kenapa Aa tidak cerita ya, Len?” gumam Sadiyah. Ia merasa sedikit kecewa karena Kagendra masih menyembunyikan sebuah rahasia darinya. Namun, Sadiyah tidak mau berburuk sangka pada suaminya. Mungkin Kagendra tidak menceritakannya karena merasa tidak penting mengungkapkan masa lalu yang mengerikan.
“Aa suka mandi lama dan terobsesi sama kebersihan, kan? Sampai-sampai tidak mau makan selain masakan rumah. Kata ibu, kebiasaan Aa yang seperti itu akibat dari traumanya di masa kecil.”
“Pantesan, pas awal menikah, Aa sering marah-marah kalau Teteh gak rapi dan bersih. Awalnya, dia gak mau makan masakan yang dibuat Teteh. Mungkin karena belum percaya sama tingkat kebersihannya. Tapi sekarang, Aa sudah banyak berubah, sudah tidak mandi lama lagi. Sekarang, dia mandi paling lama juga lima belas atau dua puluh menit. Pas awal-awal tinggal bersama Aa, dia bisa mandi sampai satu jam lebih. Awalnya Teteh ngira kalau Aa itu tipe cowok metroseksual, ternyata punya trauma masa kecil.”
Sadiyah terkekeh saat mengingat kalau dulu ia pernah berprasangka bahwa Kagendra bukan laki-laki normal.
**********
__ADS_1
to be continued...