Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
109. Liburan


__ADS_3

Beberapa hari setelah acara lamaran Arfian yang diadakan satu hari setelah acara syukuran empat bulanan Prita, Yusuf dan Indriani mengajak Faras dan Faris berliburan ke Lombok. Awalnya Kagendra menolak karena takut mendapatkan nilai minus dari Sadiyah, tapi Indriani bersikeras untuk mengajak cucu-cucunya berlibur bersama.


“Jangan lupa untuk memberi kabar pada Iyah kalau Ibu dan Abah membawa anak-anak pergi liburan bersama.” kata Indriani memperingatkan karena ia tahu Kagendra masih dalam masa ujian.


Rencananya Kagendra akan memberitahu Sadiyah jika anak-anak sudah kembali dari liburan.


“Kamu ikut saja dengan kami sekalian juga ajak Iyah.” usul Indriani.


“Aa ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Iyah juga sepertinya masih di Jogja sampai minggu depan. Ibu dan Abah tenang saja bawa anak-anak. Nanti Aa yang akan mengabari Iyah.”


“Ibu merasa bersalah kepada Iyah. Apa mungkin Iyah marah kepada Aki, Abah dan Ibu sampai tidak mau menemui kami?” Indriani merasa sedih mengetahui kenyataan bahwa Sadiyah belum datang menemui mereka.


“Aa yang bersalah sama Iyah. Mungkin Iyah masih marah pada Aa jadi belum mau menemui Aki, Abah dan Ibu.”


“Semuanya memang kesalahan kamu, A.” Indriani mencubit gemas pipi Kagendra.


“Ibu… jangan memperlakukan Aa seperti anak-anak begini.” Kagendra tidak terima perlakuan Indriani yang mencubit pipinya.


“Bagi Ibu, Aa akan menjadi bocah kecilnya Ibu. Kalau Aa nakal, Ibu akan menjewer atau mencubit kamu.” Indriani kembali mencubit pipi Kagendra dengan gemas.


“Ibu…” teriak Kagendra kesal.


Indriani tertawa mendengar Kagendra yang merajuk. Jarang-jarang ia menyaksikan anak laki-lakinya yang cool merajuk.


*********


Sudah tiga hari Faras dan Faris berada di Lombok bersama dengan kakek dan nenek mereka.


“Aa ada dimana? Mana anak-anak?” Sadiyah langsung menanyakan keberadaan Faras dan Faris ketika ia menelepon Kagendra sesaat setelah pesawat yang ditumpanginya mendarat di bandara Soeta.


“Aras dan Aris sedang ikut Abah dan Ibu ke Lombok.” jawab Kagendra sedikit ragu. Ia khawatir Sadiyah akan marah jika ia mengatakan Faras dan Faris pergi ke Lombok bersama kedua orangtuanya.

__ADS_1


“Bersama Aa juga?” tanya Sadiyah dengan nada suara sedikit meninggi.


“Aa sedang ada di Bandung.” suara Kagendra semakin melemah.


“Kenapa Aa tidak memberitahu dan meminta izin sama Iyah kalau Aras dan Aris pergi ke Lombok?” nada suara sadiyah semakin tinggi.


“Yang bawa kan Abah dan Ibu, bukannya Aa. Seharusnya Abah dan Ibu yang minta izinnya sama kamu. Seharusnya kamu marahnya sama Abah dan Ibu, bukan marah sama Aa.” Kagendra mencoba membela diri walaupun ia tahu bahwa ia salah karena tidak memberitahu Sadiyah sebelum Faras dan Faris pergi.


“Aa kan Ayah mereka. Bagaimana sih? Baru diberi kepercayaan sedikit sudah tidak bisa menjalankannya. Bagaimana kedepannya?” Sadiyah kesal mendengar jawaban dari Kagendra.


“Kenapa kamu bilang Aa tidak bertanggung jawab? Kalau Aa menelantarkan mereka itu baru namanya tidak bertanggung jawab. Ini yang mengajak mereka berlibur ke Lombok kan Abah dan Ibu, kakek dan neneknya mereka. Aa juga sebagai Ayah mereka sudah mengizinkan Abah dan Ibu membawa mereka ke Lombok.” Kagendra juga sedikit kesal karena dituduh tidak bertanggung jawab.


“Seharusnya Aa memberitahu Iyah. Jangan seenaknya memberikan izin. Iyah ini Ibunya mereka bukan orang lain. Iyah kesal sama Aa.” Sadiyah langsung menutup sambungan teleponnya.


Setelah memutuskan sambungan telepon Kagendra, Sadiyah langsung menghubungi ponsel Indriani.


“Assalamu’alaikum Bu. Kata A Endra, Abah dan Ibu membawa anak-anak ke Lombok?”


“Ini dengan Iyah, Bu.”


“Iyah? beneran kamu Iyah? Apa kabarnya kamu, Nak? Kenapa kamu tidak mau menemui Aki, Abah dan Ibu. Ibu mewakili anak Ibu yang nakal itu memohon maaf sama kamu, Iyah. Kamu marah sama Aki, Abah dan Ibu sampai tidak mau menemui kami?” Indriani memberondong Sadiyah dengan banyak pertanyaan.


“Tidak begitu, Bu. Iyah yang seharusnya memohon maaf pada Aki, Abah dan Ibu karena tidak bisa menjadi menantu yang baik. Iyah yang salah karena sudah pergi dari rumah Aa. Iyah belum bisa menemui Aki, Abah dan Ibu karena Iyah harus mempersiapkan hati Iyah dulu. Iyah malu sama Aki, Abah dan Ibu. Maafkan Iyah, Bu.”


“Tidak…tidak…kamu tidak perlu minta maaf. Nanti sepulang dari Lombok, kamu harus menemui Aki, Abah dan Ibu. Atau kami saja yang menemui kamu, Nak.”


“Jangan, Bu. Setelah Abah dan Ibu pulang dari Lombok, Iyah janji untuk menemui Aki, Abah dan Ibu. Ibu jangan marah ya dengan sikap Iyah yang tidak sopan ini.”


“Tidak, Nak. Jangan bilang seperti itu. Oh iya, Abah dan Ibu membawa Aras dan Aris main ke Lombok.”


“Iya, Bu. Iyah khawatir karena A Endra tidak bilang sama Iyah kalau Aras dan Aris dibawa berlibur oleh Abah dan Ibu. Iyah sedikit marah sama A Endra.” ujar Sadiyah jujur.

__ADS_1


“Dasar anak nakal. Endra bilang kalau dia sudah bilang sama kamu kalau kami membawa Aras dan Aris. Biar nanti kalau ketemu, Ibu jewer telinganya.” ujar Indriani kesal.


Sadiyah terkekeh mendengar perkataan Indriani yang akan menghukum Kagendra dengan jeweran.


“Abah dan Ibu kapan pulangnya?” tanya Sadiyah.


“Kami disini satu minggu lagi. Tidak apa-apa kan?”


“Aras dan Aris tidak merepotkan, Bu?”


“Gak lah… mereka itu anak-anak yang baik banget. Ibu juga sampai heran bagaimana bisa anak Ibu yang nakal itu punya anak-anak sebaik Aras dan Aris. Ibu seperti sedang liburan bersama dengan Kagendra dan Sadiyah cilik. Aras benar-benar mirip Endra ketika dia masih anak-anak dan Aris pasti mirip kamu, kan?” Indriani tertawa setelah mengatai Kagendra.


Sadiyah meresponnya dengan tawa kecil. “Iya Bu. Aras sepertinya pek ketiplek Aa banget. Aris memang lebih mirip sama Iyah.”


“Iyah mau dibawakan apa dari Lombok? Nanti Ibu belikan disini.” tawar Indriani.


“Tidak usah repot-repot, Bu.” tolak sadiyah sopan.


“Tidak merepotkan buat menantu kesayangan Ibu mah. Nanti Ibu belikan satu set perhiasan mutiara. Kamu mau kan?”


“Terserah Ibu saja, asal jangan sampai merepotkan Ibu.” Sadiyah benar-benar merasa tidak enak dengan ibu mertuanya. Indriani masih bersikap baik dan sayang padanya walaupun ia sudah mengecewakan aki, ayah, dan ibu mertuanya.


“Ya sudah kalau begitu. Oh iya, kamu masih di Jogja? Kalau tidak capek, kamu susul saja kesini.”


“Iyah baru mendarat Bu. Sekarang sedang dalam perjalanan pulang.”


“Ya sudah kamu hati-hati di jalan. Jangan terlalu capek. Sudah dulu ya, itu Abah dan anak-anak sudah selesai berenangnya. Nanti kita sambung lagi.” Indriani segera memutuskan sambungan teleponnya karena Aras dan Aris sudah memanggil-manggil tidak sabar menunggunya.


********


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2