Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
174. Berakhir


__ADS_3

“A, dia sudah meninggal?” Sadiyah menatap tubuh Natasha yang sudah tidak bergerak. Ia merasa kasihan dengan nasib Natasha yang tidak seberuntung dirinya dalam hal cinta. Natasha membiarkan dirinya terus terbelenggu rasa cinta dan mungkin obsesi pada Kagendra. Andai saja Natasha bisa menerima keadaannya dengan ikhlas dan sabar, mungkin ia akan lebih bahagia dalam menjalani kehidupannya.


Natasha terlalu terobsesi pada Kagendra dan ingin mendapatkan cinta Kagedra kembali. Ia tidak menyadari bahwa perasaan cinta tidak bisa dipaksakan. Ia tidak bisa menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.


Kagendra mengangguk.


Perasaan Sadiyah bercampur aduk hingga ia sendiri bingung dalam menyikapi kematian Natasha, apakah harus senang karena tidak akan ada lagi perempuan lain yang akan mengganggu ketenangan rumah tangganya bersama Kagendra, ataukah harus bersimpati karena bagaimanapun, mereka perempuan dan memiliki perasaan yang sama, yaitu mencintai Kagendra.


“Natasha punya anak?” tanya Sadiyah.


“Ya, sepertinya begitu. Dia menitipkan putrinya padaku. Bagaimana pendapat kamu?”


“Iyah gak tau harus bersikap apa, A.”


“Ya sudah, nanti saja kita pikirkan. Yang terpenting sekarang adalah menemukan Aras.”


“Bos, Aras sudah sudah ditemukan, tapi keadaannya…” Badru meragu saat melaporkan keadaan Faras.


“Bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja, kan? Cepat tunjukkan jalannya!”


Sampai di ruangan tempat Faras disekap, Sadiyah menghambur memeluk Faras.


“Aras! Ibu kangen sekali sama Aras.” Sadiyah menciumi wajah Faras lalu memeluknya erat.


Namun, Faras tidak merespon pelukan Sadiyah. Tatapan Faras terlihat dingin. Saat melihat sikap dan tatapan dingin Faras, Kagendra menyadari bahwa keadaan Faras sangat tidak baik. Ia seperti melihat dirinya di masa lalu. Tatapan dan sikap yang ditunjukkan Faras, sama persis seperti sikap dan tatapan Kagendra dulu.


“Iyah, biarkan Aa yang mengurus Aras.”


“Tapi, A…”


“Aa tahu apa yang harus Aa lakukan. Aa harap kamu mempercayai Aa.” Kagendra menatap Sadiyah tajam seolah-olah perkataannya tidak bisa dan tidak boleh dibantah.


Kagendra menggandeng tangan Faras tanpa bicara dan Faras pun mengikutinya tanpa bicara. Sebelum pergi bersama Faras, Kagendra menyerahkan sisa urusan pada Kiran dan tim-nya.

__ADS_1


Sebelum Sadiyah bersama Alena dan Atep pergi meninggalkan tempat yang tidak ingin mereka lihat atau kunjungi lagi, mereka mencari putri Natasha dan menemukannya sedang tertidur di kamarnya. Putri Natasha tiba-tiba bangun dan menangis karena melihat banyak orang asing berada di dekatnya.


“Mana mommy?”


“Sekarang kamu sama tante, ya.” Sadiyah menggendong putri Natasha dan mencoba menenangkannya. “Nama kamu siapa, cantik?”


“Chloe,” jawabnya masih terisak.


“Jangan menangis lagi ya, Sayang. Chloe ikut sama Tante, ya.”


“Mommy mana?” tanya Chloe.


“Mommy-nya Chloe sedang pergi jauh. Sebelum pergi, Mommy menitipkan Chloe sama Tante,” jawab Sadiyah.


Natasha memang jarang membersamai putrinya, sehingga Chloe sudah terbiasa tanpa Natasha. Ia sering tinggal bersama pengasuhnya saja.


Chloe mengangguk. “Tante siapa?”


“Oh, Tante, mommy-nya kakak Aras, bukan?”


Sadiyah sedikit terkejut mendengar perkataan Chloe. Ia tidak menyangka Chloe mengenal Faras.


“Betul. Tante adalah ibunya kakak Aras. Kalau Chloe mau, boleh panggil Ibu juga.”


“Boleh?”


“Tentu saja.”


Chloe memeluk leher Sadiyah. Ia bisa merasakan kehangatan seorang ibu yang jarang ia dapatkan dari ibu kandungnya sendiri.


“Bagaimana dengan jasad Natasha?” tanya Sadiyah pada Alena.


“Sudah diurus sama anak buahnya Aa, Teh.” Atep yang menjawab.

__ADS_1


“Bagaimana dengan Marco?” tanya Sadiyah cemas. Ia ketakutan jika Marco akan terus mengganggunya jika belum berhasil ditangkap.


“Dia berhasil kabur, tapi beberapa anak buahnya berhasil dibekuk tim kepolisian.”


“Oh,”


“Jangan khawatir, Teh. Lena yakin dia tidak akan mengganggu Teteh lagi.”


“Mudah-mudahan saja, Len. Tapi, Teteh tetap khawatir, Len. Bagaimana kalau sebagai gantinya, dia malah mengganggu kamu dan Atep.”


“Ah, iya. Gimana ya, Teh? Mana tadi kita dengar kalau dia mau menarget adiknya Aa. Adiknya Aa kan cuma satu, dan itu Lena. Gimana ya, Teh?” Alena bingung dengan semua kejadian yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Gimana, Tep?”


“Gimana apanya?” tanya Atep sama-sama bingung.


“Kalau dia suka sama aku, terus pengen aku jadi pasangannya. Kamu gimana?” Alena menatap Atep penuh harap. Tentu saja ia berharap Atep menjawab sesuai dengan harapannya.


“Kalau kamu jodohnya sama dia, aku bisa apa?”


“Atep!” bentak Alena kecewa.


“Jangan marah atuh, Sayang. Aku hanya berharap kita memang berjodoh, dan Allah memampukan aku untuk menjaga bidadari yang Dia kirim untukku.”


Alena tersenyum mendengar penuturan Atep.


“Bisa juga kamu ngegombal, Tep,” goda Sadiyah.


“Ini bukan gombalan, Teh, tapi keluar dari lubuk hatiku yang paling dalam.”


Alena semakin melayang mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut kekasihnya.


*********


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2