
“Mau kemana, A?” tanya Sadiyah saat melihat Kagendra beranjak. Ia merasa kecewa karena Kagendra berhenti memijiti kakinya.
“Mau ke luar dulu sebentar. Cari makan. Dari tadi pagi, Aa hanya minum teh dan roti. Sekarang baru terasa laparnya.”
Sadiyah tertawa mendengar perkataan Kagendra. Kasihan juga suaminya belum makan dari pagi. Pasti lapar sekali.
“Oh iya, A. Aras dan Aris sudah diberitahu belum?”
“Tuh kan, Aa sampai lupa juga kasih tahu Aras dan Aris kalau adik-adik mereka sudah lahir.”
“Besok saja Aras dan Aris kesininya,” ucap Sadiyah.
“Siap, Bos. Aa telepon dulu Aras dan Aris di luar.”
******
Alena dan Atep menatap keponakan-keponakan mereka dari balik kaca.
“Kelihatannya kamu sudah cocok deh kalau jadi Ibu.”
“Apaan sih?” Atep tertawa melihat ekspresi wajah Alena saat merajuk.
“Satu bulan lagi kita sah. Mudah-mudahan kita juga punya anak kembar.”
“Tidak mau. Punya anak kembar itu capeknya double,” protes Alena.
“Kebahagiannya juga double kan?”
“Sok tahu.”
“Lihat saja Teh Iyah dan A Endra. Apa kamu melihat mereka susah dalam membesarkan anak-anak mereka? Tidak kan? Bahkan saat Teh Iyah dulu membesarkan Aras dan Aris sendirian, tidak pernah aku melihat Teh Iyah yang sedih karena punya anak kembar. Dulu, Teh Iyah hanya sedih karena tidak bersama dengan ayahnya Aras dan Aris,” ungkap Atep.
“Gimana nanti saja. Memangnya kita bisa mengatur sendiri mau punya anak kembar atau tidak. Biasanya sih kalau dalam keluarga itu sudah ada yang punya anak kembar, yang lainnya tidak akan punya anak kembar.”
“Kata siapa?”
“Aku. Kan tadi aku yang bilang seperti itu.”
“Iya, tante cerewet.” Atep mencubit gemas pipi wanita kesayangannya.
“Sakit Atep!” teriak Lena sambil memelototkan mata.
“Jangan ribut! Nanti bayi-bayinya terganggu.”
“Kamu yang salah kalau sampai para bayi itu menangis.”
Setelah puas melihat para keponakan baru, Alena dan Atep kembali ke depan ruangan Sadiyah. Mereka duduk di kursi panjang yang disediakan rumah sakit bagi para pengunjung.
“Capek, A?” tanya Alena pada Kagendra yang menghempaskan tubuh di sampingnya.
“Hm….”
“Aa sudah makan belum?”
Kagendra menggeleng.
“Sebentar lagi orang rumah mengantar makanan ke sini. Lena yakin Aa gak mau makan makanan yang ada di kantin rumah sakit, jadi Lena minta orang rumah buat bawa makanan buat Aa.”
“Makasih, Len.”
“Sudah ada nama buat mereka?”
__ADS_1
“Sudah.”
“Siapa?”
“Masih belum diputuskan. Nanti saja diumumkan kalau sudah pasti.”
“Jadi Lena musti panggil mereka siapa dong? Adiknya Aras dan Aris, begitu?”
“Ya tidak begitu juga. Nama panggilannya sudah ada. Aa bersikeras yang beri nama, soalnya Aa tidak punya andil sama sekali ketika pemberian nama buat Aras dan Aris.”
“Salah siapa saat itu tidak ada di samping Teh Iyah?” seloroh Atep.
“Sialan kamu, Tep. Dasar adik ipar kurang ajar.”
“Jadi siapa panggilan mereka?” tanya Alena lagi.
“Upin, Upin.”
Alena dan Atep hampir tersedak mendengar jawaban Kagendra. Bagaimana bisa dia memberi nama bayi kembarnya dengan karakter animasi populer dari negara tetangga.
“Serius, A? Nama mereka Upin dan Ipin?”
Kagendra tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Alena yang terlihat kecewa.
“Lho, memangnya kenapa dengan Upin dan Ipin? Nama yang populer dan tidak buruk.”
“Tapi masa iya dikasih nama Upin dan Ipin sih?”
Sepertinya Alena tidak terima jika keponakan-keponakan barunya diberi nama Upin dan Ipin.
“Memangnya kamu mau nama yang seperti apa?” tanya Kagendra.
“Yang normal atuh, A. misalnya, Rafa dan Rafi, Dani dan Doni, Arfa dan Arfi, Arfan dan Arfin, yang seperti itu.”
“Yey, memang mau kasih nama yang seperti bagaimana? Ribet amat sih, A.”
“Aa inginnya kasih nama Salma dan Salwa, tapi sayang mereka laki-laki, jadi tidak bisa diberi nama Salma dan Salwa.”
“Aa ingin punya anak perempuan, ya?”
“Inginnya seperti itu, tapi takdirnya dapat anak laki-laki lagi. Sekarang Aa punya empat orang anak laki-laki.”
“Lena sudah bisa membayangkan bagaimana empat orang bocah fotokopian Aa. Ribet ribet deh,” kata Alena sambil terkikik.
“Len, coba telepon rumah lagi. Aras dan Aris sudah pulang belum?” Kagendra meminta Alena untuk menelepon orang rumah karena ponselnya kehabisan daya.
“Terakhir Lena telepon sih, Aras dan Aris lagi dijemput dari sekolah.”
“Bilang sama orang rumah, Aras dan Aris besok saja antarkan ke sini.”
“Iya, A.”
“Abah dan Ibu sudah kamu hubungi?”
“Sudah, A. Abah dan Ibu lagi di jalan.”
“Aa masuk lagi ke dalam. Kalau makanannya sudah sampai, kamu kasih tahu Aa. Aa sudah lapar berat.”
“Siap, A.”
“Len, telepon kamu bunyi tuh,” kata Atep memberitahu.
__ADS_1
“Hallo, Assalamu’alaikum, Nan. Ada apa?” Iya, Mang Edi baru saja sampai.” Alena melihat Mang Edi, salah satu pekerja di rumah Kagendra datang tergopoh-gopoh sambil membawa rantang makanan.
“Gak. Aras dan Aris gak sama Lena.”
“Ada apa, Len?” tanya Atep khawatir.
Alena memberikan isyarat agar Atep tidak bertanya dulu.
“Kan biasanya dijemput sama Pak Sholeh. Pak Sholehnya sudah pulang belum?”
“Kemana mereka? Sudah coba telepon Pak Sholeh?”
“Kok bisa tidak bisa dihubungi? Pak Sholeh bawa hape, kan? Coba terus hubungi Pak Sholeh.”
“Apa?”
“Pak Sholeh masuk rumah sakit. Ini gimana sih?”
“Polisi?” seru Alena tertahan.
“Ada apa Len?” tanya Atep semakin khawatir.
“Aras dan Aris, Tep. Mereka belum pulang,” jawab Alena panik.
“Sini teleponnya. Biar aku yang bicara. Kamu tenang dulu.”
Alena menyerahkan telepon pada Atep. Air mata sudah bercucuran mengaliri pipinya. Ia benar-benar takut dan khawatir.
“Hallo, Nan. Ini Atep. Coba ceritakan dengan jelas.” Atep mengambil alih telepon yang sedang dipegang Alena.
“Den Aras dan Den Aris belum pulang dari tadi. Biasanya dari satu jam yang lalu sudah pulang. Nani kira mereka sedang bersama dengan Teh Lena. Makanya Nani telepon Teh Lena.” Di ujung telepon, Nani berbicara sambil terisak.
“Kenapa ada polisi? Bisa saya bicara sama mereka?”
“Selamat sore. Saya Dandi dari Polsek An***ani. Korban bernama Sholeh ditemukan tidak sadarkan diri di mobilnya. Kami sudah membawa saudara Sholeh ke rumah sakit terdekat.”
“Apa ada dua orang anak-anak berusia kira-kira enam tahun bersama dengan korban?” tanya Atep khawatir.
“Kami tidak menemukan anak-anak, hanya korban bernama Sholeh saja.”
“Kalau begitu saya akan melaporkan kehilangan.”
Atep menyerahkan kembali ponsel milik Alena.
“Bagaimana, Tep?”
“Aku khawatir mereka diculik, Len.”
“Apa? Apa yang dikatakan sama polisi?”
“Mereka tidak menemukan Aras dan Aris di mobil yang disupiri Pak Sholeh. Pak Sholeh ditemukan tidak sadarkan diri di dalam mobil.”
“Aras dan Aris kemana?”
“Belum diketahui pasti. Sekarang aku akan pergi ke kantor polisi untuk lapor.”
“Kita harus kasih tahu Aa.”
Atep mengangguk. Bagaimana pun buruknya kabar yang baru saja diterimanya, Kagendra harus mengetahui.
***********
__ADS_1
to be continued...