Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
54. Marah?


__ADS_3

Kagendra dan Sadiyah mengawali pagi mereka yang indah dengan kegiatan yang sekarang rutin mereka lakukan bersama.


Setelah selesai berlari pagi keliling komplek, Kagendra mengajak Sadiyah untuk sarapan bubur ayam yang berjualan di depan komplek.


“Aa, Iyah sudah masak di rumah. Jadi pagi ini kita sarapannya di rumah saja.” ujar Sadiyah.


“Kapan kamu masaknya?” Aa sih senang kalau sarapannya buatan kamu. Sudah lama Aa tidak sarapan buatan kamu. Ayo cepat kita pulang.” Kagendra berlari meninggalkan Sadiyah.


“Aa….jangan ninggalin Iyah.” teriak Sadiyah sambil berusaha mengejar Kagendra.


Mereka berdua memulai hari dengan pagi yang indah.


Sebelum badai datang menerjang bahtera rumah tangga mereka.


***********


Kagendra memulai pekerjaannya dengan semangat menggebu. Berkas-berkas di atas mejanya yang kemarin masih menggunung sekarang sudah mulai menipis. Ia ingin berkas-berkasnya selesai ia periksa sebelum jam makan siang karena ia ingin makan siang bersama dengan sadiyah di rumah. Walaupun ia harus menempuh perjalanan lebih dari 30 menit ditambah dengan kemacetan yang ruwet tapi ia tidak masalah dengan itu.


Sadiyah menyambut Kagendra di depan rumah setelah mendengar mobil Kagendra yang berhenti di depan rumah. Ia mencium punggung tangan Kagendra sebelum mereka berdua masuk ke dalam rumah.


“Kamu masak apa?”


“Masak menu baru. Mudah-mudahan Aa suka juga. Iyah lihat resepnya dari internet. Jadi belum tahu rasanya sesuai dengan lidahnya Aa atau tidak.”


“Kalau kamu yang masak, Aa pasti suka.” Kagendra menjawil hidung Sadiyah.


“Iyah masak fuyunghai udang, cah kangkung, ayam kuluyuk, sama sapo tahu.” Sadiyah meletakkan piring-piring di atas meja.


“Heeeem, sepertinya enak nih.” Kagendra sudah duduk manis menghadap hidangan yang menggugah selera.


“Aa sudah sholat dzuhur belum?” tanya Sadiyah.


“Sholatnya nanti saja setelah makan. Kalau makanan sudah terhidang, kita kan harus makan dulu biar tidak terbayang-bayang saat sholat.” ujar Kagendra yang perutnya sudah berbunyi riuh.


“Iya juga sih.” Sadiyah manggut-manggut.


Sadiyah mengambilkan nasi untuk Kagendra.


“Segini cukup nasinya?”


“Cukup. Nanti kalau masih lapar bisa nambah kan.”


Kagendra mengambil semua hidangan yang tersaji. Ia mulai menyendok nasi dan fuyunghai udang lalu menyuapkan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


“Enak, A?”


“Ueenak….” Kagendra menjawab sambil mengunyah nasinya.


Lalu Kagendra menyendok nasi dengan ayam kuluyuk dan cah kangkung dan menguyah dengan nikmat.


“Enak juga, A?”


Kagendra mengangguk-nganggukan kepalanya.


“Saponya coba juga, A.”


Kagendra mengambil sapo tahu dan memakannya dengan mata terpejam.


“Enak?”


Kagendra mengangguk-anggukan kepalanya dengan mata yang masih terpejam.


Tanpa menunggu lama, semua hidangan yang tersaji di meja makan sudah habis dimakan oleh Kagendra dan Sadiyah, dan tentu saja Kagendra yang menghabiskan paling banyak.


“Alhamdulillah, kenyang.” Kagendra mengusap-ngusap perutnya.


Sadiyah membereskan piring dan menyimpannya di tempat cuci piring.


“Biar Aa yang cuci piringnya nanti habis sholat.” tawar Kagendra.


“Mau pergi kemana?”


“Iyah mau ngecek kantor barunya Iyah.” jawab Sadiyah.


“Memangnya kamu punya kantor? Kenapa tidak bilang sama Aa?.” Kagendra berbicara dengan nada yang sedikit tinggi.


“Belum sempat bicara sama Aa.” jawab Sadiyah.


“Kalau kamu bilang kan Aa bisa bantu kasih kamu masukan. Atau Aa bisa kasih rekomendasi lokasi kantor yang bagus. Atau kamu bisa sewa di gedung tempat kantor Aa. Kenapa tidak berdiskusi dulu sama Aa?”


“Ini juga dadakan keputusannya. Baru minggu ini Iyah ambil keputusan. Kebetulan juga ada teman yang kasih rekomendasi lokasi yang bagus dengan harga yang tidak terlalu mahal.” Sadiyah membela diri.


“Tapi kan seharusnya kamu berdiskusi dulu sama Aa. Aa ini kan suami kamu. Kalau kamu seperti ini, kamu tidak menghargai Aa sebagai suami kamu.” Kagendra masih berbicara dengan nada tinggi karena marah dengan tindakan Sadiyah.


“Iyah minta maaf. Soalnya Aa kan kemarin-kemarin sibuk sekali, Iyah gak mau mengganggu Aa. Jangan marah yaa. Nanti kalau ruangan kantornya sudah beres, Iyah ajak Aa ke lokasi.” bujuk Sadiyah.


“Aa ikut sekarang. Tunggu Aa selesai sholat dulu.” perintah Kagendra.

__ADS_1


**********


Sadiyah sudah berada di dalam mobil Kagendra. Wajah Kagendra masih masam karena masih marah pada Sadiyah.


“Aa, masih marah ya?” tanya Sadiyah hati-hati.


“Suami mana yang tidak marah kalau istrinya melakukan hal yang penting tapi tidak memberitahu atau berdiskusi dengan suaminya. Suami mana yang baik-baik saja jika merasa tidak dihargai.” ternyata marahnya Kagendra belum juga surut.


“Kan Iyah sudah minta maaf. Masa tidak dimaafkan. Allah saja Maha Pengampun. Maafkan Iyah ya Aa sholeh, suami Iyah yang paling ganteng.” bujuk Sadiyah.


“Kamu bilang saya suami kamu yang paling ganteng. Memangnya kamu punya berapa suami sampai mengatakan kalau saya suami kamu yang paling ganteng. Siapa yang jadi pembandingnya?” Kagendra semakin tersulut emosinya.


“Aduh salah lagi deh.” cicit Sadiyah.


“Memang kamu yang salah.” ucap Kagendra ketus.


“Jadi Iyah musti ngapain supaya Aa tidak marah lagi?”


Kagendra tidak menjawab pertanyaan Sadiyah. Pandangannya fokus ke jalanan di depannya.


“Aa…..kok tidak menjawab?. Kalau tidak menjawab berarti Aa sudah memaafkan Iyah.”


“Bayar ganti rugi!” ucap Kagendra tegas.


“Bayar ganti rugi gimana maksudnya?” tanya Sadiyah heran.


“Bayar ganti ruginya nanti malam. Bayar full beserta dengan bunganya.” jawab Kagendra konyol.


Sadiyah masih bingung dengan apa yang dikatakan oleh Kagendra. Matanya menatap wajah Kagendra dengan polosnya.


“Di atas kasur!”


“Haaaaaa…..Aa geniiiit bin mesuuuuum….” teriak Sadiyah sambil mencubit lengan Kagendra setelah menyadari maksud dari perkataan Kagendra.


Kagendra tertawa terbahak melihat muka Sadiyah yang sudah memerah seperti tomat matang.


“Tidak apa kalau genit dan mesumnya sama istri sendiri. Tidak berdosa.”


Sekarang gantian Sadiyah yang cemberut.


“Jangan cemberut. Mukanya jadi jelek kalau cemberut seperti itu. Lagian kamu suka juga kan kalau Aa genitin dan mesumin.” Kagendra kembali tertawa terbahak-bahak.


“Iiiiih Aa memang the best.” Sadiyah memeluk lengan kiri Kagendra.

__ADS_1


**************


to be continued....


__ADS_2