
“Makan! Kamu mau mati muda, bocah?” teriak laki-laki bertubuh gempal itu.
Faras tetap bergeming. Sejak awal ia dan Faris diculik, tidak banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya. Saat saudara kembarnya masih disekap bersamanya, saudaranya lah yang lebih banyak bicara untuk melawan para penculik.
Sebelum peristiwa penculikan itu, Faras dan Faris dalam perjalanan pulang. Pak Sholeh, supir mereka tidak sengaja menabrak motor yang tiba-tiba memotong jalan mobil. Tidak menaruh curiga dengan korban yang ditabraknya, Pak Sholeh keluar untuk melihat kondisi korban.
Tak disangka, beberapa orang berpenampilan sangar mendekati Pak Sholeh dan memukulnya hingga pingsan. Saat itu jalanan menuju komplek perumahan memang sepi sehingga mudah bagi para penjahat itu untuk menculik Faras dan Faris yang ketiduran di kursi penumpang.
Saat Faras dan Faris terbangun, mereka sudah berada dalam kekuasaan para penculik. Tangan mereka diikat dan mulut mereka disumpal kain sedangkan mobil mereka di bawa ke tempat yang jauh dari tempat mereka diculik. Para penculik juga menghancurkan kamera yang ada di dashboard mobil. Sebelumnya mereka juga merusak cctv yang ada di sekitar lingkungan. Sepertinya mereka merencanakan penculikan ini dengan sangat matang.
Faras dan Faris dibawa ke sebuah gudang tua kosong. Sebenarnya Faras langsung memahami situasi kalau ada orang jahat yang menculik mereka. Ia langsung teringat dengan jam tangan yang dipakainya. Ayah mereka selalu mengingatkan untuk menekan tombol darurat jika terjadi hal yang berbahaya.
Faras berusaha menekan tombol darurat di jam tangan kendati tangannya terikat tali tambang. Namun, nahas para penculik itu mengetahui apa yang dilakukan oleh Faras sehingga mereka menghancurkan jam tangan yang dipakai oleh Faras dan Faris.
Tidak lama setelah jam tangan yang dipakai Faras dan Faris dihancurkan, para penculik itu membawa mereka ke tempat baru. Masih gedung tua kosong tetapi berada jauh dari pusat kota.
Setiap hari, Faras dan Faris diberi makanan dan minuman yang tidak higienis. Bagi Faras dan Faris yang memiliki ayah seperti Kagendra yang gila kebersihan, tentu saja tidak terbiasa makan dan minum yang tidak bersih. Jangankan makanan yang tidak bersih seperti yang mereka dapatkan dari para penculik, makan di restoran saja harus restoran yang sudah diperiksa dan mendapatkan pengakuan dari Kagendra. Namun, karena mereka lapar, makanan dan minuman yang tidak higienis pun terpaksa mereka makan.
Suatu waktu, mereka memiliki kesempatan untuk kabur karena para penculik itu pergi entah kemana. Setelah disekap di gudang tua, tangan mereka memang sudah tidak diikat lagi. Mereka disekap di sebuah kamar sempit dan pengap dengan jendela kecil yang sudah tidak berkaca.
“Aris, kamu berani tidak naik ke jendela?”
“Jendelanya tinggi, Aris takut.”
“Jangan takut! Kamu naik ke atas pundak aku. Terus naik ke jendela itu. Kamu harus lari dari sini. Bisa?”
“Terus Aras di sini gimana?”
__ADS_1
“Jangan pikirkan Aras. Yang penting kamu harus lari terus cari bantuan. Bisa?”
“Aris takut, Aras. Bagaimana kalau mereka menangkap Aris lagi.”
“Makanya kamu harus lari sekencang-kencangnya. Terus cari bantuan ke orang baik.”
“Tapi Aris takut kalau mereka memukul Aras lagi. Kemarin-kemarin saja mereka mukul Aras gara-gara Aris.”
Faris mengingat kembali pemukulan pertama terhadap saudaranya yang ia lihat. Seumur hidupnya, Faras dan Faris tidak pernah mendapatkan perlakuan yang kasar dari orang-orang dewasa di sekitar mereka. Pemukulan yang dilakukan oleh salah satu penculik itu kepada Faras sangat membekas dalam benaknya.
Seorang penculik kesal karena Faras dan Faris menolak untuk makan. Karena merasa lapar tetapi tidak ingin memakan makanan yang disediakan oleh para penculik, Faris mulai menangis. Tidak senang dengan tangisan Faris, salah seorang penculik mengancam untuk memukul. Bukannya menghentikan tangisan, Faris malah semakin mengeraskan tangisannya.
Merasa terganggu dengan tangisan Faris, penculik itu hendak memukul Faris. Sebelum peculik itu melabuhkan bogem mentahnya ke tubuh Faris, tiba-tiba Faras berdiri di hadapan Faris dan menerima pukulan yang dilancarkan si penculik. Saking kerasnya pukulan itu, tubuh kecil Faras terjengkang ke belakang.
“Brong, jangan pukul bocah itu!” seru penculik yang lain.
“Aku kesal karena anak itu menangis terus.”
“Sudahlah. Asal kamu tidak cerita kenapa wajah anak itu lebam, Bos tidak akan tahu. Lagian Bos tidak akan datang ke sini sampai minggu depan.”
“Aras…” Faris menghambur ke tubuh saudaranya yang terhempas ke sudut ruangan.
Faras meringis kesakitan setelah menerima pukulan di wajahnya. Tubuhnya pun terbentur ujung meja sebelum tersungkur di sudut ruangan.
“Sakit?” tanya Faris dengan air mata berurai.
“Hm…”
__ADS_1
“Maafin Aris. Karena Aris, Aras jadi kena pukul.”
Faris memeluk tubuh saudaranya.
“Jangan nangis! Anak laki-laki gak boleh nangis. Nanti Ayah marah kalau lihat Aris nangis.”
“Hiks…hiks. Aris kangen ayah. Kangen ibu juga.”
“Kalau Aris kangen ayah dan ibu, Aris gak boleh nangis,” kata Faras sambil menahan sakit di area wajah dan punggungnya. “Aras juga tidak menangis. Nih lihat! Gak ada air matanya.”
Melihat tatapan tajam Faras, Faris berusaha menghentikan tangisnya walaupun masih terdengar isakan.
Menahan rasa sakit dan dinginnya lantai tempat mereka tidur, tubuh kecil Faras tidak bisa lagi bertahan. Ia terserang demam dan tubuhnya mengigil. Sepanjang malam, Faras mengingau memanggil-manggil ayah dan ibunya.
Faris terbangun mendengar igauan saudara kembarnya.
“Aras! Aras kenapa?”
Tidak mendapatkan jawaban langsung, Faris mengguncang-guncang tubuh Faras. Saat tangan Faris tak sengaja menyentuh kulit Faras yang bersuhu tinggi, ia semakin mengguncang tubuh Faras agar segera bangun. Ia merasa sangat ketakutan.
“Aras! Bangun Aras!”
Faras membuka matanya tetapi tidak berdaya untuk bangun. Ia kembali menutup matanya merasakan rasa sakit yang sangat di kepala dan sekujur tubuhnya.
“Aras sakit?”
Tubuh Faras bergeming dan mulutnya tertutup tidak kuasa untuk menjawab pertanyaan Faris.
__ADS_1
************
to be continued ...