Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
64. Bercerai?


__ADS_3

“Kamu sudah yakin dengan keputusan kamu, Neng?” tanya Darmawan ketika Sadiyah mengutarakan niatnya untuk menggugat cerai Kagendra.


“Sudah, Mang. Iyah sudah pikirkan matang-matang. Iyah sudah tidak sanggup lagi kalau harus bertahan jadi istrinya A Endra. Iyah sudah ceritakan semuanya pada Bi Ita kemarin dan Bi Ita menyerahkan semua keputusan pada Iyah.”


“Bukan begitu Neng. Bi Ita kan menyarankan Iyah untuk sholat istikhoroh dulu.” nasehat Rostita.


“Iyah sudah mantap Bi. Apalagi semalam ketika A Endra mengirim pesan pada Iyah, ia berbohong lagi. Sebenarnya Iyah memberi kesempatan terakhir kepada A Endra. Tapi lagi-lagi A Endra berbohong sama Iyah. Setelah mendapatkan sekali lagi kebohongan dari A Endra, Iyah semakin yakin dengan keputusan yang Iyah ambil.”


“Bi Ita sama Mamang hanya berharap kebahagian Neng saja. Mamang harap keputusan ini sudah sangat dipikirkan dengan matang bukan diambil hanya karena emosi sesaat.” Darmawan masih mencoba membujuk Sadiyah untuk merubah keputusannya menggugat cerai Kagendra. Walaupun ia melihat wajah sedih dari keponakannya, ia masih berharap tidak ada perceraian dalam hidup Sadiyah.


“Iyah sudah mengumpulkan bukti-bukti dari perselingkuhan A Endra. Dan ini pasti cukup untuk hakim memutuskan kata cerai di pengadilan.” ujar Sadiyah dengan suara bernada sedikit tinggi.


Darmawan dan Rostita hanya bisa menghela nafas setelah mendengar keputusan tegas dari keponakan mereka.


“Foto-fotonya akan Iyah cetak dan Iyah nanti minta tolong sama Mang Awan dan Bi Ita untuk menyampaikannya pada keluarga Aki Musa. Sekaligus tolong sampaikan permintaan maaf Iyah untuk mereka. Sebenarnya Iyah sudah menulis surat juga untuk Aki Musa, Abah dan Ibu.”


“Perlu Neng tahu, Mamang dan Bibi hanya bisa mendo’akan dan mendukung Neng. Jika Neng memang sudah membuat keputusan untuk bercerai dengan Kagendra, Mamang dan Bibi hanya bisa mendukung. Hanya saja, Mamang minta Neng mempertimbangkan keputusan Neng ini dengan baik jangan sampai salah ambil keputusan. Serahkan pada Allah dalam mengambil keputusan.”


“Iyah sudah yakin. Iyah juga ingin bahagia dan Iyah tidak akan bahagia jika bersama dengan A Endra. Sudah cukup Iyah bersabar menghadapi suami yang tidak mencintai istrinya sendiri dan malah mengkhianati ikatan suci pernikahan. Iyah tidak egois kan kalau memang ingin berpisah saja?”


“Bi Ita hanya ingin Iyah bahagia, itu saja.” Rostita mengelus kepala Sadiyah dengan lembut, kemudian dipeluknya keponakan tersayangnya itu.

__ADS_1


‘Hari ini Iyah akan mendaftarkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama, lalu sorenya Iyah akan langsung pergi. Iyah tidak ingin A Endra terpaksa untuk mencari Iyah karena desakan Aki Musa ataupun Abah karena Iyah yakin setelah Aki Musa dan Abah mengetahui kejadian ini, pasti mereka akan memaksa A Endra untuk mencari Iyah.”


“Kamu mau pergi ke mana? Di sini rumah kamu. Kamu bisa minta perlindungan dari kami. Bi Ita tidak mau jauh dari kamu apalagi dengan kondisi kamu yang seperti ini.


“Jangan khawatir, Bi. Iyah mau pergi ke rumah kita yang di desa Cibeber. Di sana kan Iyah punya sawah pemberian dari Ayah. Iyah mau ke sana saja. Mau bangun usaha baru sekalian memberikan kesempatan lapangan kerja kepada masyarakat di sana.”


“Neng sudah merencanakan sejak jauh hari?” tanya Darmawan.


“Iya Mang, Iyah sudah ada rencana dan nanti dibantu sama temen Iyah. Tapi Iyah minta Mang Awan dan Bi Ita harus merahasiakan ini sama Aki Musa sekeluarga, terutama A Endra.”


Darmawan dan Rostita hanya bisa menganggukkan kepala mereka tanda menyetujui rencana Sadiyah.


“A Endra itu punya pekerjaan lain selain agensi periklanan. Dia punya agen-agen gitu seperti mata-mata yang suka nguntit orang-orang. Jadi selama 3 sampai 5 tahun, Bi Ita dan Mang Awan jangan pernah mengunjungi Iyah.”


“Ya mirip-mirip seperti itu lah. Anak buahnya banyak dan bisa menemukan orang dalam waktu singkat. Sudah banyak itu para pejabat dan artis-artis yang pakai jasanya A Endra buat nguntit orang atau buat jadi bodyguard gitu. Iyah pernah gak sengaja lihat data para anak buahnya. Pokoknya menyeramkan lah.” Sadiyah melebih-lebihkan ceritanya agar Rostita merasa khawatir sehingga tidak akan pernah membocorkan dimana tempat tinggal Sadiyah nanti.


“Ah kamu bercanda.” ucap Darmawan sambil bergidik ngeri karena cerita Sadiyah yang dilebih-lebihkan.


“Iyah gak bercanda, Mang. Iyah juga pernah kok diikuti anak buahnya A Endra. Gak tau sih maksudnya apa, tapi Iyah sadar kalau Iyah diikuti beberapa hari sama anak buahnya A Endra.” sebenarnya Sadiyah tidak menyadari ketika Faiq, anak buah Kagendra mengikutinya selama beberapa hari. Hanya saja, Kagendra pernah cerita kalau dia tahu semua aktivitas Sadiyah karena laporan dari anak buahnya.


Karena takut Kagendra masih menyuruh anak buahnya mengikuti atau mungkin menjaganya selama Kagendra berada di luar negeri, Sadiyah memilih untuk berhati-hati ketika merencanakan kepergiannya ke rumah keluarga besarnya. Sadiyah sengaja mengendap-ngendap keluar pada tengah malam untuk memilih tinggal di hotel. Mak Isah dan Mang Aep terlihat pergi dari rumah tanpa Sadiyah sehingga jika ada anak buah Kagendra yang sedang mamantaunya, mereka tidak akan menyadari jika Sadiyah sudah tidak ada di rumah itu lagi.

__ADS_1


“Hebat juga anak itu punya agen mata-mata seperti itu.” puji Darmawan kagum dengan pekerjaan sampingan dari suami keponakannya itu.


***********


Setelah pulang mendaftarkan perceraian ke Pengadilan Agama, Sadiyah segera berkemas membereskan barang bawaannya untuk dibawa ke desa Cibeber.


“Bi, Iyah minta Mak Isah menemani Iyah. Boleh kan?”


“Boleh. Sangat boleh. Bi Ita akan lebih tenang kalau kamu ditemani oleh Mak Isah. Lagian desa Cibeber kan  kampung halamannya Mak Isah. Di sana ada anak dan keponakannya Mak Isah yang sudah dewasa. Mereka bisa membantu kamu dalam merintis usaha baru di sana.”


“Asyik.” seru Sadiyah yang sepertinya sedikit melupakan kesedihan atas gagalnya kisah cintanya bersama Kagendra. Ia sudah terbayang-bayang akan merintis usaha baru di desa Cibeber.


“Tapi Neng, hati Bi Ita kok belum merasa sreg kalau kamu berpisah dengan Kagendra. Bi Ita masih punya keyakinan kalau masalah antara kamu sama Kagendra hanyalah kesalahpahaman.”


“Ah sudah jelas kok bukti-buktinya. Bi Ita jangan membela lagi A Endra. Iyah memilih keputusan untuk berpisah dengan A Endra karena Iyah tidak ingin semakin membenci A Endra. Iyah tulus sayang sama Aki Musa, Abah dan Ibu, juga sama Lena. Jadi sebelum hati Iyah menjadi benci sama A Endra, Iyah memilih untuk mundur dan menyerah.”


Rostita menanggukkan kepalanya dan memandang wajah Sadiyah dengan lekat.


“Keras kepalanya kamu mirip sama A Nandang.” lirih Rostita mengenang kakak laki-lakinya yang sudah tiada itu.


*******

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2