Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
69. Mengobati Luka


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju rumahnya, Kagendra menghubungi Rudi dan memerintahkannya untuk membawa peralatan P3K ke rumahnya.


“Tapi Bos, saya kan sedang libur. Bos sendiri yang memberi liburan pada saya setelah perjalanan dinas selama satu minggu. Saya juga butuh liburan, Bos.” protes Rudi ketika Kagendra memerintahkan dirinya untuk segera melaksanakan perintahnya.


“Saya tidak mau tahu. Saya tunggu di rumah saya.” bentak Kagendra dengan suara tinggi.


“Tapi Bos….”


“Kamu dimana?”


“Di rumah, Bos.” jawab Rudi dengan pasrah karena tahu ia tidak bisa menolak perintah bosnya itu.


“Belum ada rencana apapun, kan?”


“Belum sih, Bos. Tapi kan saya….” Rudi masih berusaha untuk menolak perintah dari Kagendra.


“Daripada kamu berdiam diri di rumah sendirian, lebih baik kamu datang ke rumah saya dan membantu saya membersihkan dan mengobati luka saya.”


“Memangnya kenapa Bos bisa terluka?”


“Panjang ceritanya. Kalau kamu penasaran dengan ceritanya. Cepat kamu datang ke rumah saya. Segera!”


“Saya tidak penasaran dengan cerita dibalik terlukanya Bos.” sahut Rudi asal.


“Cih…kurang ajar kamu. Saya tidak mau tahu. Pokoknya kamu harus datang membawa peralatan P3K ke rumah saya. Jangan lupa beli obat pereda sakit di apotek.”


“Tapi Bos…”


“Tidak ada tapi…saya tunggu di rumah.” setelah mengucapkan perintah, Kagendra langsung menutup sambungan teleponnya.


“Dasar Bos kejam. Dia sendiri yang memberi saya libur, eh dia juga yang mencabut hak liburan saya.” gerutu Rudi.


********


Ketika Kagendra sampai di rumahnya, Rudi sudah menunggu di teras depan. Rudi membukakan pintu gerbang agar Kagendra bisa memasukkan mobilnya ke garasi.


Rudi melihat Kagendra yang keluar dari mobilnya. Matanya terbelalak kaget melihat penampilan Kagendra yang mirip anak SMA  habis tawuran dengan anak preman jalanan.


“Bos, kenapa bisa luka-luka seperti itu?”


“Nanti saja ceritanya. Cepat kamu bersihkan dulu luka saya.”

__ADS_1


Rudi segera mengambil kotak P3K yang dibawanya dan mengikuti Kagendra yang berjalan tertatih masuk ke dalam rumah. Kagendra langsung menaiki tangga menuju kamarnya.


Di dalam kamarnya, Kagendra menanggalkan kamejanya yang sudah tidak berbentuk kameja utuh dengan bercak darah di hampir seluruh bagian.


Rudi terkesiap melihat luka-luka yang ada di punggung dan lengan Kagendra. Di beberapa tempat tampak luka memar dan di tempat yang lain kulitnya terkelupas dengan darah yang masih belum mengering.


Sebelum Rudi membersihkan luka-luka pada punggung Kagendra, ia berjalan menuju wastafel dan mencuci tangannya terlebih dahulu untuk menghindari terjadinya infeksi pada luka-luka Kagendra.


“Bos, ini siapa yang menyiksa Bos sampai begini rupanya?”


“Aww…pelan-pelan, Rud.” Kagendra mengaduh kesakitan ketika Rudi membersihkan luka-luka Kagendra di punggung dengan air hangat dan sabun.


“Tahan dulu, Bos. Ini lukanya harus dibersihkan dengan benar. Kalau tidak bersih bisa terjadi infeksi dan bakal lama sembuhnya.” Rudi menekan-nekan area luka dengan menggunakan kain kasa.


Kagendra kembali berteriak kesakitan ketika Rudi menekan-nekan lukanya dengan menggunakan kain kasa.


“Sialan kamu Rud. Kamu sengaja menekan lukanya dengan kasar, huh?. Saya hajar kamu kalau kamu memang sengaja menekannya terlalu keras.”


“Mana bisa Bos menghajar saya dalam keadaan seperti ini. Baru ditekan sedikit saja sudah mewek.” sindir Rudi sambil terus membersihkan luka bosnya dengan kain kasa.


Kagendra diam saja mendengar sindiran dan omelan dari Rudi.


Setelah selesai membersihkan luka-lukanya, Rudi mengoleskan sedikit salep antibiotik untuk mencegah infeksi dan mempercepat proses penyembuhan luka.


Rudi mengompres dingin luka-luka memarnya untuk menyempitkan pembuluh darah yang mengalami cedera agar luka memar tidak semakin meluas, serta untuk mengurangi bengkak dan nyeri.


“Seharusnya luka memarnya saya bebat. Tapi selain ada luka memar, Bos juga ada luka terbuka yang berdarah. Jadi saya tidak bisa membebat luka memarnya.”


Kagendra tidak merespon. Tubuhnya mulai menuntut hak untuk beristirahat karena sejak pulang dari perjalanan bisnisnya, ia belum sempat beristirahat sama sekali.


“Minum paracetamolnya dulu Bos supaya rasa sakitnya berkurang dan Bos bisa beristirahat dengan nyaman.”


Rudi melihat mata Kagendra yang mulai terpejam.


“Bos, bangun Bos. Minum dulu obatnya.” Rudi menggoyang-goyangkan tubuh Kagendra dengan pelan.


Mata Kagendra terbuka lalu ia duduk di atas kasur dan meminum obat yang disodorkan oleh Rudi.


Segera setelah meminum obatnya, Kagendra langsung berbaring kembali dengan posisi telungkup karena ia tidak sanggup untuk berbaring dengan punggung penuh luka.


Tidak lama kemudian, Kagendra sudah terlelap tidur.

__ADS_1


Rudi meneruskan membersihkan dan mengobati luka-luka Kagendra yang ada di lengan, tangan dan wajah kendati bosnya itu sudah tertidur dengan sedikit mendengkur.


“Sebenarnya siapa yang sudah menyiksa Bos sampai babak belur begini?”


Setelah selesai mengoleskan salep antibiotik pada luka yang terbuka dan mengoleskan oparin gel pada luka memarnya, Rudi segera turun menuju ke dapur untuk membuatkan bubur untuk Kagendra.


Rudi mengistirahatkan dirinya di atas sofa di ruang tengah setelah selesai membuatkan bubur. Walaupun Kagendra suka seenaknya jika sudah memerintahkan sesuatu, tapi Rudi tidak pernah bisa menolak keinginan Kagendra.


Kagendra dan Rudi adalah teman sejak zaman kuliah dulu. Walapun Rudi berasal dari keluarga yang sederhana, tapi tidak membuat Kagendra memperlakukan Rudi seperti orang yang berada di bawah levelnya. Itulah yang membuat Rudi sangat menghormati dan menyayangi Kagendra. Walaupun terkadang kelakuan Kagendra menyebalkan tapi tidak membuat Rudi membencinya. Rudi sangat berterima kasih pada Kagendra karena telah memberikan kesempatan kepadanya untuk bekerja sebagai sekretarisnya. Rudi bukanlah sekretaris biasa karena hampir semua rahasia Kagendra diketahui oleh Rudi. Kagendra juga memberikan beberapa persen saham perusahaannya kepada Rudi.


Sebenarnya Kagendra pernah memberikan posisi manajer di perusahaannya tapi Rudi menolak posisi tersebut. Ia lebih nyaman bekerja sebagai sekertaris spesial Kagendra.


Setelah Kagendra terbangun, Rudi menyodorkan semangkuk bubur pada Kagendra tapi Kagendra tidak menerima mangkuk yang disodorkan oleh Rudi.


“Makan dulu, Bos.”


“Tidak mau.”


“Makan, Bos!” perintah Rudi dengan berani.


Kagendra tidak merespon perintah Rudi.


Rudi mulai kesal karena tidak mendapatkan respon yang baik dari Kagendra. Ia ambil sesendok bubur dan mendekatkannya pada bibir Kagendra tapi bosnya yang mengesalkan itu tetap menutup mulutnya.


“Makan, Bos. Kalau tidak makan, saya pulang.”


Kagendra masih terdiam tidak merespon perintah, bujukan dan ancaman dari Rudi.


“Terserah Bos saja deh.” dengan kesal Rudi meletakkan mangkuk yang berisi bubur itu di atas nakas dan segera berlalu meninggalkan Kagendra.


Kagendra masih terdiam, asyik dengan lamunannya sendiri.


Setelah beberapa saat, Rudi kembali memeriksa keadaan Kagendra dan ia melihat Kagendra masih dalam posisi yang sama seperti tadi.


Rudi memasuki kamar Kagendra dan mengambil bubur yang sudah dingin.


“Bos….” panggil Rudi.


Bukannya menjawab, Kagendra malah meneteskan air mata.


Rudi meninggalkan Kagendra sendirian. Ia yakin Bosnya itu tidak ingin diganggu. Ia akan menunggu Kagendra yang sedang berkontemplasi dengan kesalahannya.

__ADS_1


************


to be continued...


__ADS_2