Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
43. Ketagihan


__ADS_3

Setelah selesai sholat Isya berjamaah di masjid komplek, Kagendra mencari-cari sesuatu di dalam dapur.


“Cari apa, A?” tanya Sadiyah yang tiba tiba saja sudah berada di belakang Kagendra.


Kagendra yang kaget, menjatuhkan sendok yang sedang dipegangnya.


Sadiyah tersenyum melihat tatapan Kagendra yang setajam silet, sepertinya marah karena dikagetkan oleh Sadiyah.


“Jangan melotot begitu. Terlihat menakutkan seperti monster.” canda Sadiyah.


Kagendra mendengus sambil mengambil sendok yang ada di lantai.


“Aa tadi cari apa?” tanya Sadiyah lagi.


“Ceker angsio yang tadi siang.” jawab Kagendra.


“Sudah habis, A. Tadi sisanya dibungkus dan dibawa sama Lena.” jawab Sadiyah santai.


“Kenapa kamu tidak menyisakannya buat saya?” Kagendra kesal karena makanan favorit terbarunya dibawa oleh adiknya yang serakah.


“Aa kan gak minta disisakan, jadi Iyah tadi bungkuskan semuanya buat Lena.” jelas Sadiyah merasa sedikit bersalah.


“Seharusnya kamu tahu kalau saya makan masakan kamu dengan porsi yang banyak berarti saya suka dengan makanan itu.” ketus Kagendra.


“Mana Iyah tahu kalau Aa suka ceker angsionya. Dari sejak di pasar saja Aa sudah menghina ceker ayam dengan menyebutnya menjijikan.” sindir Sadiyah.


“Iya tapi kan saya suka ceker angsionya. Tadi saya makan banyak, berarti saya suka. Kenapa malah kamu bungkuskan semuanya buat si Lena. Yang jadi suami kamu itu saya atau Lena?”


Sadiyah terkikik mendengar perkataan Kagendra yang marah-marah seperti anak kecil yang mainannya diambil anak lain.


“Jangan marah-marah. Besok Iyah buatkan lagi ceker angsionya. Mau sekalian juga tidak dibuatkan ceker ayam bumbu merconnya?’ tawar Sadiyah.


“Saya tidak suka yang pedas. Kamu buatkan saja yang rasa lainnya asalkan jangan pedas.” pinta Kagendra yang kemarahannya sudah merada.


“Siap, Bos.”


“Buatkan yang banyak.” perintah Kagendra.


“Besok kan hari minggu. Mau tidak temani lagi belanja cekernya di pasar?” tanya Sadiyah.


“Ya.” setelah menjawab, Kagendra langsung melengos.

__ADS_1


“Lucu.” senyum Sadiyah semakin terkembang menghiasi wajah cantiknya.


Keesokan paginya, Kagendra menepati janjinya mengantar Sadiyah berbelanja di pasar tradisional. Setelah meminta dimasakkan ceker angsio, Kagendra juga meminta masakan lainnya untuk jadwal selama satu minggu. Alhasil mereka berbelanja banyak lagi. Setelah selesai berbelanja, Kagendra menenteng dua tas belanja yang super besar. Belanjaan mereka hari ini lebih banyak daripada belanjaan sebelumnya karena banyaknya permintaan Kagendra. Beruntung hari ini, Kagendra mengantar dengan menggunakan mobilnya sehingga ia tidak kesulitan untuk membawa dua tas belanja yang ditentengnya dan juga dua tas belanja lainnya yang ditenteng oleh Sadiyah.


Sudah hampir dua bulan lebih, Kagendra dan Sadiyah menempati rumah baru mereka. Selama dua bulan itu, mereka menjalani kehidupan pernikahan mereka dengan harmonis selayaknya pasangan pengantin baru yang saling mencintai.


Kagendra pun semakin ketagihan dengan masakan buatan Sadiyah. Sepertinya, Kagendra tidak akan bisa lagi makan selain masakan buatan Sadiyah. Jika kebetulan ia harus makan di restoran bersama dengan klien atau sekretarisnya, pasti ia akan membanding-bandingkan masakan di restoran tersebut dengan masakan buatan Sadiyah.


Sadiyah semakin merasa bahagia dengan kehidupan pernikahannya. Setelah sempat tidak percaya akan keberlangsungan pernikahannya karena hadirnya cinta pertama Kagendra, sekarang Sadiyah kembali percaya diri. Ia percaya bahwa Kagendra akan mencintainya juga. Memang benar kata orang yang menyatakan bahwa untuk memuaskan suami, puaskanlah perutnya. Selain dengan cara memuaskan yang lainnya juga.


Memikirkan cara memuaskan yang lainnya membuat pipi Sadiyah terasa panas. Ia yakin sekarang warna pipinya sudah semerah kepiting rebus.


Sadiyah menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat untuk mengusir pikirannya yang membuat wajahnya memerah. Sadiyah kembali memusatkan pikirannya pada bahan-bahan masakan yang ada di hadapannya.


Tadi pagi, Kagendra meminta untuk dimasakkan sayur asem, ikan goreng dan sambal terasi. Jarak rumah baru mereka ke kantor Kagendra lebih jauh dibandingkan jarak dari apartemen mereka dulu. Karena jarak yang lebih jauh, Sadiyah menggunakan motor matic yang sebulan lalu dibelikan oleh Kagendra untuk dipergunakan oleh Sadiyah dalam mengantar makan siang Kagendra atau kegiatan Sadiyah lainnya.


Setelah sampai di gedung kantor Kagendra, Sadiyah langsung masuk dan naik ke lantai tempat ruangan Kagendra berada. Semua karyawan Kagendra sekarang sudah mengenal Sadiyah sebagai istri dari Kagendra sehingga Sadiyah sudah tidak sungkan lagi berkunjung ke kantor Kagendra.


Sesampainya di depan pintu ruangan Kagendra, Sadiyah tidak melihat Rudi, sekretaris Kagendra yang biasanya duduk di tempat biasanya. Ia hanya melihat Elsa, sekretaris Kagendra yang lainnya.


“Permisi Mbak Elsa, suami saya ada di ruangannya?” tanya Sadiyah pada Elsa yang sedang sibuk dengan pekerjaanya.


“Eh, ada Bu Sadiyah.” Elsa sedikit kaget melihat Sadiyah yang sudah berdiri di hadapannya.


“Maaf Bu. Tadi Bapak keluar sejak jam 10 dan belum kembali.” jawab Elsa.


“Perginya bersama Pak Rudi?” tanya Sadiyah.


“Eh, ada Bu Bos. Silahkan masuk ke ruangan Bos, Bu.” sebelum Elsa menjawab keberadaan Rudi, ia sudah berada di hadapan Sadiyah sekarang.


“Pak Rudi tidak bareng sama suami saya?” tanya Sadiyah heran karena melihat Rudi yang berdiri di hadapannya sambil membawa secangkir kopi. Sepertinya Rudi baru kembali dari ruang pantry.


“Bos pergi dari jam 10 dan belum kembali. Bos pergi diluar jadwal yang saya susun. Jadi saya juga tidak mengetahui kemana Bos pergi. Beliau tidak bilang pergi kemana.” jelas Rudi.


“Bu Bos mengantar makan siang seperti biasanya ya? Langsung saja masuk ke ruangan Bos.” Rudi membukakan pintu ruangan Kagendra.


Walaupun sekarang sikap Kagendra jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya tapi tidak membuat Sadiyah seenaknya masuk ke dalam ruangan Kagendra tanpa diketahui oleh Rudi. Setelah masuk ke dalam ruangan Kagendra dan menyimpan rantang makanan, Sadiyah langsung masuk ke dalam ruangan pribadi Kagendra yang biasanya dipakai Kagendra untuk sejenak mengistirahatkan tubuhnya yang lelah bekerja. Sadiyah mengerjakan sholat dzuhur di ruangan tersebut.


Setelah selesai sholat dan menunggu sekitar 30 menit. Sadiyah yang sudah memiliki janji dengan calon customernya segera ke luar dari ruangan Kagendra dan menghampiri meja kerja Rudi.


“Pak Rudi, sepertinya saya tidak bisa menunggu suami saya kembali ke kantor. Saya ada janji dengan customer baru satu jam dari sekarang dan lokasinya agak jauh dari sini. Sepertinya saya titip pesan saja ya. Saya sudah mengirim pesan pada suaminya saya, tapi sepertinya ponselnya tidak aktif.”

__ADS_1


“Baik Bu Bos. Nanti saya sampaikan pesannya jika Bos sudah kembali.”


“Terima kasih ya Pak Rudi. Saya pamit dulu.”


“Hati-hati di jalan Bu Bos.” ucap Rudi sambil menatap punggung Sadiyah dengan ekspresi sedih.


“Kalau dugaan saya benar. Bos sudah benar-benar bodoh dan keterlaluan. Bodoh karena lebih memilih batu kali biasa dibandingkan batu berlian. Keterlaluan karena menyia-nyiakan dan menyakiti istri yang sholehah.” Rudi bersimpati pada malangnya nasib Sadiyah yang bersuamikan seorang Kagendra, pria bodoh yang tidak bisa membedakan mana perempuan yang baik dan tidak. Pria bebal yang mata hatinya tertutup oleh cinta semu.


“Semoga Allah senantiasa melindungi dan membuat Bu Sadiyah bahagia.” do’a Rudi dalam hatinya.


“Pak Rudi, sepertinya dugaan saya benar deh.” bisik Elsa


“Dugaan apa?” tanya Rudi heran.


“Dugaan kalau Pak Kagendra sedang menemui kekasih gelapnya, si pelakor itu.” Elsa berbisik-bisik karena takut suaranya terdengar oleh staf lainnya yang ada di ruangan itu.


“Jangan suka ngegosip!” elak Rudi.


“Feeling saya kuat, Pak. Kalau urusan pekerjaan kan pasti Pak Kagendra membawa Pak Rudi. Nah ini, dia pergi sendiri dan juga tadi perginya terburu-buru. Pasti kan urusan pribadi.” Elsa menjelaskan praduganya.


“Jangan suka kepo urusan orang.” Rudi mengingatkan.


“Bukannya kepo, Pak. Awalnya saya menduga, Pak Kagendra pergi terburu-buru karena urusan dengan istrinya. Eh, ternyata istrinya malah datang ke kantor seperti biasanya mengantarkan jatah makan siang.”


Rudi terdiam menekuri perkataan Elsa.


Elsa melanjutkan lagi penjelasannya yang sepertinya akan melebar.


“Saya merasa kasihan sama Bu Sadiyah. Bu Sadiyah itu kurang apa coba? Cantik, sholehah, baik, dan juga jago masak. Saya pernah loh dikasih masakannya Bu Sadiyah dan rasanya memang enak. Tapi Bos kita itu kok sepertinya kufur nikmat ya Pak. Sudah diberi istri yang sempurna seperti itu, masih saja menduakannya sama rubah betina itu.” ujar Elsa dengan kesal.


“Hus, kamu jangan seenaknya menuduh Bos kita.”


“Bukannya menuduh Pak. Tapi saya cuma heran saja dengan kelakukan Bos kita. Mau-maunya ih sama rubah betina itu. Cantik sih, tapi cantiknya cuma polesan doang. Belum lagi sikap sombongnya yang nyebelin berasa semua isi kantor ini milik dia. Cih, nyebelin banget.” dumel Elsa.


“Sudah-sudah, jangan ngomongin orang. Kebiasaan jelek itu.” nasihat Rudi.


“Tapi bener kan dugaan saya Pak. Saya yakin Pak Rudi juga menduga hal yang sama dengan saya kan?” selidik Elsa.


“Entahlah.” jawab Rudi pelan.


Rudi dan Elsa menghela nafasnya dengan kasar memikirkan kelakukan minus Bos mereka dan bersimpati pada kemalangan nasib Sadiyah.

__ADS_1


********


to be continued...


__ADS_2