Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
111. Harus Bertahan


__ADS_3

Jleeb…..


“Aaaaargh….” Kagendra berteriak ketika pisau yang ditusukkan oleh preman terakhir itu menusuk perut sebelah kanan. Kagendra terlambat untuk menghindar dari serangan preman tersebut dan akibatnya pisau lipat yang ditusukkan berhasil menancap dengan cukup dalam.


Kagendra masih mencoba untuk melawan preman tersebut. Ia menahan pergelangan tangan penyerangnya agar tidak terlalu dalam menancapkan pisau lipat itu di perutnya. Kagendra pun masih sempat menendang ulu hati si preman. Sebelum tubuh kagendra ambruk, ia menatap wajah preman-preman yang mencoba menyakiti Sadiyah untuk disimpan dalam memorinya. Ia berharap nyawanya masih tertolong dan kelak bisa memberikan pelajaran pada para penyerangnya.


“Aa…!” Sadiyah menghambur pada tubuh Kagendra yang sudah berlumuran darah. Tangannya mencoba untuk menghentikan darah yang keluar dari perut Kagendra. Sepertinya pisau yang menancap dalam perut Kagendra cukup dalam dan si pelaku penusukan langsung lari menuju dua temannya yang sudah tak sadarkan diri terkena hajaran Kagendra. Mereka berempat segera kabur dari tempat kejadian.


Pak Yaya segera menghubungi aparat desa yang ternyata sudah cukup dekat jaraknya dengan tempat kejadian.


“Aa, bagaimana ini? Aa bangun A. Buka matanya!” Sadiyah menepuk-nepuk wajah Kagendra agar tetap sadar.


Kagendra membuka matanya sedikit dan melihat wajah Sadiyah yang sudah berlinang air mata.


“Aa, bagaimana pisaunya, itu menancap di perut Aa.” tangis Sadiyah semakin mengeras. Ia ingin mencabut pisau yang menancap di perut Kagendra dengan harapan jika pisaunya sudah tercabut, Kagendra tidak akan terlalu merasakan sakitnya.


Tangan Sadiyah sudah bersiap untuk mencabut pisau yang tertancap di perut Kagendra. Tangannya bergetar begitu hebat tapi ia menguatkan diri menyentuh pisaunya.


“Jangan dicabut.” ujar Kagendra dengan lirih. “Ja-ngan di-ca-but.” Kagendra berkata dengan suara patah-patah dan sangat lemah.


Kagendra merasa matanya semakin berat, ia sudah tidak tahan lagi untuk tetap menjaga kesadarannya.


Sadiyah meletakkan kepala Kagendra di atas pangkuannya.


“Aa, jangan tutup matanya A!” Sadiyah mendekap wajah Kagendra dalam pelukannya.


“I-yah…” Kagendra menghela nafas dengan sangat berat. “Ma-af….” itu kata terakhir sebelum Kagendra batuk mengeluarkan darah dan menutup matanya rapat.


Sadiyah menyusut darah yang tadi keluar dari mulut Kagendra. Tangisnya semakin nyaring melihat Kagendra yang batuk mengeluarkan darah.

__ADS_1


“Aa, bangun A! Jangan tinggalkan Iyah. Aa tidak boleh mati. Aa tidak boleh meninggalkan Iyah.” Sadiyah kembali menepuk-nepuk wajah Kagendra berharap suami yang masih dan akan selalu dicintainya itu tetap sadarkan diri.


“Aa…bangun A. Sudah cukup Iyah hidup tanpa Aa selama 6 tahun. Iyah tidak mau lagi berpisah dengan Aa. Bangun A!” tangis Sadiyah semakin keras. Tangan, jilbab dan bajunya sudah berlumuran darah Kagendra.


Tidak berapa lama, beberapa aparat desa datang untuk memberikan bantuan. Pak Yaya menjelaskan secara ringkas apa yang terjadi. Sayangnya, para aparat desa itu tidak membawa bantuan medis.


“Neng, bantuan sudah datang. Kita bawa suami Neng dengan motor. Tadi suami Neng meninggalkan mobilnya sebelum menyusul Neng dengan motor.” Pak Yaya menjelaskan pada Sadiyah.


Dengan kemampuan seadanya mereka membawa tubuh Kagendra yang pingsan dan berlumuran darah ke atas salah satu motor milik aparat desa. Pak Yaya memegang tubuh Kagendra yang dibonceng motor tersebut.


“Aden ini bawa mobil dan ditinggalkan di pinggir jalan sana. Setelah sampai di sana kita bisa memindahkannya ke dalam mobil. Siapa yang bisa bawa mobil?” tanya Pak Yaya.


Tidak ada satupun yang memberikan jawaban karena tidak ada satupun dari mereka yang bisa menyupir.


“Iyah yang akan nyupir.” Sadiyah segera menaiki salah satu motor milik aparat desa. “Cepat jalan, Pak Burhan. Kebut.” kata Sadiyah dengan sedikit berteriak. “Pak Yaya, hati-hati bawa A Endra.” teriak Sadiyah pada Pak Yaya.


“Iya Neng.” sahut Pak Yaya.


Setelah beberapa ratus meter, Sadiyah melihat mobil Kagendra yang diparkirkan di pinggir jalan.


“Itu mobilnya.” seru Sadiyah.


Setelah sampai di dekat mobil, beruntung kunci mobil masih menggantung di dalam kunci kontak dan kaca pintu mobilnya terbuka sehingga Sadiyah bisa dengan mudah masuk ke dalam mobil.


Sadiyah segera memutarkan mobilnya untuk berbalik arah. Tidak lama setelah Sadiyah berhasil memutarkan mobil, motor yang membawa Kagendra sampai.


Dengan sangat hati-hati dua orang aparat desa memindahkan tubuh Kagendra ke dalam mobil.


Pak Yaya memegang tubuh Kagendra yang terbaring di kursi penumpang.

__ADS_1


“Bagaimana kondisinya Pak?” tanya Sadiyah dengan air mata yang kembali bercucuran.


“Nadinya masih ada tapi lemah sekali.”


Tanpa menunggu lama, Sadiyah langsung menancap gas dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Dua motor aparat desa ada di depan mobil untuk mengawal dan memperingatkan para pengguna jalan yang lain agar memberikan jalan bagi mobil.


“Aa harus bisa bertahan. Jangan tinggalkan Iyah. Iyah minta maaf karena Iyah sudah meninggalkan Aa. Sekarang Aa jangan balas dendam sama Iyah dengan pergi meninggalkan Iyah. Kasihan Aras dan Aris. Mereka baru bertemu Aa sebentar saja. Aa tidak boleh egois.” di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Sadiyah meracau dengan air mata yang terus mengalir.


“Neng jangan menangis, Neng harus fokus menyetir biar kita segera sampai di rumah sakit.” Pak Yaya memberikan peringatan kepada Sadiyah yang terlihat mulai kehilangan fokusnya.


Sadiyah segera menyusut air matanya dan kembali fokus untuk menyetir.


Karena desa Cibeber merupakan desa yang agak jauh dari pusat kota, rumah sakit yang dituju pun agak jauh dan memerlukan waktu kurang lebih 20 hingga 30 menit untuk sampai ke rumah sakit. Dengan kecepatan tinggi, Sadiyah berhasil sampai di rumah sakit terdekat dalam waktu 15 menit saja.


Setelah sampai di rumah sakit yang dituju, Sadiyah melihat wajah Kagendra yang sangat pucat seperti tidak teraliri darah.


Sadiyah segera berlari untuk meminta pertolongan pada petugas rumah sakit. Petugas ruang gawat darurat segera bergerak cepat memindahkan Kagendra dari dalam mobil ke ruang gawat darurat.


Sadiyah yang kalut mengikuti para petugas yang membawa Kagendra. Ia menggenggam tangan Kagendra yang sudah mulai terasa dingin dengan erat.


“Aa… Aa harus bertahan! Aa tidak boleh meninggalkan Iyah. Aa harus bertahan!” Sadiyah terus menerus melafalkan kalimat-kalimat itu di sepanjang perjalanan dari mobil menuju ruang gawat darurat.


Kagendra langsung dibawa ke ruang operasi untuk dilakukan tindakan.


Sadiyah menunggu di depan ruang operasi dengan pikiran yang kalut. Ia sangat luar biasa ketakutan. Ia takut jika Kagendra tidak mampu bertahan dan meninggalkan dirinya.


“Aa tidak boleh menghukum Iyah seperti ini. Iyah memang salah sudah pergi meninggalkan Aa. Iyah mohon jangan balas perlakuan buruk Iyah pada Aa dengan pergi meninggalkan Iyah dan anak-anak. Iyah cinta sama Aa. Bagaimana Iyah harus memberitahu Aras dan Aris kalau Aa sampai pergi meninggalkan kami. Aa harus bertahan. Iyah mohon, A. Maafkan Iyah.” Sadiyah menangkupkan tangan ke wajah. Aliran air matanya sudah tidak terbendung lagi.


********

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2