
Rudi mengemudikan mobil yang membawa Kagendra ke butik milik Sadiyah.
“Masih jauh lokasinya, Tut?” tanya Rudi.
“Sedikit lagi, Om. Itu tempatnya di ujung jalan ini.”
Rudi menghentikan mobil tepat di depan sebuah butik yang tidak terlalu besar tapi terlihat elegan dan asri dengan banyak tumbuhan seperti berbagai macam bunga hias dan beberapa pohon berukuran tidak terlalu besar.
Kagendra segera keluar dari mobilnya dengan sedikit berlari menuju pintu depan butik. Sesampainya di depan pintu, ia langsung membuka pintu dan langsung disambut oleh seorang pegawai butik.
“Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” sambut pegawai butik itu dengan sopan.
“Saya mau ketemu sama Sadiyah.” jawab Kagendra tegas.
“Maaf, Bapak dengan siapanya Bu Sadiyah? Apa sudah ada janji dengan Ibu?”
“Saya suaminya.” jawab Kagendra ketus.
“Maaf, Pak. Tapi selama ini Bu Sadiyah tidak pernah bercerita tentang suaminya. Saya kira Bu Sadiyah itu…”
“Sudah, jangan banyak bicara. Bilang sama Sadiyah kalau suaminya mau bertemu.” perintah Kagendra dengan nada ketus.
“Maaf, Pak. Tapi Bu Sadiyah sedang ada tamu. Bapak bisa tunggu di ruang tamu.”
“Saya langsung saja ke ruangan Sadiyah.”
“Tunggu Pak….” pegawai butik itu mencoba menahan Kagendra. Ia takut jika Sadiyah tidak berkenan untuk menerima Kagendra. Pegawai butik itu khawatir jika Sadiyah akan marah walaupun ia tahu Sadiyah sangat jarang memarahi para pegawainya.
“Saya laporkan dulu ke Bu Sadiyah kalau Bapak mau bertemu dengan beliau.”
“Saya ini suaminya. Masa saya dipersulit untuk menemui istri sendiri?” bentak Kagendra kesal.
“Tapi Bu Sadiyah memerintahkan….”
“Tuti, sini kamu!” Kagendra memerintahkan Tuti untuk berbicara dengan pegawai butik yang menghalanginya untuk bertemu Sadiyah.
“Ada apa, Om?” Tuti bergegas mendekati Kagendra.
“Bilang sama dia kalau saya ini suami sah dari Sadiyah. Sepertinya dia tidak percaya kalau saya ini suami dari atasannya.”
__ADS_1
“Betul Teh Ine, Om Endra ini suami Teh Iyah dan mau bertemu sama Teh Iyah.” jelas Tuti.
“Tapi Bu Sadiyah sedang ada tamu. Saya sudah minta Bapak ini buat menunggu di ruang tamu tapi tidak mau.”
“Om, sabar atuh. Kan Teh Ine udah bilang kalau Teh Iyah sedang ada tamu. Om Endra mah meuni gak sabaran pisan.” Tuti tidak sadar jika ia sudah mengomeli Kagendra.
“Banyak aturan.” dengus Kagendra, ia menyelonong masuk menuju ruangan Sadiyah dengan melewati hadangan Ine dan langsung mencari ruangan Sadiyah.
Kagendra melihat satu ruangan di ujung koridor yang disekat oleh kaca-kaca sehingga terlihat dari luar. Ia yakin jika itu ruangan tempat Sadiyah bekerja. Kagendra sudah hampir sampai di depan ruangan Sadiyah ketika ia melihat wajah yang tidak asing sedang berbicara dengan Sadiyah. Posisi Sadiyah membelakanginya sedangkan wajah tamunya menghadap ke arah luar sehingga Kagendra bisa melihat jelas wajah dari tamu Sadiyah.
Kagendra segera menghubungi Arfian. Beberapa kali ia menghubungi sepupunya itu tapi tidak mendapat jawaban dari ujung sana. Setelah beberapa kali mencoba menghubungi Arfian, akhirnya Arfian menerima panggilan dari Kagendra.
“Bro, lo ada dimana? Lama banget angkat teleponnya.” tanya Kagendra tanpa basa basi.
“Gue lagi Paris.”
“What? ngapain lo di Paris?” tanya Kagendra.
“Nyariin Keisha. Kan lo yang bilang kalau dia lagi ada di Italy. Pas gue nyampe Italy, tetangganya bilang kalau sekarang dia lagi di Paris” jawab Arfian dengan nada kesal.
“Cepet lo pulang. Keisha ada di Indonesia. Dia lagi ada di Bandung.” ucap Kagendra cepat.
“Yakin banget. Ini gue lihat dengan mata kepala sendiri.” Kagendra mengambil foto Keisha dan langsung mengirimkannya pada Arfian.
“Sialan…” umpat Arfian di setelah melihat foto yang dikirimkan oleh Kagendra.
Kagendra menutup teleponnya dan langsung masuk ke dalam ruangan Sadiyah.
************
Ceklek…
Kagendra membuka pintu tanpa mengucapkan salam sama sekali.
“Iyah, kita harus bicara….dan kamu Keisha, Arfian mencari kamu sampai ke Italy dan Perancis tapi kamu malah duduk dengan santai dan nyaman di sini. Tega kamu.” omel Kagendra kesal.
“A Endra?” Keisha terbelalak melihat pria yang menjadi sahabat dari laki-laki yang dicintainya hingga saat ini.
“Iya, saya Endra. Kemana saja kamu selama ini? Sepuluh tahun Arfian mencari kamu tanpa hasil. Sekarang kamu duduk santai sambil mengobrol dengan perempuan yang sama kelakuannya sama kamu.” Kagendra berkata dengan suara tinggi.
__ADS_1
“Siapa yang nyuruh dia nyariin Kei? Siapa juga yang kepengen dicariin?” balas Keisha galak.
“Kamu tega berbuat seenaknya sampai-sampai si Arfian kelimpungan mencari kamu. Kamu keterlaluan.” ujar Kagendra ketus. “Kamu juga.” Kagendra menatap tajam ke arah Sadiyah yang dibalas dengan tatapan tajam juga.
Keisha terdiam mendengar perkataan Kagendra.
“Cepat temui Arfian sebelum kamu menyesal. Kamu tahu kalau dia sampai menyusul kamu ke Italy dan Perancis ketika dia tahu kamu di sana.” ujar Kagendra.
“Kei pergi untuk menyelamatkan semuanya, menyelamatkan hati Kei dan juga hati Ka Fian. Kei tidak mau membuat Ka Fian sakit dengan cintanya Kei. Kei tahu cintanya Ka Fian bukan buat Kei.” Keisha mulai terisak.
“Perempuan memang suka seenaknya menyimpulkan sendiri tanpa mendengarkan penjelasan terlebih dahulu.”
“Tapi Kei tahu siapa perempuan yang dicintai Ka Fian. Kei tidak mau menyakiti diri sendiri dengan menyaksikan mereka hidup bahagia bersama. Kei bukanlah perempuan kuat yang bisa ikhlas melihat kebahagiaan mereka.”
“Apa kamu sudah mendengarkan penjelasan Arfian? Apa kamu tahu apa yang sebenarnya Arfian rasakan? Apa kamu sudah yakin siapa perempuan yang dicintai oleh Arfian? Hal apa yang membuat kamu yakin kalau Arfian tidak mencintai kamu? Apa kamu bisa jawab semua pertanyaan saya?” tanya Kagendra beruntun dengan suara tinggi.
Keisha menggelengkan kepala karena benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
“Pertanyaan yang sama buat kamu?” tuding Kagendra pada Sadiyah.
“Kenapa bawa-bawa Iyah?” bentak Sadiyah.
“Soalnya kelakuan kalian sama. Benar-benar menyebalkan.” sindir Kagendra.
“Ya sudah kalau memang menyebalkan, buat apa dicari? Siapa yang menyuruh kalian buat mencari kami? Kalau kami pergi artinya kami tidak mau kalian temukan. Paham?” Sadiyah mendelikkan bola matanya. Ia merasa jika nasib perempuan yang sedang terisak di hadapannya memiliki kisah yang sama dengannya.
“Saya pamit dulu, Teh. Nanti kita bicarakan lagi tentang kerjasama kita. Yang pasti saya sudah yakin kalau saya mau jadi desainer di butiknya Teh Iyah.” Keisha bergegas karena setelah ini ia akan bertemu dengan sahabat-sahabatnya dan ingin mencari kabar tentang Arfian.
“Iya, kamu hati-hati nyetirnya. Jangan terlalu memikirkan apa yang dikatakan oleh laki-laki itu.” kata Sadiyah sinis.
“Siap, Teh. Assalamu’alaikum.” pamit Keisha pada Sadiyah sambil memeluk dengan erat. “Kei pamit dulu, A. Tolong bilang sama Ka Fian untuk tidak usah mencari Kei lagi.” Keisha pamit juga pada Kagendra.
“Wa’alaikumsalam…” jawab Sadiyah.
“Darimana kamu kenal sama Keisha?” tanya Kagendra tiba-tiba.
***********
to be continued.........
__ADS_1