Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
114. I Love You More


__ADS_3

Sadiyah melihat tubuh Kagendra yang masih terdiam tak bergerak.


“A…Iyah serius ini. Aa masih keras kepala tidak mau bangun? Aa tidak kasihan sama Iyah, Aras dan Aris. Aa jahat….” air mata kembali mengalir deras di pipi Sadiyah.


Walaupun pergerakannya hanya sedikit dan lemah, Sadiyah melihat jari-jari tangan Kagendra yang mulai bergerak lemah.


“A…jari Aa bergerak!” seru Sadiyah.


Kagendra menggerakkan jarinya sekali lagi.


“Aa…Aa bisa dengar Iyah?” Sadiyah mengoyang-goyangkan lengan Kagendra, saking gembiranya ia lupa kalau seharusnya ia memanggil dokter.


“Aa kenapa sekarang diam lagi? Oh, Iyah lupa, harusnya Iyah panggil dokter. Tunggu ya A.”


Setelah Sadiyah memanggil dokter, tidak berapa lama dokter memasuki kamar perawatan Kagendra dan memeriksa kondisinya.


“Alhamdulillah, tidak ada masalah dengan luka Pak Kagendra. Mungkin sebentar lagi, pasien akan bangun.” jelas dokter.


“Terima kasih, Dok.” Sadiyah menyalami tangan dokter dengan erat.


Setelah dokter keluar dari kamar perawatan Kagendra, Sadiyah kembali duduk di samping ranjang Kagendra dan meneruskan bicaranya.


“A, kalau Aa bangun sekarang, Iyah tidak akan jadi mencari suami baru. Cukup Aa yang jadi suami Iyah. Aras dan Aris juga sepertinya tidak akan mudah menerima laki-laki lain sebagai pendamping ibu mereka.”


Kagendra masih betah tertidur dan sepertinya belum mau untuk membuka matanya.


“Tahu tidak A? beberapa tahun lalu, ada dua orang laki-laki yang punya maksud sama Iyah. Mereka mau melamar dan jadi suami Iyah.  Mereka ganteng-ganteng loh A. Mereka berdua sudah duda dan juga mapan. Yang satu duda dengan satu anak dan yang satunya lagi duda tanpa anak. Aa jangan marah ya dengar cerita ini karena mereka berdua tidak berhasil mengambil hati Aras dan Aris. Tapi sepertinya Aras dan Aris memang benar-benar anak kandung Aa. Tanpa kalian tahu status kalian masing-masing pun, kalian bisa dengan mudahnya dekat, padahal Aras dan Aris itu sulit dekat dengan orang baru. Aa tahu lagi tidak kalau….” belum selesai Sadiyah menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara lemah Kagendra yang memanggil namanya.


“Iyah…..”


“Aa… ada apa, A?” Sadiyah terlonjak gembira mendengar suara Kagendra. “Aa sudah sadar?” air mata bahagia langsung meleleh dari pelupuk mata Sadiyah.


“Tidak boleh cari suami baru…” Kagendra melarang apa yang sedari tadi Sadiyah bicarakan.


“Aa ngomong apa? Iyah tidak bisa dengar.” Sadiyah mendekatkan telinganya ke bibir Kagendra. Sepertinya suara Kagendra masih lemah sehingga Sadiyah tidak mendengarnya dengan jelas.


“Tidak boleh cari suami baru!” ulang Kagendra. Kali ini dengan suara yang sedikit keras dan juga ketus.


Sadiyah terbelalak kaget setelah mendengar apa yang Kagendra katakan. Ia tidak menyangka kalau perkataannya tadi didengar oleh Kagendra.


“Tidak A…Iyah tidak akan cari suami baru. Suami Iyah cuma Aa.” Sadiyah menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat.


Kagendra membuka mata dan menatap Sadiyah kemudian ia terseyum melihat gelengan kepala Sadiyah dan mendengar apa yang dikatakan oleh Sadiyah.


“Aa rindu sekali sama Iyah.”


“Iyah juga. Aa tidak boleh meninggalkan Iyah. Jangan buat Iyah sedih lagi.”

__ADS_1


“Bukan Aa yang meninggalkan Iyah tapi Iyah yang meninggalkan Aa. Masih ingatkan siapa yang meninggalkan siapa?” protes Kagendra.


“Maafkan Iyah. Iyah janji tidak akan pernah lagi meninggalkan Aa. Tapi Aa juga janji jangan pernah lagi membuat Iyah sedih dan menderita. Aa tidak boleh mencintai wanita lain selain Ibu, Iyah dan Lena. Janji?”


Kagendra menganggukkan kepala pelan.


“Eh, tapi Aa tidak bisa janji hanya mencintai 3 wanita dalam hidup Aa. Bisa saja nanti Aa akan mencintai 4, 5 atau 6 perempuan selama hidup Aa.”


Sadiyah memelototkan matanya.


“Aa jangan macam-macam. Kalau Aa mencintai perempuan lain, Iyah akan sangat marah dan tidak akan pernah kembali pada Aa.”


Kagendra tertawa kecil mendengar penuturan Sadiyah.


“Kenapa Aa tertawa? Jadi Aa sudah ada niat mau mendua dan mentigakan Iyah? Benar begitu?” Sadiyah memukul lengan Kagendra dengan sedikit keras.


“Segitu saja sudah cemburu. Makanya dengarkan penjelasan Aa sampai selesai. Kamu itu kebiasaan selalu menyimpulkan sendiri sebelum mengetahui penjelasan dari orang lain.


“Sudah jelas barusan Aa akan mencintai 4 sampai 6 perempuan. Berarti Aa sudah ada niat menduakan dan mentigakan Iyah.” teriak Sadiyah kesal.


“Kamu belum tahu kan siapa tiga perempuan yang lain itu. Perempuan lain yang akan Aa cintai selain Ibu, kamu dan Lena itu adalah anak-anak perempuan kita. Aa mau kita memiliki anak yang banyak. Kalau bisa kembar lagi dan perempuan.” harap Kagendra.


“Iiiiih dasar Aa jahat. Kirain Iyah, Aa mau menikah lagi dan mencari perempuan lain selain Iyah.” Sadiyah mencubit lengan Kagendra dengan keras. Wajahnya memerah mendengar perkataan Kagendra yang menginginkan anak kembar dengan jenis kelamin perempuan.


“Iyah mau kan melahirkan lagi anak-anaknya Aa?”


“Kembar tiga ya.”


“Apa?” teriak Sadiyah kaget mendengar permintaan Kagendra.


“Nanti anak kita selanjutnya kembar tiga, perempuan.”


“Iiiiih memangnya gampang hamil anak kembar? Susah dan melelahkan. Bayangkan saja kalau hamilnya sudah besar itu seperti menggembol barang-barang yang banyak dan berat. Apalagi kalau ingat sewaktu hamil Aras dan Aris, rasanya Iyah ingin menyerah saja….”


“Stttt…tidak boleh berkata seperti itu. Nanti pahalanya habis kalau mengeluh.”


“Bukannya mengeluh, Aa… Iyah hanya teringat repotnya hamil dan melahirkan anak kembar. Aa sih tidak tahu bagaimana dulu waktu Iyah hamil dan melahirkan Aras dan Aris. Kalau Aa tahu bagaimana repotnya Iyah, pasti Aa tidak akan mengharapkan anak kembar lagi.” Sadiyah memanyunkan bibirnya karena kesal pada Kagendra.


“Siapa dulu yang pergi meninggalkan Aa?”


“Siapa yang dulu membuat Iyah pergi?”


“Aa tidak pernah menyuruh kamu untuk pergi.”


“Dasar nyebeliiiin….” Sadiyah mencubiti lengan Kagendra.


“Aww…sakit dong sayang…masa melakukan kekerasan sama pasien yang masih tergolek lemah ini.” protes Kagendra.

__ADS_1


“Aa nyebelin. Pokoknya Aa yang salah! Aa yang membuat Iyah pergi.” mata Sadiyah sudah mulai berkaca-kaca.


“Iya…iya…maafkan Aa. Aa yang salah saat itu. Aa janji tidak akan membuat kamu kecewa lagi.”


“Janji palsu.” ucap Sadiyah sinis.


“Makanya beri Aa kesempatan untuk memenuhi janji Aa. Ya?”


“Tau ah.”


“Kok begitu sih jawabannya. Tadi siapa yang sampai menangis karena tidak mau ditinggalkan Aa?”


“Siapa yang nangis?”


“Itu matanya masih merah seperti habis menangis.” ujar Kagendra dengan senyum lebar menghiasi wajah pucatnya.


“Mata Iyah kelilipan.” elak Sadiyah.


“Kelilipan apa sampai merah begitu.”


“Tau ah.” Sadiyah kembali mencubiti lengan Kagendra.


“I love you…” ucap Kagendra.


“Eh…..”


Kagendra menggenggam tangan Sadiyah dan mendekatkan pada bibirnya.


“I love you to the moon and back.” Kagendra menciumi tangan Sadiyah.


“Aa janji tidak akan pernah meninggalkan Iyah?” Sadiyah menatap ke dalam manik mata Kagendra mencari kebenaran di sana.


“I promise to love you forever, every single day of forever.” janji Kagendra.


Sadiyah mendekati wajah Kagendra dan mencium bibir Kagendra secepat kilat.


Kagendra tersenyum bahagia.


“Kamu belum menjawab pernyataan cinta dari Aa.”


“I love you more…” bisik Sadiyah lirih.


Mereka berdua saling memandang, mencurahkan kerinduan yang mereka pendam selama lebih dari enam tahun.


***********


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2