Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
119. Manja


__ADS_3

“Bagaimana perkembangan kasusnya, Rud?” tanya Kagendra ketika Rudi menjenguknya tiga hari setelah ia siuman dari komanya.


“Mereka sudah diurus, Bos. Termasuk orang yang menyuruh mereka. Saya pastikan mereka tidak aka berani lagi mengusik tanah para warga di sana termasuk tanahnya Bu Bos.” Rudi melaporkan yang sudah dikerjakannya berkaitan dengan para preman yang sudah melukai bosnya dan orang-orang yang meneror warga desa untuk menjual tanah mereka.


“Siapa mereka, Rud?”


“Pemain lama, Bos. Tapi jangan khawatir mereka tidak akan pernah berani lagi berurusan di desa Cibeber. Kalaupun mereka berulah di daerah lain, saya akan memastikan pihak berwenang tidak akan melepaskan mereka.”


“Good job. Terima kasih untuk kerja kamu yang selalu luar biasa.” puji Kagendra.


Rudi hanya tersenyum mendengar pujian dari bosnya. Bukan sekali ini saja ia mendengar pujian tulus dari Kagendra.


“Oh iya, saya minta sama kamu untuk mencarikan orang yang bisa mengelola usaha istri saya di Cibeber. Saya tidak mau istri saya bekerja terlalu keras. Bisa?”


“Saya akan cob acari orang yang kompeten dan dapat dipercaya, Bos.”


“Saya percaya sama kamu.”


“Ya iyalah, Bos. Memangnya sudah berapa lama saya bekerja sama Bos kalau sampai Bos tidak percaya sama kemamouan saya.” dumel Rudi dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh bosnya.


“Kamu bicara apa, Rud?”


“Tidak bicara apa-apa, Bos.” jawab Rudi asal.


“Kamu jangan ngata-ngatain saya, Rud.”


Rudi tidak kaget lagi kalau Kagendra selalu bisa membaca apa yang ada di pikirannya.


“Saya pamit dulu, Bos. Cepat sembuh.” Rudi mendoakan dengan tulus. Walaupun Kagendra sering bicara ketus padanya tapi Rudi sangat menyadari kalau Kagendra sangat memperhatikannya. Tidak pernah sekalipun Kagendra mengambil atau mengabaikan hak Rudi baik sebagai pegawai maupun sebagai sahabatnya. Itulah mengapa Rudi dengan ikhlas menemani Kagendra dalam suka maupun terpuruk.


**********


Setelah hampir dua minggu mendapatkan perawatan di rumah sakit, akhirnya Kagendra diperbolehkan pulang dan meneruskan pengobatan dengan rawat jalan.


Kagendra pulang ke rumah Sadiyah yang ada di desa Cibeber karena kondisinya yang belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Selama satu minggu beristirahat di desa Cibeber, Kagendra bersikap sangat manja melebihi manjanya Faras dan Faris. Semakin hari semakin manja saja sehingga membuat Sadiyah jengah. Seperti pagi hari ini dimana Kagendra meminta Sadiyah untuk memandikannya.

__ADS_1


“Yang, sini deh.” Kagendra memanggil Sadiyah yang sedang sibuk memasak sarapan untuk suami dan anak-anaknya.


“Apa lagi?” tanya Sadiyah dengan nada sedikit tinggi karena kesal sejak subuh tadi tidak hentinya Kagendra bermanja pada dirinya. Sadiyah heran dengan sikap Kagendra sekarang. Kagendra yang sekarang benar-benar berbeda dari Kagendra yang ia kenal dulu. Kagendra yang dulu adalah pria


“Mau mandi.” rajuk Kagendra.


“Ya tinggal mandi saja sana. Mau mandi air hangat juga tinggal hidupkan saja water heaternya.” sahut Sadiyah.


“Mau dimandiin.” Kagendra menatap Sadiyah dengan tatapan memelasnya.


“Astaghfirulloh, Aa… Aras dan Aris saja sudah bisa mandi sendiri. Apa-apaan sih?” Sadiyah mencubit lengan Kagendra yang ditangkupkan di atas meja makan.


“Aa kan belum pernah dimandiin sama kamu.” rajuk Kagendra lagi.


Sadiyah menangkup wajah Kagendra dengan kedua tangannya.


“Jangan manja. Malu sama anak-anak.” ucap Sadiyah sambil mencubit pipi kanan dan kiri Kagendra dengan jari-jarinya yang lentik.


Ketika Sadiyah hendak melepaskan tangannya dari wajah Kagendra, tiba-tiba saja Kagendra menangkap tangan Sadiyah lalu mendekatkan ke bibir dan menciumnya dengan takzim.


“Aa…lepas iiih. Malu kalau nanti dilihat yang lain.” Sadiyah berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kagendra.


“Jawab dulu dong.”


“Jawab apaan?”


“Jawab pernyataan sayang dan cinta dari Aa. Aa sayang dan cinta sekali sama Iyah. I love you to the moon and back, Neng Iyah.”


Wajah Sadiyah sudah merona. Sadiyah mendekatkan wajahnya dengan wajah Kagendra kemudian ia dekatkan bibirnya ke telinga Kagendra.


“Iyah juga sayang dan cinta sama Aa. Sayang dan cintanya Iyah melebihi sayang dan cintanya Aa ke Iyah.” bisik Sadiyah di telinga kanan Kagendra.


Setelah selesai membalas pernyataan sayang dan cinta dari Kagendra, Sadiyah mencium pipi kanan Kagendra.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Kagendra menarik tengkuk Sadiyah dan menikmati bibir dari wanita yang dicintainya itu.

__ADS_1


“Ayaaah…” teriak Faras dan Faris yang berlarian masuk ke dalam rumah. Tadi pagi mereka ikut Mak Isah dan Tuti ke pasar.


Mendengar teriakan dari Faras dan Faris, Kagendra segera melepaskan tautan bibirnya dari bibir Sadiyah.


Sadiyah segera membalikkan badan dan berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. Jantungnya berdetak sangat cepat akibat aktivitas yang baru saja ia dan Kagendra lakukan.


“Dasar cowok mesum.” umpatnya dalam hati tapi langsung wajahnya kembali merona karena ia menyadari kalau ia pun menikmati apa yang tadi mereka lakukan.


Kagendra segera bergegas keluar dari dapur untuk menyambut Faras dan Faris.


Faras dan Faris yang melihat Kagendra keluar dari arah dapur langsung menghambur dan memeluk paha kanan dan kiri Kagendra. Mereka belum berani memeluk dan bergelayut pada Kagendra seperti biasanya karena Sadiyah selalu mengingatkan kalau ayah mereka itu belum sembuh dari luka di perutnya.


Kagendra meraup tubuh kecil Faras dan Faris lalu menggendong mereka.


“Ayah sudah tidak sakit lagi perutnya?” tanya Faris khawatir.


“Lukanya sudah sembuh, jadi Ayah sudah bisa gendong Aras dan Aris lagi.” sahut Kagendra.


“Mana perutnya, Aras mau lihat dulu luka yang ada di perut Ayah.” Faras tidak langsung percaya dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya.


Kagendra selalu takjub dengan apa yang ada dalam pikiran Faras. Faras tidak gampang percaya dengan apa yang dikatakan oleh orang lain sebelum ia sendiri melihat dan mengetahui faktanya. Sangat mirip sekali dengan dirinya. Kagendra juga takjub dengan sikap hangat yang selalu diperlihatkan oleh Faris. Jika sifat Faras itu menurun darinya, maka sifat Faris menurun dari Sadiyah.


Untuk memperlihatkan fakta pada Faras, Kagendra menurunkan Faras dan Faris dari gendongannya, kemudian ia menaikkan kaus yang dipakainya hingga memperlihatkan bekas luka tusukan yang sudah mengering.


“Tuh lihat…lukanya sudah sembuh kan?’ tunjuk Kagendra.


Faras menganggukan kepala.


“Luka Ayah kan sudah sembuh. Boleh tidak kalau kita main lagi ke hutan sama Ayah?” tanya Faris.


“Boleh. Tapi kita sarapan dulu. Ibu sudah masak.” ujar Sadiyah dari arah dapur.


Mereka berempat pun sarapan bersama dengan suasana yang ceria. Tampak kebahagian terpancar dari wajah mereka. Mak Isah yang melihat kebersamaan mereka tampak menyusut air mata harunya. Ia menjadi saksi penderitaan dan perjuangan Sadiyah, oleh karena itu ia sangat bahagia menyaksikan kebahagiaan Sadiyah, Kagendra dan anak-anak mereka.


************

__ADS_1


to be continued....


__ADS_2