
“Om, Om!” Faris berteriak-teriak sambil menggedor pintu.
“Ada apa?” bentak salah seorang penculik yang malam itu bertugas.
“Om, Aras sakit, Om. Bawa ke dokter, Om!” pinta Faris.
“Jangan bohong kamu!” bentak penculik itu.
“Aris tidak bohong, Om. Pegang saja wajah Aras. Panas, Om.”
Laki-laki itu masuk ke dalam ruangan lalu memegang dahi Faras. Ia merasakan hawa panas menguar menerpa punggung tangannya.
“Saudara kamu sakit, tapi saya tidak bisa bawa dia ke dokter. Saya carikan obat buat dia.”
“Aras tidak bisa minum obat sembarangan, Om. Harus ke dokter dulu.”
“Ah, jangan banyak ngomong kamu. Yang penting dia sembuh. Kamu mau saudara kamu mati, hah?”
“Tidak, Om.” Faris mulai terisak membayangkan Faras akan meninggal.
“Makanya jangan banyak permintaan.”
Laki-laki itu berlalu dan beberapa saat kemudian membawakan obat paracetamol.
“Heh, bangun!” penculik itu mengguncang tubuh Faras yang masih bergeming.
“Jangan kasar begitu, Om!” protes Faris.
“Bangunkan saudara kamu. Kalau tidak bagun juga, saya buang obatnya,” ancam si penculik.
“Iya, Om. Aris bangunkan dulu Aras.”
Faris mulai mengguncang-guncang tubuh saudara kembarnya.
Faras membuka matanya sedikit. Mata sayunya terlihat memerah.
“Aras, minum obat dulu ya. Om penculik bawa obat buat Aras.”
Faras menggeleng. Ia tidak suka minum obat terlebih obat yang tidak terjamin. Sifatnya memang sangat mirip dengan Kagendra. Ia harus selalu memastikan apa yang masuk ke dalam tubuhnya terpercaya dan terjamin kualitasnya.
“Kalau Aras tidak minum obat, nanti Aras mati. Kalau Aras mati nanti Aras tidak bisa ketemu sama ayah dan ibu. Minum, ya,” bujuk Faris.
Mendengar dirinya yang tidak bisa menemui lagi ayah dan ibunya, Faras segera bangun dan mengambil obat dari tangan si penculik.
__ADS_1
“Obat ini khusus untuk anak-anak atau dewasa?” tanya Faras terbata-bata.
“Minum saja! Tidak usah banyak tanya,” jawab si penculik.
“Tinggal jawab saja, Om. Kalau khusus anak-anak, Aras minum semuanya. Kalau buat dewasa, Aras minum setengahnya.”
“Itu obat dari warung,” jawab si penculik.
Faras ingat ibunya pernah mengatakan bahwa anak-anak yang minum obat dewasa harus dipotong setengahnya.
Faras memotong obat tablet itu menjadi dua bagian. Karena tangannya tidak kuat membagi, ia potong dengan menggunakan giginya. Faris yang melihat Faras menggigit obat yang rasanya pahit meringis.
“Tidak pahit?”
Faras tidak menjawab pertanyaan Faris. Setelah memotong obat menjadi dua bagian, ia minum setengahnya dan membuang sisanya.
Keesokan paginya, suhu tubuh Faras masih panas tapi tidak sepanas semalam. Sepertinya obat yang dimunumnya cukup ampuh untuk menurunkan suhu panasnya atau tubuhnya memang dipaksakan untuk tidak manja dengan sakitnya.
Akhirnya kesempatan untuk kabur itu tiba. Dua orang penculik yang dapat giliran tugas berjaga sedang keluar hingga tidak ada seorang pun yang berjaga di gedung tua itu.
“Aris, kamu berani tidak naik ke jendela?”
“Jendelanya tinggi, Aris takut.”
“Terus Aras di sini gimana?”
“Jangan pikirkan Aras. Yang penting kamu harus lari terus cari bantuan. Bisa?”
“Aris takut, Aras. Bagaimana kalau mereka menangkap Aris lagi.”
“Makanya kamu harus lari sekencang-kencangnya. Terus cari bantuan sama orang baik.”
“Tapi Aris takut kalau mereka memukul Aras lagi. Kemarin saja mereka mukul Aras gara-gara Aris, terus Aras juga masih sakit.”
“Aras gak apa-apa. Nanti kalau Aris udah di luar, bisa minta tolong sama orang-orang.”
“Cepat naik!” perintah Faras.
Faris naik ke atas pundak Faras, “Pundak Aras tidak sakit?”
“Sakit! Makanya cepat naik ke jendelanya.”
Faris berusaha merangkak ke jendela dan berpegangan di kedua sisi kanan dan kirinya. Ia melihat ke bawah.”
__ADS_1
“Aris takut lompatnya. Tinggi.”
“Jangan takut. Anggap saja Aris turun dari pohon seperti dulu kalau kita manjat pohon.”
Faris berusaha mengumpulkan keberaniannya. Sambil menutup mata, Faris melompat turun dari jendela. Beruntung di bawahnya ada daun-daun kering bertumpuk sehingga tidak terlalu sakit saat kakinya bertumpu pada tanah.
“Aras! Aras!” panggil Faris dari luar.
“Jangan teriak teriak! Cepat lari!” perintah Faras.
Tidak membuang-buang waktu lagi, Faris berlari kencang meninggalkan gedung tua tempat ia disekap beberapa hari tanpa alas tidur dan makanan yang layak. Tubuhnya terasa sangat lemas karena belum makan sejak tadi malam. Air mata sudah bercucuran deras membasahi pipi. Ia teringat pada Faras yang ditinggalkaanya. Ia tidak berani membayangkan Faras sendirian menghadapi para penculik itu. Namun, Faris tidak memiliki pilihan lain, ia harus segera mencari bantuan agar ia bisa menyelamatkan saudara kembarnya.
Malam menyapa, Faris masih belum berani keluar dari tempat persembunyiannya. Ia takut para penculik itu mengejarnya. Setelah marasa keadaan cukup aman, Faras baru berani keluar dari persembunyiannya. Selama masa pelariannya, Faras bersembunyi di sebuah taman dari rumah kosong yang ia temukan dalam pelarian.
Setelah hari menggelap ia keluar dari persembunyiannya dan berjalan menyusuri trotoar kota. Perutnya sudah sangat sakit karena belum diisi makanan. Ia melihat sebuah warung nasi yang akan tutup.
“Assalamualaikum, Bu. Apakah masih ada makanan? Saya belum makan tapi tidak punya uang untuk beli makanan. Apa saya bisa minta makan?”
“Kamu ngapain malam-malam begini berkeliaran? Kamu tidak takut?” tanya si pemilik warung nasi.
“Saya tersesat, Bu.” Faris terpaksa berbohong.
“Sini masuk!” Ibu penjual nasi itu mempersilahkan Faris untuk masuk ke dalam warungnya lalu menyiapkan sepiring nasi dengan semur telur dan tahu. “Hanya tersisa semur tahu dan telur. Kamu mau makan sama tahu dan telur saja?”
Faris mengangguk senang. “Mau, Bu.”
“Nama kamu siapa, Nak?” tanya pemilik warung.
“Aris, Bu.” Faris merasa wanita yang ada di hadapannya adalah orang baik karena memberi ia makan. Ia memutuskan untuk meminta pertolongan kepada ibu pemilik warung nasi.
Setelah Faris menghabis makanannya, ia memberanikan diri untuk meminta tolong pada pemilik warung.
“Bu, boleh minta tolong tidak?” tanya Faris sopan.
“Minta tolong apa, Nak?”
“Tolong antarkan Aris ke kantor polisi. Aris mau laporan sama polisi kalau Aris tersesat. Nanti biar pak polisi bantu kasih tau ayahnya Aris.”
“Sekarang sudah malam. Besok Ibu antarkan kamu ke kantor polisi. Malam ini kamu menginap di rumah Ibu saja ya?”
Faris mengangguk dan menerima tawaran di pemilik warung nasi. Malam ini, ia merasa sangat lelah. Ia ingin segera tidur.
*******
__ADS_1
to be continued...