
Suami kamu bilang akan pergi ke luar negeri kan untuk perjalanan bisnisnya? Kamu tahu apa yang sebenarnya? Aku kasih tahu. Suami kamu pergi bersama denganku. Perjalanan ini sebagai cara dia untuk menyenangkan aku yang ingin pergi refreshing. Sekarang kamu percaya kan kalau akulah wanita yang dicintai oleh Kagendra dan kamulah wanita yang akan dicampakkan oleh Kagendra.
Sadiyah tidak tahan lagi dengan semuanya. Ia segera menghapus pesan dari Natasha dan memblok nomor telepon Natasha. Ia tidak mau lagi berhubungan dengan wanita iblis yang tidak tahu diri seperti Natasha.
Dalam hubungan segitiga yang rumit antara dirinya, Kagendra dan Natasha, Sadiyah memutuskan untuk menyerah. Ia yang akan mundur. Sadiyah menyadari bahwa cinta Kagendra hanya untuk Natasha. Sekuat apapun Sadiyah berusaha untuk membuat Kagendra jatuh cinta kepadanya, tidak bisa membuat Kagendra melupakan cinta pertamanya.
Tidak ingin sakit lebih lama lagi, Sadiyah memutuskan untuk mundur dari perang yang tidak berkesudahan ini. Sejak awal ia memang pihak yang kalah dan di akhir pun ia tetap berada di pihak yang kalah.
Sadiyah sangat menyadari bahwa ia sudah jatuh cinta pada Kagendra. Walaupun Kagendra sering menyakitinya, tapi rasa cintanya mengalahkan rasa pedih akibat sering disakiti oleh Kagendra.
Walaupun sakit karena perlakuan Kagendra, Sadiyah merasa bahwa ia tidak sanggup untuk membenci Kagendra.
Tapi setelah mengetahui bahwa Kagendra sudah berbohong lagi tentang perjalanan bisnisnya, Sadiyah tidak merasa yakin lagi dengan apa yang dirasakannya. Ia tidak yakin apakah rasa cintanya pada Kagendra masih bisa membuatnya bertahan untuk memperjuangkan cintanya atau memilih untuk menyerah saja. Yang pasti sekarang ini, Sadiyah merasakan hatinya menjadi dingin. Yang ingin ia lakukan sekarang adalah melupakan segalanya, terutama melupakan rasa cintanya pada Kagendra.
Jam 8 malam, Rudi sudah berada di depan rumah mereka untuk menjemput Kagendra.
“Iyah, Aa berangkat dulu ya. Kamu baik-baik di rumah. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi Abah atau Lena.”
Sebelum benar-benar pergi, Kagendra mencium kening Sadiyah.
“Aa.”
Kagendra berbalik ketika mendengar Sadiyah memanggilnya.
__ADS_1
Sadiyah berlari kearah Kagendra yang sudah dekat dengan pintu. Ia memeluk erat Kagendra dan menangis dalam pelukan Kagendra.
“Sebentar saja A. Iyah ingin dipeluk oleh Aa seperti ini.”
Kagendra membalas pelukan Sadiyah tidak kalah eratnya. Ia menghidu bau khas Sadiyah yang selama tiga hari ini akan ia rindui.
“Sebentar saja seperti ini A. Iyah ingin merasakan pelukan yang terakhir dari Aa sebelum Iyah benar-benar menutup hati Iyah untuk Aa. Selamat tinggal. Semoga Aa berbahagia bersama Natasha dan tidak harus berpura-pura lagi menyayangi Iyah seperti ini.” batinnya menangis.
Setelah beberapa saat saling berpelukan, Sadiyah yang pertama kali mengurai pelukan mereka. Sadiyah menatap dalam wajah Kagendra. Ia ingin mengingat raut wajah terakhir Kagendra.
“Kenapa memandang wajah Aa begitu lekat. Ada yang aneh di wajah Aa?”
“Tidak aneh. Iyah hanya ingin mengingat wajah Aa yang ganteng ini.”
“Aa pergi dulu ya, takut ditinggalin pesawatnya.” canda Kagendra.
Sadiyah menganggukkan kepala.
Kagendra melihat bibir ranum Sadiyah dan tidak kuasa untuk tidak mengecup bibir Sadiyah.
Kagendra mencecap dan menikmati lezatnya rasa dari bibir Sadiyah, begitupun dengan Sadiyah yang mencoba untuk menyimpan rasa dari ciuman terakhirnya bersama dengan Kagendra dalam memorinya.
Setelah mereka mengakhiri ciuman panjang mereka, kagendra tersenyum menatap wajah Sadiyah.
__ADS_1
“I’ll be missing you.” Kagendra kembali mengecup kening Sadiyah. Rasanya ia tidak ingin pergi malam ini.
“Sudah A. Cepat pergi, nanti benar-benar ketinggalan pesawatnya.”
“Apa Aa batalkan saja business tripnya ya.”
“Jangan bercanda A. Aa harus bertanggung jawab sama pekerjaan Aa.”
“Iya…iya my Queen. Nanti setelah Aa mendarat di bandara Suvarnabhumi, Aa telepon kamu.”
Sadiyah mendorong tubuh Kagendra yang merasa enggan untuk beranjak.
“Jangan lupa kunci semua pintu. Kalau ada yang ketuk-ketuk pintu jangan dibuka.”
“Iya…iya…Aa cerewet banget.” protes Sadiyah.
“Assalamu’alaikum.” pamit Kagendra.
“Wa’alaikumsalam.”
*****
to be continued....
__ADS_1