Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
53. Pagi yang Indah


__ADS_3

“Iyah, bangun…” Kagendra yang tidak biasanya terbangun sebelum Sadiyah menatap wajah Sadiyah yang masih tidur dengan pulasnya.


“Iyah, bangun…katanya mau lari pagi bersama.” Kagendra mencium bibir Sadiyah setelah usaha membangunkan Sadiyah dengan hanya menggoyang-goyangkan lengannya saja gagal.


Sadiyah terbangun karena merasa tubuhnya kekurangan oksigen.


“Astagfirulloh…” Sadiyah terperanjat bangun.


“Kenapa? Mimpi buruk?” tanya Kagendra dengan wajah yang berjarak hanya 10 centimeter saja dari wajah Sadiyah.


“Iyah mimpi tenggelam dan kehabisan nafas.”


“Kamu tenggelam dalam lautan cinta ya?” goda Kagendra.


Wajah Sadiyah bersemu merah.


“Setelah kamu berhasil diselamatkan, kamu diberi nafas buatan kan?” Kagendra semakin senang menggoda Sadiyah.


Terdengar suara adzan subuh dari pengeras suara masjid yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka.


“Aa sudah siap buat sholat berjamaah?” tanya Sadiyah yang melihat Kagendra sudah segar dengan rambut yang masih basah tapi masih menggunakan kaos oblong dan celana pendeknya.


“Sudah. Tinggal pakai baju koko dan sarung.” jawab Kagendra.


Sadiyah turun dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk mandi dan berwudhu.


“Kamu sudah sehat? Mandinya pakai air hangat saja. Aa sudah siapkan air hangatnya di bathtub. Kamu berendam dulu sebentar biar badannya sedikit lebih enak. Air hangat di bathtubnya sudah Aa beri ramuan supaya badan kamu enakan.”


Sadiyah terkaget-kaget menerima perlakuan yang manis dari Kagendra. Ia juga mendengar Kagendra sudah menyebut dirinya Aa. Awal pagi yang indah, membuat hati Sadiyah berbunga-bunga. Kebahagiaan Sadiyah semakin lengkap ketika mengingat perlakuan lembut Kagendra tadi malam.


Sadiyah hanya berendam selama 10 menit saja. Setelah itu ia membersihkan tubuhnya untuk bersegera melaksanakan sholat subuh.


30 menit kemudian, Kagendra pulang dari masjid.


“Jadi ikut lari pagi?” tanya Kagendra pada Sadiyah yang masih duduk di atas sajadahnya sambil membaca qur’an.


“Jadiiiii….” seru Sadiyah sambil melepas mukena dan melipatnya dengan cepat.


Pagi itu mereka berdua lari pagi keliling komplek untuk pertama kalinya. Biasanya hanya Kagendra yang berlari pagi.


Sepasang suami istri paruh baya menyapa Kagendra yang sedang berlari pagi.

__ADS_1


“Nak Kagendra sekarang lari paginya ada yang menemani, tidak seperti biasanya sendirian.” sapa si istri dari pasangan paruh baya itu.


“Iya, Bu. Sekarang lari paginya bareng sama istri. Biasanya kalau saya lari pagi, istri saya sibuk bikin sarapan buat saya. Tapi sekarang dia ingin ikut.” jawab Kagendra dengan sopan.


“Nah begini dong, Ndra. Biar rumah tangganya tambah harmonis harus sering melakukan kegiatan bersama.” ujar suami si Ibu.


“Iya Pak. Sepertinya mulai dari pagi ini, istri saya akan menemani saya lari setiap pagi. Mari Pak Wasmin dan Ibu, kami berdua lari dulu keliling komplek.” pamit Kagendra sopan.


“Mari Pak, Bu.” Sadiyah tersenyum pada pasangan suami istri paruh baya itu dan segera berlari mengikuti Kagendra.


**********


Sejak kemarin sore, Kagendra menonaktifkan ponselnya. Pagi ini, Kagendra mengaktifkan kembali ponselnya dan langsung mendapatkan ratusan notifikasi pesan teks dan berpuluh kali panggilan tak terjawab dan semuanya dari Natasha.


Kagendra sudah menyangka jika isi pesan dari Natasha penuh dengan ancaman. Ia hanya membaca pesan teks terakhir dari Natasha yang memintanya untuk menemani ke dokter. Kagendra membalas pesan teks dari Natasha dan menyanggupi untuk menemaninya ke dokter.


Setelah selesai menemani Natasha kontrol, Kagendra mengantarkan Natasha pulang ke apartemennya.


“Aku pulang dulu. Kamu istirahatlah dengan baik.”


“Jangan pulang dulu dong, babe. Aku kan masih kangen. Sejak kemarin sore kamu mematikan ponsel kamu dan aku tidak bisa menghubungi kamu. Sekarang kamu harus menggantinya, kamu harus menginap di sini.” Natasha memohon.


“Aku tidak bisa. Aku harus pulang.”


Akhirnya Kagendra mengabulkan permohonan Natasha dan bersedia untuk menemaninya.


“Ini minuman kamu. Aku buatkan yang spesial untuk kamu.” Natasha memberikan secangkir minuman hangat untuk Kagendra.


“Apa ini?” tanya Kagendra curiga.


“Ini air jahe, supaya badan kamu hangat.”


Kagendra tersenyum ketika menerima secangkir air jahe tersebut. Ia teringat dengan air jahe buatan Sadiyah.


Setelah meminum habis air jahenya, Kagendra merasa kantuk yang sangat. Ia sudah tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya.


Natasha yang melihat kondisi Kagendra yang tidak mampu lagi menahan kantuk, memapahnya untuk berbaring di tempat tidurnya.


Setelah melihat Kagendra yang tertidur sangat pulas, Natasha mulai membuka pakaian atasan Kagendra, ia melucuti kameja dan kaos dalam Kagendra. Lalu ia melucuti pakaiannya sendiri dan berbaring di samping Kagendra.


Natasha memposisikan dirinya seolah-olah ia dan Kagendra sedang melakukan adegan panas di ranjang. Lalu ia mengambil gambar dengan berbagai posisi seolah-olah ia dan Kagendra benar-benar sedang malakukan aksi panas di atas ranjang.

__ADS_1


Setelah cukup puas mengambil gambar, Natasha pun tertidur dengan tenang sambil memeluk tubuh Kagendra.


Jam 4 pagi, Kagendra terbangun dan mendapati dirinya berbaring di atas kasur di kamar tidur Natasha. Ia melihat Natasha yang masih tertidur lelap sambil memeluk dirinya.


Kagendra kemudian melepaskan pelukan Natasha dan segera memakai kaos dalam dan kamejanya. Ia tidak ingat mengapa ia bisa tidur di kasur Natasha dengan keadaan tubuh bagian atasnya tak tertutup sehelai benang pun.


Tidak ingin  lebih lama lagi tinggal di unit apartemen Natasha, Kagendra bergegas pulang ke rumahnya. Perjalanan dari gedung apartemen Natasha menuju rumahnya mengambil waktu sekitar setengah jam karena jalanan masih sepi sehingga ia dapat memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Kagendra tiba dirumahnya sekitar jam setengah lima. Ia segera naik menuju kamarnya dan melihat Sadiyah yang masih tertidur lelap.


Kagendra menghampiri Sadiyah dan menatap wajah polos Sadiyah. Ada rasa menyesal karena telah meninggalkan Sadiyah seorang diri di rumah.


Setelah mengecup kening Sadiyah, Kagendra masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya untuk bersiap sholat subuh berjamaah di masjid.


Ketika Kagendra keluar dari kamar mandi, ia melihat Sadiyah sudah terbangun dan bersiap untuk masuk ke dalam kamar mandi.


“Aa pulang jam berapa? Iyah tidak mendengar Aa pulang tadi malam. Mungkin karena Iyah terlalu nyenyak tidurnya. Duh tidak terbayang bagaimana kalau ada pencuri masuk.”


“Aa baru saja pulang. Semalam Aa ketiduran di kantor.” Kagendra terpaksa berbohong.


“Aa…kan sudah Iyah bilang kalau bekerja itu sewajarnya saja. Buat apa sih kita kerja sampai merusak tubuh kita sendiri. Kalau Aa sakit buat apa uang yang banyak kalau uangnya buat biaya rumah sakit dan Aa tidak bisa menikmati uang hasil kerjanya. Aa ini bandel banget sih, gak bisa dibilangin sekali saja.” omel Sadiyah setelah tahu kalau kagendra tidur di kantor.


“Ini masih subuh. Jangan ngomel-ngomel terus, nanti cepat tua.” Kagendra yang merasa bersalah karena telah berbohong memeluk Sadiyah dengan erat.


“Iyah ngomel itu untuk kebaikan Aa. Iyah tidak mau kalau nanti Aa sakit.” Sadiyah terisak di dalam pelukan Kagendra. Ia tidak mengerti mengapa akhir-akhir ini ia merasa sangat sensitif sekali. Memikirkan Kagendra yang sakit saja sudah membuat Sadiyah sedih dan mengucurkan air matanya dengan deras.


“Loh, kenapa menangis. Aa kan tidak memarahi kamu.” Kagendra mengelus punggung Sadiyah dengan lembut.


“Iyah takut kalau Aa sakit. Aa jangan bekerja terlalu keras.” isak Sadiyah.


“Iya maaf. Aa janji akan bekerja dengan sewajarnya. Aa kan rajin olahraga dan makan makanan sehat yang dibuat khusus oleh kamu, jadi Aa tidak akan gampang sakit.” Kagendra mengecup kening Sadiyah dan mencuri ciuman ringan di bibir Sadiyah.


“Iiiih Aa mah genit. Subuh-subuh gini udah main nyosor.” Sadiyah mencubit perut Kagendra.


Kagendra tergelak melihat Sadiyah yang merajuk manja.


“Cepat kamu cuci muka dan berwudhu. Aa pamit pergi ke masjid ya.” Kagendra kembali mencuri satu ciuman di bibir Sadiyah.


“Aa…….” teriak Sadiyah kesal.


Kagendra segera memakai sarung dan baju kokonya dan bergegas pergi ke masjid untuk sholat subuh berjamaah.

__ADS_1


*******


to be continued....


__ADS_2