
Acara aqiqah dilaksanakan sore hari setelah waktu ashar. Rambut Ardana dan Arkana sudah digunting dan nama mereka sudah tercetak di kotak nasi yang akan dibagikan pada warga di sekitar. Alena dibantu oleh Atep, melaksanakan acara ini dengan baik.
Mereka berdua yang menggendong Ardana dan Arkana ketika acara potong rambut. Sepertinya mereka sudah cocok menjadi orangtua. Yusuf dan Indriani menyempatkan datang walaupun mereka sedang fokus pada kesehatan Aki Musa yang menurun dan pencarian Faras yang masih belum diketemukan.
“Kasihan keponanakan Tante. Sabar yah sayang-sayangnya Tante.” Alena menatap sayang pada dua keponakan barunya.
“Tep, susu formula mereka habis. Kamu bisa beli kan?”
“Merk apa?”
Alena menujukkan kaleng bekas susu formula yang diberikan pada Ardana dan Arkana.
“Mereka merasakan ASI cuma sebentar. Kasihan.”
Alena dan Atep hanya bisa menatap mereka dan berharap agar badai segera berlalu. Sadiyah masih enggan untuk menyusui Ardana dan Arkana.
*********
“Ardan, Arkan…maafkan Tante ya. Tante tidak bisa berbuat banyak buat kalian. Kalian harus kuat.” Alena menatap wajah adik-adiknya Aras dan Aris yang sedang minum susu formula.
“Len…” terdengar suara Sadiyah memanggil.
“Teteh…” Alena terkejut melihat Sadiyah sudah berada di ambang pintu kamar Ardan dan Arkan.
“Len, Teteh mendengar suara tangis bayi.”
“Ini Ardan dan Arkan.” Alena menunjukkan bayi kembar yang dilahirkan oleh Sadiyah dua minggu yang lalu. Bayi kembar yang baru sebentar saja merasakan sentuhan dan air susu dari ibu mereka.
“Len…”
Tiba-tiba Sadiyah menangis.
“Maafkan Ibu, maaf…”
Sadiyah menghambur mengambil salah satu bayi kembarnya lalu menciumi wajah bayinya. “Maafkan Ibu, maaf…”
Setelah menggendong Ardana, Sadiyah menggendong dan menciumi Arkana.
“Siapa nama mereka, Len? Bukan Upin dan Ipin, kan?”
Alena tersenyum mendengar pertanyaan Sadiyah. “Bukan, Teh. Aa kasih nama Ardana dan Arkana.”
“Yang mana Ardana dan yang mana Arkana?” tanya Sadiyah.
“Ini Arkan.” Alena menunjuk bayi yang tampak lebih gembil. “Dan yang ini Ardan.” Alena menunjuk bayi yang sedikit lebih kecil.
Sadiyah kembali menciumi bayi-bayinya.
“Lena gak yakin siapa yang lahir lebih dahulu. Hanya saja Lena memberikan nama Ardan buat yang ini.” Alena menunjuk Ardana.
“Siapa yang beri nama?”
“Aa hanya memberi nama Ardana dan Arkana. Untuk nama lengkap mereka Lena tambahkan Putra Nataprawira seperti nama Aras dan Aris. Aa juga sudah tahu dan setuju.” Raut wajah Sadiyah tidak berubah saat Alena menyebutkan nama Faras dan Faris.
“Maafkan Lena karena seenaknya memberi nama. Maaf juga karena Lena tidak bertanya pada Teteh karena…”
“Maafkan Teteh, Len. Maaf karena sikap Teteh yang sulit didekati. Terima kasih sudah memberi nama yang baik dan melaksanakan aqiqah untuk mereka.”
“Tidak apa-apa, Teh. Jangan dipikirkan. Yang terpenting sekarang, Teteh sudah sehat lagi.”
“Selama dua minggu ini, Teteh berjuang untuk bisa berdamai dengan semua yang terjadi. Teteh menyadari bahwa Teteh salah karena sudah mengabaikan Ardan dan Arkan. Teteh juga sulit untuk kalian dekati. Teteh berdosa sama Aa karena sudah durhaka sama suami.”
“Gak, Teh. Aa pasti mengerti kondisi Teteh. Teteh harus yakin kalau Aa pun tidak diam. Dua minggu ini Aa terus berusaha mencari keberadaan Aras. Lena yakin Aa pasti menemukan Aras.”
"Teteh sudah tahu kalau Aris sudah pulang?"
Sadiyah mengangguk.
__ADS_1
“Teteh sudah bertemu dengan Aris?”
Sadiyah menggeleng dan menyusut air matanya. “Teteh takut. Takut kalau melihat Aris tapi tidak ada Aras. Teteh takut…”
“Teteh mau memberi mereka ASI?” tanya Alena mengalihkan topik pembicaraan. Ia tidak ingin Sadiyah kembali histeris.
“Hm…tapi Teteh gak yakin kalau ASI-nya masih ada.”
“Dicoba saja dulu, Teh.”
“Hm…” Sadiyah mengangguk. Kemudian ia mempersiapkan diri untuk menyusui.
Alena membantu Sadiyah untuk menyusui Ardana.
“Bagaimana, Teh?”
“Sepertinya ASI-nya hanya keluar sedikit.”
“Tidak apa-apa, Teh. Karena sudah lama Teteh tidak menyusui jadi ASI-nya tidak lancar. Mudah-mudahan kedepannya bisa lancar.”
“Hm…”
Setelah selesai menyusui Ardana, Sadiyah menggendong Arkana dan mulai menyusuinya.
Terlihat Atep hendak masuk ke dalam kamar sambil membawa satu kantong plastik berisi susu formula untuk Ardana dan Arkana.
“Tunggu di situ, Tep!” Alena menghalangi Atep karena Sadiyah masih menyusui Arkana.
“Kenapa?” tanya Atep heran.
“Teh Iyah sedang menyusui Arkan,” bisik Alena.
“Oh, maaf. Alhamdulillah, akhirnya Teh Iyah mau juga menyusui mereka.”
“Sttt….cepat siapkan susu buat Teh Iyah. Siapkan juga makanannya. Bilang sama Inah buat menyiapkannya.”
“Siap Bos.”
“Len, Aa mana?” tanya Sadiyah.
“Lena tidak tahu, Teh. Sejak dua hari lalu belum pulang.”
“Coba kamu telepon A Endra. Bilang sama dia kalau Teteh mau bicara.”
“Baik, Teh.”
Baru saja Alena memijit nomor Kagendra, suara Atep terdengar panik.
“Len….”
“Apa?”
“A Endra pulang,” bisik Atep.
Alena langsung berlari menyongsong kepulangan Kagendra untuk memberitahunya bahwasanya Sadiyah sudah mau berbicara padanya.
“A…”
Panggil Alena saat Kagendra manaiki tangga dari arah garasi.
“Len...”
Bruk…
“Aa….”
Setelah dua hari mencurahkan semua tenaga dan fikirannya dalam mencari Faras, tubuh Kagendra sudah tidak bisa lagi menahannya. Ia ambruk di tangga, beruntung Rudi berhasil menangkapnya sehingga tidak terjerembab.
__ADS_1
“Aa kenapa?” Alena mengguncang tubuh Kagendra yang terasa panas. “Aa demam, Pak Rudi?”
Rudi menyentuh dahi Kagendra, “Iya, sepertinya Bos sakit. Dua minggu memporsir tenaga dan pikiran. Wajar kalau Bos sampai pingsan begini. Dua hari kemarin tidak tidur dan belum makan juga.”
“Kenapa Pak Rudi tidak mengingatkan Aa?” Alena mengomel dengan nada suara tinggi.
“Kamu seperti tidak tahu saja bagaimana keras kepalanya kakak kamu, Len. Beribu kali saya ingatkan, mana mau dia ikuti kalau dia tidak mau,” kata Rudi.
“Huh, iya juga sih.”
“Jadi ini bagaimana? Mau biarkan Bos di sini sampai sadar sendiri atau bagaimana?”
“Astaghfirullah, Lena sampai lupa.” Alena memanggil Atep untuk membantunya.
“Ada apa, Len?”
“Nih, bantuin angkat Aa ke kamar.”
“Kenapa itu A Endra tiduran di tangga begitu?”
“Bukan tiduran tapi pingsan. Cepat bantuin Pak Rudi.”
“Siap, Bos.”
Rudi dan Atep bekerja sama menggotong tubuh Kagendra yang masih belum sadarkan diri. Rudi menggotong tubuh bagian atas sedangkan Atep menggotong bagian bawah tubuhnya.
“Sekarang kamu juga jadi Bos, Len?” tanya Rudi sambil berbisik.
“Apaan sih?” Alena memukul lengan Rudi yang sedang membawa beban tubuh Kagendra.
“Jangan pukul seenaknya, Len. Kalau saya kaget, kepala kakak kamu bisa-bisa kejedot lantai.”
“Ish…” Alena mencebik kesal.
“Mau di bawa ke mana, nih?” tanya Atep.
“Ke kamar Aa saja.”
“Teh Iyah tidak akan marah?” tanya Atep khawatir.
“Gak tau juga sih, tapi Lena rasa Teh Iyah tidak akan marah kalau lihat keadaan Aa seperti ini.”
“Ya sudah kita gotong ke kamar Bos saja,” ujar Rudi yang sudah tampak kelelahan karena menggotong beban seberat lebih dari 70 kilogram.
Sadiyah masuk ke kamar ketika Rudi dan Atep baru saja membaringkan Kagendra di atas kasur.
“Aa kenapa, Len?”
“Tadi pingsan,” jawab Alena.
“Pingsan kenapa?”
“Kecapekkan mungkin.”
Sadiyah menghambur menghampiri suaminya. Air mata sudah mulai mengaliri pipinya lagi.
“Bangun, A…Aa kenapa seperti ini? Jangan meninggalkan Iyah. Bangun A.” Sadiyah mengguncang-guncangkan tubuh Kagendra yang tidak merespon apapun.
“Tenang saja Bu Bos. Jangan khawatir, Bos hanya pingsan. Sebentar lagi juga siuman,” ucap Rudi dengan suara santai dan tenang.
“Tenang bagaimana? Kenapa Pak Rudi tidak menjaga suami saya? Kerjanya Pak Rudi apa?” bentak Sadiyah mengagetkan semua orang yang ada di ruangan.
“Eh…itu…maksudnya Bu Bos jangan sedih. Bos tidak akan meninggalkan Bu Bos. Dia hanya pingsan karena kelelahan.”
“Kamu juga Lena. Kenapa diam di sini. Cepat pergi ke dapur dan ambilkan minum untuk Aa. Sekalian bawa juga baskom berisi air hangat.” suara Sadiyah terdengar tegas saat ia memberikan perintah.
Alena tersenyum bahagia melihat Sadiyah yang sepertinya sudah kembali dari masa terpuruknya.
__ADS_1
**********
to be continued...