
Malam ini, Kagendra tiba di unit apartemennya lebih awal, tidak seperti yang biasa ia lakukan selama satu minggu ini, selalu pulang di atas jam 10 malam.
Kagendra memanggil Sadiyah yang sedang mencuci piring dan gelas.
“Sadiyah, saya harap malam ini kamu persiapkan diri kamu. Saya akan meminta hak saya sebagai suami kamu.” ujar Kagendra tanpa basa basi.
“Tapi, A. Sejak awal Aa mengatakan bahwa Aa tidak akan pernah meminta hak Aa sebagai seorang suami. Saya masih ingat perkataan Aa itu.” protes Sadiyah.
“Kamu itu istri saya dan saya berhak atas kamu. Tidak ada dalam peraturannya kalau suami tidak boleh meminta haknya.” jawab Kagendra mempertahankan argumennya.
“Tapi….” Sadiyah berusaha untuk mengungkapkan isi hatinya.
“Saya tidak menerima penolakan. Jika kamu mau jadi istri durhaka yang dilaknat oleh malaikat karena tidak mau melayani suaminya, itu sih terserah kamu.” ancam Kagendra.
“Apa Aa yakin kalau malaikat tidak melaknat Aa? Apa yang Aa lakukan dengan pacar Aa itu sebuah dosa besar. Aa sudah mengkhianati pernikahan ini. Kalau Aa mau menceramahi saya, lihat dulu diri Aa dalam cermin. Ngaca, A.” teriak Sadiyah, tidak bisa lagi mengontrol emosinya.
“Kamu berani melawan saya?” bentak Kagendra.
__ADS_1
“Saya berani melawan Aa karena apa yang selama ini Aa lakukan dengan pacar Aa itu salah dan dosa besar. Saya tidak mengadukannya pada Aki dan orangtua Aa bukan karena saya tidak berani, tapi saya masih menghormati Aa sebagai suami saya dan berusaha untuk menutup a-ib dari suami saya. Dan juga saya tidak mau membuat Aki dan orangtua Aa bersedih kalau tahu kelakuan be-jat Aa.” Sadiyah mulai berani menyuarakan opininya. Sudah cukup rasa takut yang selama ini ia turutkan.
“Diam kamu.” tangan Kagendra sudah terangkat hendak memukul wajah sadiyah.
“Silahkan pukul. Ini membuktikan bahwa kamu adalah seorang pengecut yang menggunakan kekerasan dalam rumah tangganya. Saya bukan perempuan lemah yang akan menerima begitu saja perlakuan dari suaminya yang tidak bertanggung jawab. Selama ini saya diam karena saya masih menghormati kamu. Saya bukan perempuan lemah yang bisa menerima perlakuan tidak adil seperti perempuan bodoh yang diam saja dikhianati suaminya sendiri yang berselingkuh. Saya perempuan mandiri yang tanpa kamu pun saya bisa hidup dengan baik, bahkan lebih baik. Saya katakan sekali lagi, saya masih bertahan dalam pernikahan ini karena saya menghormati dan menyayangi Aki dan orangtua kamu. Saya sudah menganggap mereka sebagai Aki dan orangtua saya sendiri.” Sadiyah terengah setelah selesai mengutarakan kekesalannya. Sekarang Sadiyah tidak lagi menyebut suaminya itu dengan sebutan Aa tapi kamu. Sudah hilang rasa hormat Sadiyah pada suaminya.
“Kamu mau meminta hak kamu sebagai suami? Tunaikan dulu kewajiban kamu sebagai seorang suami. Mikir pakai otak kamu yang katanya cerdas. Sudah pantas belum kamu untuk meminta hak kamu pada saya?” sindir Sadiyah.
Kagendra yang sudah diliputi oleh emosi semakin gelap mata. Tangannya menangkup wajah Sadiyah dan bibirnya mulai menyerang bibir Sadiyah. Sadiyah tidak terima dengan perlakuan Kagendra. Sekuat tenaga ia membalas perlakuan Kagendra dengan menggigit bibir Kagendra agar bibirnya terlepas dari pagutan bibir Kagendra.
“Aww….” Kagendra melepaskan pagutan bibirnya karena merasakan sakit yang luar biasa hasil dari gigitan Sadiyah.
Plak….
Emosi semakin menguasai Kagendra. Kembali bibir Kagendra menyerang bibir Sadiyah. Tidak diberi kesempatan bagi Sadiyah untuk mengigit lagi. Bibir Kagendra menguasai bibir Sadiyah.
Tangan Kagendra merobek piyama yang dipakai Sadiyah hingga semua kancingnya terlepas. Sadiyah terbelalak melihat apa yang dilakukan oleh Kagendra. Ia tidak mempercayai bahwa Kagendra akan berbuat sejauh ini.
__ADS_1
Setelah berhasil merobek piyama atasan Sadiyah, Kagendra mendorong Sadiyah hingga terbaring di kasur dan melucuti semua bahan yang menutupi tubuh Sadiyah. Terbukalah semua aurat milik Sadiyah di hadapan Kagendra.
Sadiyah menahan air matanya. Ia tidak ingin terlihat lemah di mata Kagendra. Tapi ia merasa sangat malu sekali. Sekarang semua auratnya terpampang jelas di hadapan mata suaminya.
“Sekarang kamu mau melakukan apa?” tantang Sadiyah dengan sorot mata yang tajam.
Kemarahan Kagendra berganti dengan gairah melihat apa yang tampak di depan matanya. Tanpa ampun Kagendra menyerang Sadiyah tanpa perlawanan yang berarti. Sepanjang malam, kagendra menyerang tanpa henti hingga menjelang subuh. Dari serangan yang masif sampai serangan yang lembut dan memabukan.
************
Kagendra menatap wajah kelelahan wanita yang sedang tertidur lelap di sampingnya. Tampak juga gurat bekas air mata yang mengalir di pipi Sadiyah. Ada rasa penyesalan yang timbul dalam hati Kagendra.
Sebenarnya, Kagendra mulai menyukai Sadiyah, ia sangat menyukai sikap Sadiyah yang perhatian, sopan dan hormat padanya, ia juga kecanduan dengan apapun yang dimasak oleh istrinya itu, bahkan dalam seminggu ini ia sangat merindukan masakan buatan Sadiyah. Dalam satu minggu ini, jika ia berani mengakuinya bahwa ia tidak berselera makan karena harus makan siang dan malam di restoran, cafe ataupun delivery.
Sadiyah tidak je-lek, bahkan orang lain yang memandangnya pasti menyetujui jika Sadiyah adalah seorang perempuan yang cantik dan cerdas. Wajahnya hampir tidak pernah memakai riasan yang tebal. Mungkin saat resepsi pernikahannya sekali-kalinya wajah Sadiyah tersentuh make-up yang agak tebal. Sehari-hari, Sadiyah hanya memakai pelembab wajah dan bedak saja dengan lipgloss yang mengulas bibirnya. Ia tidak pernah melukis alisnya, melentikkan bulu matanya, apalagi memulaskan blush on yang membuat pipi merah merona. Kecantikan Sadiyah adalah kecantikan yang natural ditunjang oleh kecantikan dari dalam semakin memancarkan kecantikannya yang sejati.
Jika saja Natasha tidak muncul di hadapan mereka, bukan tidak mungkin Kagendra akan cepat melabuhkan hatinya pada Sadiyah. Hanya saja kemunculan Natasha yang tiba-tiba membuat Kagendra kembali berpaling pada Natasha, cinta pertamanya yang ia yakini hatinya masih milik cinta pertamanya itu. Tunas-tunas cinta yang mulai tumbuh dalam hati Kagendra untuk Sadiyah langsung mati tanpa diberi kesempatan untuk tumbuh berkembang.
__ADS_1
******************