Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
71. Rasa Sakit


__ADS_3

“Buat apa kami berbohong, Ndra. Mang Awan mengatakan yang sebenarnya.”


“Saya mohon, Bi. Saya mohon beritahu dimana Sadiyah sekarang?” Kagendra sudah tidak malu lagi terisak di hadapan Darmawan dan Rostita.


Darmawandan Rostita tak menyangka Kagendra akan seputus asa seperti ini. Mereka menatap Kagendra dengan perasaan iba.


“Saya mohon, Bi. Saya mohon, Mang. Jangan sembunyikan Sadiyah dari saya. Saya harus bertemu dengan Sadiyah sekarang juga. Banyak hal yang harus diluruskan. Semua yang ada di foto itu hanya rekayasa saja. Saya tidak pernah tidur bersama dengan Natasha. Memang saya akui kalau saya menjalin lagi hubungan dengan Natasha di belakang Sadiyah. Tapi itu awal saja ketika Natasha baru kembali lagi keIndonesia.”


“Kami benar-benar tidak menyembunyikan Sadiyah. Kami hanya tahu kalau Sadiyah ada di suatu tempat bersama dengan Mak Isah. Sadiyah sendiri yang menyetir sehingga selain Sadiyah dan Mak Isah tidak ada lagi yang mengetahui tempat tinggal mereka sekarang.”


Rostita tidak sepenuhnya berbohong. Ia memang tahu kota tempat Sadiyah tinggal tapi tidak tahu dengan tepat dimana Sadiyah sekarang tinggal. Rostita tidak tahu lokasi sawah yang diwariskan Nandang pada Sadiyah.


“Saya mencintai Sadiyah, Bi. Saya harus bertemu dengan Sadiyah sekarang juga. Tolong bantu saya, Bi.” Kagendra berlutut di hadapan Rostita dan Darmawan. Air matanya tak terbendung meluncur deras melewati pipi. bahunya bergetar menahan tangis.


“Jangan seperti ini, Ndra. Kamu bangun dulu, tidak usah berlutut seperti ini. Kamu juga belum sembuh benar kan? Duduk saja di kursi.”


Darmawan memberikan tatapan memohon pada Rudi agar membantu Kagendra untuk duduk di kursi.


“Bos, jangan seperti ini. Tubuh Bos masih lemah. Bos juga harus memperhatikan kesehatan sendiri.” bujuk Rudi sambil membantu Kagendra untuk bangkit dan duduk di atas kursi.


“Beri tahu saya kota-kota yang mungkin didatangi oleh Sadiyah. Saya akan mencarinya. Rud. Persiapkan diri kamu buat menemani saya mencari Sadiyah.”


“Bi Ita tidak tahu sama sekali kota-kota mana saja yang mungkin akan didatangi oleh Sadiyah.”


“Sebaiknya kamu bersabar dulu, Ndra. Sadiyah bilang pada kami jika ia sudah menetap, ia akan memberitahu kami. Jadi, kamu bersabar dulu saja dan tunggu Sadiyah memberitahu lokasi tempat tinggal barunya pada kami. Kami pasti akan memberitahu kamu.


“Janji Mang…”


“Insya Allah. Mudah-mudahan Sadiyah segera mengirimkan kabar.”


“Kalau begitu kami pamit dulu Pak, Bu. Maaf jika kedatangan kami mengganggu Bapak dan Ibu.” Rudi membantu Kagendra untuk berjalan menuju mobil.


“Saya pamit Mang, Bi. Saya tunggu kabar dari Mang Awan. Tolong bantu saya Mang.” pinta Kagendra dengan sisa air mata yang masih menggenang.


Rudi membantu Kagendra naik ke dalam mobil.


“Awas kepalanya, Bos.” Rudi melindungi kepala Kagendra dengan tangannya.


Setelah masuk dan duduk di kursi penumpang, Rudi melihat Kagendra yang melihat arah jalan di depan dengan tatapan kosong.


“Bos pakai seatbeltnya.”


Sepertinya Kagendra tidak mendengar perkataan Rudi karena dia masih menatap ke depan tanpa melakukan apa yang diminta oleh Rudi.

__ADS_1


Akhirnya Rudi membantu Kagendra untuk memasangkan seatbeltnya.


“Sepertinya pikiran si Bos sudah mulai tidak waras. Saya khawatir kalau Bu Bos tidak ditemukan, Bos bakal berakhir di rumah sakit jiwa.”


Sepertinya jiwa Kagendra memang tidak berada di tempat semestinya. Terbukti dengan diamnya


Kagendra walaupun Rudi mengatainya.


Rudi mulai menjalankan mobilnya. Tidak berapa lama, ia melihat ke arah Kagendra dan


melihat Kagendra masih menatap dengan hampa.


“Bos…sadar Bos… kalau Bos jadi gila dan masuk ke rumah sakit jiwa. Bagaimana nasib perusahaan


Bos? Bagaimana nasib ratusan pekerja Bos? Bos tidak boleh terpuruk seperti ini. Kita pasti menemukan  keberadaan Bu Bos. Tapi sebelum bekerja keras untuk mencari Bu Bos, sebaiknya Bos memperhatikan kesehatan Bos dulu. Kalau Bos sakit bagaimana mau mencari Bu Bos.” Rudi berusaha menyadarkan Kagendra dengan menggoyang-goyangkan lengan Kagendra dengan sedikit kasar.


"Bos…sadar Bos…” teriak Rudi.


Rudi menepikan mobilnya dan memandang Kagendra yang masih saja asyik dengan pikirannya


sendiri.


Plak….


Rudi menampar pipi Kagendra.


Plak…


Plak….


Plak…


Plak….


Setelah tamparan kelima, akhirnya Kagendra tersadar dan menatap tajam pada Rudi.


“Kenapa kamu menampar saya?” tanya Kagendra linglung.


“Karena Bos susah sadarnya.”


“Sakit, Rud.”


“Eh….”

__ADS_1


“Rasanya sakit, Rud.”


“Maafkan saya Bos. Sepertinya tamparan saya terlalu keras.”


“Sakit sekali, Rud.”


“Bos….maaf, saya…..”


Kagendra memukulkan tangannya berkali-kali pada dada kirinya.


“Di sini rasanya sakit sekali dan juga sesak. Saya jadi susah bernafas, Rud.” Kagendra masih terus memukul-mukul dada dengan tangan kanannya.


“Kalau Bos ingin menangis, menangis saja Bos. Kalau sudah menangis barangkali sakitnya jadi berkurang.”


Beruntung Rudi menepikan mobilnya di tempat yang sepi sehingga mereka tidak akan merasa malu kalau-kalau ada orang yang sedang lewat memergoki Kagendra yang sedang menangis.


“Kenapa dia meninggalkan saya. Kenapa? Apa dia tidak menyadari kalau saya menyayanginya? Apa dia mencintai pria lain dan pergi bersama pria itu?”


“Bos jangan menuduh seperti itu. Bos harus yakin kalau istri Bos itu istri yang sholehah dan tidak mungkin pergi bersama dengan laki-laki lain.”


“Kalau benar dia istri yang sholehah, dia tidak akan meninggalkan saya. Tapi nyatanya dia pergi dari rumah saya. Dia pergi tanpa izin  dari saya.”


“Itu kan karena kesalahan Bos sendiri.”


“Saya tahu, saya yang salah. Semuanya adalah kesalahan saya. Tapi seharusnya dia mendengarkan


dulu penjelasan dari saya bukannya malah pergi. Dia juga bersalah, Rud. Dia…dia seenaknya menyimpulkan semuanya sendiri. Saya juga berhak untuk memberikan penjelasan.”


Kagendra semakin terisak setelah mengeluarkan apa yang sedari tadi ada dalam pikirannya.


Setengah jam Rudi menunggu dalam diam. Setelah Kagendra mulai tenang, Rudi mulai melajukan kembali mobilnya.


“Sudah sedikit lega, Bos?”


“Hmmm….”


“Mau langsung balik atau istirahat dulu di hotel sini?” tanya Rudi.


“Istirahat saja dulu di hotel dekat sini, Rud. Kepala saya terasa sangat sakit. Saya mau


merebahkan diri dulu di tempat tidur.”


“Baik, Bos.”

__ADS_1


**********


to be continued....


__ADS_2