Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
137. Hamil?


__ADS_3

Satu bulan kemudian…


Kagendra, Sadiyah, Faras dan Faris kembali tinggal di Bandung. Sudah dua minggu mereka tinggal di rumah baru.


Malam tadi Kagendra baru saja sampai rumah setelah menumpuh perjalanan cukup panjang dan sangat macet dari Jakarta ke Bandung. Jumat malam, perjalanan dari Jakarta ke Bandung memang terasa lebih panjang karena macet. Kemacetan di Jumat malam memang sudah biasa karena banyak penduduk Bandung yang bekerja di Jakarta lalu pulang tiap akhir pekan, termasuk Kagendra. Itulah sebabnya gerbang tol kota Bandung selalu penuh sesak di Jumat malam.


Pagi ini Kagendra dan Sadiyah baru saja menyelesaikan kegiatan lari pagi bersama. Jarangnya bertemu membuat Kagendra bertekad untuk mendapatkan waktu berkumpul bersama keluarga yang berkualitas. Sabtu pagi Kagendra, Sadiyah, Faras dan Faris lari pagi bersama mengelilingi komplek. Setelah lari pagi, Sadiyah membuat sarapan dibantu  Kagendra.


Setiap akhir pekan, Sadiyah meliburkan asisten rumah tangga mereka. Ia berpendapat semua pegawai di rumahnya juga berhak untuk liburan atau menghabiskan waktu bersama keluarga di akhir pekan.


Seperti biasa, Sadiyah membuat nasi goreng kesukaan Kagendra, Faras dan Faris. Kagendra membantu mengiris bawang merah, bawang putih dan cabai merah. Setelah selesai menyiapkan bumbu, Kagendra mencuci udang dan ayam fillet.


Sadiyah mulai menumis bumbu yang telah disiapkan suaminya. Harum bumbu yang ditumis mulai menyeruak ke seluruh ruangan dapur. Harumnya bumbu nasi goreng membuat Kagendra mual dan ingin muntah. Ia menahan diri untuk tidak muntah tapi sepertinya tidak bisa. Kagendra lari menuju kamar mandi dan memuntahkan cairan asam karena belum ada makanan yang masuk ke dalam perutnya.


“Iyah,” panggil Kagendra setelah keluar dari kamar mandi.


“Apa, A? Eh, kenapa muka Aa pucat?" Sadiyah kaget melihat wajah pucat Kagendra. "Aa sakit?"


“Kamu sudah isi belum?”


“Isi apa, A?”


“Hamil.”


“Iyah belum cek. Kayanya sih belum, A. Iyah tidak merasakan mual atau ngidam,” ungkap Sadiyah.


“Kamu tidak tapi Aa iya.”


“Hah? Maksudnya?”


“Aa yang mual dan ngidam. Sudah satu minggu ini Aa selalu pusing dan mual setiap pagi. Sekarang saja Aa mual mencium bau bumbu yang kamu tumis. Aa juga jadi suka makan makanan yang pedas. Dua hari lalu, Aa beli cilok di pinggir jalan. Bayangkan seorang Kagendra membeli cilok di pinggir jalan. Sangat tidak mungkin, kan?”


“Iya sih, A. Jangankan di pinggir jalan, beli di restoran saja pilih-pilih.”


“Nah itu dia. Aa pernah mengalami hal ini tujuh lalu saat kamu hamil Aras dan Aris. Kamu yang hamil tapi Aa yang mual dan ngidam. Aneh tidak?”


“Iyah juga merasa aneh saat hamil Aras dan Aris. Iyah tidak menyadari kalau Iyah hamil karena tidak merasakan tanda-tandanya. Saat Iyah periksa ke dokter, kehamilan Iyah sudah masuk bulan ketiga,” ungkap Sadiyah.


“Aa menderita mual dan pusing tanpa tahu alasannya. Dokter yang memeriksa Aa juga sampai bingung dengan penyakit Aa.”


“He-he-he, lucu ya A. Iyah yang hamil tapi Aa yang pusing dan mualnya.”


“Sepertinya hal itu berulang kembali kalau feeling Aa tidak meleset. Sepertinya kamu hamil.”


“Besok deh Iyah periksa.”


“Sekarang saja. Aa sudah beli alatnya.” Kagendra masuk ke kamar dan kembali membawa tiga buah test pack berbeda merk.


“Tidak kurang banyak beli test packnya?”


“Biar lebih jelas.”


“Kalau mau jelas, pergi ke dokter kandungan, A.”

__ADS_1


“Iya. Setelah pakai test pack, kita ke dokter kandungan.”


Sadiyah tertawa mendengar ucapan Kagendra.


******


Setelah sarapan, Sadiyah pergi ke kamar mandi dan memasukkan test pack ke dalam air seninya yang ditampung dalam sebuah wadah kecil.


“Bagaimana hasilnya?” tanya Kagendra segera setelah Sadiyah keluar dari kamar mandi.


Sadiyah mengulum senyumnya.


“Positif?”


Anggukan Sadiyah membuat Kagendra berjingkrak-jingkrak layaknya anak-anak yang menjuarai sebuah lomba.


“Alhamdulillah Yaa Allah.” Kagendra menciumi pipi kanan dan kiri Sadiyah lalu berjongkok untuk menciumi perut Sadiyah.


“Aa ikhlas mual dan pusing setiap pagi?”


“Sangat ikhlas,” jawab Kagendra sambil mendongak.


“Sekarang masih mual dan pusing tidak?”


“Masih,” jawab Kagendra lemas karena baru mengeluarkan semua yang ia makan tadi.


“Kita ke dokter sekarang.”


“Masih pagi, A. Belum ada dokter yang praktek.”


“Belum A. Iyah belum tahu dokter kandungan yang bagus di Bandung.”


“Memangnya kamu melahirkan Aras dan Aris di mana? Di Cibeber?”


“Iyah belum cerita, ya?”


“Belum,” jawab Kagendra sedikit kesal. Ia menyesal dan kesal pada dirinya sendiri karena tidak berada di samping Sadiyah saat melahirkan.


“Iyah periksa Aras dan Aris di Cibeber tapi melahirkan mereka di Bandung. Itu juga tidak direncanakan. Iyah sedang kunjungan rutin ke café di Bandung, eeh mereka tidak sabar keluar. Jadi Iyah melahirkan di Bandung ditemani  Mak Isah dan Atep. Bersyukur Mak Isah ikut dan Atep yang bawa mobil jadi bisa cepat ke rumah sakit bersalin,” jelas Sadiyah. Ia merasa bersalah karena belum sempat menceritakan proses melahirkan anak kembarnya pada Kagendra.


“Saat itu kamu baik-baik saja?” tanya Kagendra khawatir. Ia merasa benar-benar menyesal karena tidak mendampingi Sadiyah saat melahirkan anak-anak mereka.


“Tentu saja baik-baik saja. Kalau Iyah tidak baik-baik saja mungkin sekarang Iyah tidak ada di hadapan Aa.”


Kagendra memeluk erat Sadiyah, “Maafkan Aa, Sayang. Aa benar-benar bersalah sama kamu.”


“Sudahlah! Masa lalu tidak usah diungkit-ungkit lagi. Bikin sedih, kan?”


Kagendra mengangguk.


*********


“Sudah dapat dokternya?” tanya Kagendra.

__ADS_1


Sadiyah masih mencari-cari dokter kandungan yang sesuai lewat online.


“Dokternya banyak yang bagus tapi mereka laki-laki. Tidak apa-apa kalau dokter kandungannya laki-laki? Kalau Iyah sih risih diperiksa dokter laki-laki.”


“Tidak boleh. Cari dokter kandungan perempuan! Aa tidak mau kamu dipegang-pegang sama laki-laki lain.”


“Dulu pas melahirkan Aras dan Aris, dokter kandungan yang bantu persalinan Iyah dokter laki-laki. Saat itu, Iyah tidak sanggup memikirkan apapun selain mengeluarkan Aras dan Aris dari dalam perut. Boro-boro mikirin risih atau tidak, Iyah nahan sakit sampai ingin pingsan rasanya. Sakit banget.”


“Perjuangan seorang ibu ya seperti itu, Sayang, balasannya juga surga. Kalau seorang ibu meninggal sewaktu melahirkan maka ia tergolong orang yang mati syahid. Itulah keutamaan seorang perempuan yang tidak dimiliki oleh laki-laki.”


“Rasanya sakit banget. Iyah jadi teringat sama Ibu saat melahirkan Iyah dan adik. Perjuangan seorang ibu dalam melahirkan memang tidak luar biasa sakitnya tetapi semua kesakitan itu hilang saat Iyah melihat Aras dan Aris.”


“Siapa yang mengazani mereka?”


“Atep.”


“Apa?”


“Memangnya siapa lagi yang mau mengazani? Aa?”


“Ya bukan begitu. Kenapa bukan Mang Awan?”


“Mang Awan dan Bi Ita tidak Iyah kabari dan mereka memang belum tahu tempat tinggal Iyah saat itu.”


“Oh…”


“Kenapa? Cemburu sama Atep?”


“Bukan begitu. Aa malah berencana untuk menjodohkan Atep sama Lena. Kamu setuju tidak?”


“Beneran, A?”


“Hm…”


“Iyah memang sudah punya rencana untuk menjodohkan mereka. Aras dan Aris pun antusias menjodohkan mereka. Malah Aras dan Aris yang lebih dulu mengungkapkan keinginan mereka untuk menjadikan Atep om mereka dan Lena menjadi bibi mereka.


“Kalau Atep dan Lena menikah, apa Aras dan Aris akan mengubah sebutan mamang menjadi om dan tante menjadi bibi?”


“Ya gak gitu juga, A. Atep akan tetap mereka panggil mamang walaupun sudah menikah dengan tante mereka dan Lena akan tetap dipanggil tante walaupun menikah dengan mamang mereka.”


“Iya juga ya. Kenapa jadi ribet perihal mengganti nama.” Mereka mentertawakan kekonyolan pertanyaan Kagendra.


“Atep itu anak yang baik. Ayahnya meninggal bersama dengan orangtua Iyah saat mereka pergi untuk urusan bisnis ke luar negeri. Jenazah mereka tidak pernah ditemukan karena jatuh di atas perairan.” Sadiyah terisak mengingat kedua orangtuanya.


“Jadi itulah mengapa kamu tidak pernah mengajak Aa ke kuburan mereka?”


“Hm…”


“Insya Allah mereka syahid karena meninggal tengelam. Sebagai anak, kita tidak harus menziarahi kuburan mereka jika memang tidak ada. Doa anak yang saleh akan menerangi mereka di alam barzah walau kita tidak tahu dimana keberadaan jenazah mereka.”


“Amin.”


**********

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2