
“Kamu bukan kerja di café itu sebagai pegawai, kan? Kamu yang punya café itu?” selidik Alena.
Atep mengangguk.
“Kenapa kamu tidak bilang dari awal?”
“Kenapa kamu tidak tanya?”
“Harusnya kamu kan yang bilang.” Alena kesal karena merasa dibohongi Atep.
“Aku sudah bilang kalau aku kerja di café.”
“Tapi kamu tidak bilang kalau kamu pemilik cafénya.”
“Kamu yang langsung memberi anggapan kalau aku pegawai di café.”
“Ya memang, tapi kan…”
“Sudahlah, apapun posisi aku di café itu tidak akan mempengaruhi rasa sayang aku sama kamu. Ok?”
“Tau ah.” Alena mendengus mendengar jawaban Atep
Mereka berdua duduk dengan hati tidak tenang karena lampu tanda operasi masih menyala.
“Kamu sudah telepon A Endra, kan?”
“Sudah.”
“Kenapa dia belum datang juga? Katanya mau mendampingi istri melahirkan. Katanya mau mengazani anak-anaknya. Masa aku lagi yang mengazani mereka.”
“Jangan bicara sembarangan, adik durhaka!” desis Kagendra yang baru saja sampai sudah disuguhi omelan pedas dari adik angkat istrinya.
Atep mengusap-ngusap kepala yang mendapatkan tamparan yang cukup keras dari Kagendra.
“Gimana Iyah?” tanya Kagendra dengan napas ngos-ngosan.
“Masih di dalam,” jawab Alena.
“Bagaimana ceritanya Iyah bisa melahirkan dadakan seperti ini?”
“Sudah takdir, A. Yang namanya kelahiran dan kematian seseorang tidak bisa kita majukan atau mundurkan. Iya kan?”
“Aa juga tahu, Len. Tapi pasti ada penyebabnya sampai Iyah harus melahirkan lebih awal.”
Lalu mengalirlah cerita dari mulut Alena tentang perempuan bernama Evangeline, yang ternyata sepupu Natasha, perempuan di masa lalu Kagendra.
__ADS_1
“Pantas saja, akhir-akhir ini Aa merasa kalau ada yang mengawasi. Aa curiga kalau itu Natasha. Dia sudah kembali.”
“Dia kembali dan mungkin akan mengganggu ketenangan Aa dan Teh Iyah. Sebaiknya Aa lebih berhati-hati. Kalau bisa, setelah Teh Iyah melahirkan, Aa ambil cuti dulu.”
“Aa juga berpikir seperti itu. Aa khawatir Natasha akan berbuat sesuatu di luar perkiraan kita. Dia itu wanita yang nekad. Dulu saja dia mencoba bunuh diri.” Kagendra mengingat kembali masa lalunya bersama Natasha.
“Wanita yang pedendam itu mengerikan A. Dia bisa berbuat nekad.”
“Keluarga Bu Sadiyah,” panggil dokter yang baru saja keluar dari ruang bersalin.
“Saya suaminya, Dok.”
“Selamat, Pak. Bu Sadiyah dan bayi-bayinya dalam keadaan baik. Setelah perawat membersihkan bayi-bayinya, Anda bisa melihat mereka di ruangan khusus. Karena mereka lahir lebih cepat dari seharusnya, maka mereka harus mendapatkan perawatan khusus terlebih dahulu. Silahkan jika Anda ingin menemui Bu Sadiyah.”
“Tadi melahirkannya normal kan, Dok?”
“Alhamdulillah normal.”
“Bayinya perempuan atau laki-laki, Dok?” tanya Alena.
“Dua-duanya laki-laki.”
“Alhamdulilah.” Kagendra, Alena dan Atep kompak mengucapkan syukur.
“Dua keponakan laki-laki lagi. Mudah-mudahan kelakuan mereka gak mirip Aa dan Aras,” harap Alena.
“Tidak kenapa-kenapa,” jawab Alena datar. “Kalau mirip ayah dan kakak laki-lakinya yang bernama Aras, bisa-bisanya Teh Iyah pusing tujuh keliling,” tambah Alena setelah Kagendra berlalu.
“Kembar laki-laki lagi. Memangnya dari keluarga kalian siapa yang kembar?” tanya Atep.
“Aku juga tidak tahu darimana asalnya keturunan kembar di keluarga kami. Yang pasti, sepupuku, anaknya adik abah juga kembar. Kamu kenal tidak dengan Kak Arfian?”
Atep mengangguk.
“Nah, adiknya Kak Arfian itu kembar, Arfan dan Arfin. Salah satu dari sepupu kembarku itu menikah dengan sahabatku. Kak Fian juga nikahnya sama sahabat aku. Tapi anak mereka malah gak ada yang kembar. Yang dapat anak kembar malah Aa, dua kali pula.”
“Kalau nanti kita punya anak, kemungkinan kembar juga ya?”
“Gak tau. Nikah saja belum, sudah memikirkan anak.”
Atep terkekeh mendengar ucapan ketus Alena.
********
Sadiyah sudah dipindahkan ke ruang perawatan.
__ADS_1
“Sayang…”
Kagendra menghampiri Sadiyah yang terbaring lemah.
“Terima kasih sudah memberikan dua jagoan lagi untuk Aa.” Kagendra mencium puncak kepala Sadiyah.
“Maafin, Iyah. Maaf karena Iyah lemah, mereka harus lahir lebih cepat dari yang seharusnya.”
“Sttt… kita tidak bisa menunda atau mempercepat kelahiran. Ini sudah takdir Allah kalau anak-anak kita lahir lebih cepat dari perkiraan. Yang terpenting kamu dan anak-anak sehat.”
“Tadi Iyah marah sekali sama seseorang. Dia bilang kalau di sepupunya Natasha. Dia bilang sesuatu yang membuat Iyah emosi. Setelah itu, perut Iyah sakit.” Sadiyah terisak saat menceritakan kejadian siang tadi.
“Lena sudah cerita. Jangan terlalu dipikirkan. Aa akan mengurus segalanya. Kamu fokus saja pada masa pemulihan kamu dan anak-anak.”
“Aa sudah mengazani mereka?”
“Belum. Kata dokter mereka sedang dibersihkan dulu. Nanti kalau sudah selesai, perawat akan panggil.”
“Maaf, Pak Kagendra. Silahkan kalau mau mengazani anak-anaknya.” Seorang perawat memberitahu Kagendra.
“Aa tinggal dulu sebentar.” Kagendra mencium kening Sadiyah sebelum bergegas menuju ruangan khusus bayi untuk mengazani bayi kembarnya.
Seorang perawat membantu Sadiyah untuk membersihkan diri. Setelah selesai dengan sesi membersihkan diri dan berdandan, perawat tersebut membantu Sadiyah untuk memompa ASInya. Karena bayi kembarnya masih berada di ruangan khusus, Sadiyah tidak bisa memberikan ASI secara langsung.
ASI pertama yang keluar dari payudara atau disebut kolostrum memiliki kandungan zat gizi yang diperlukan bagi bayi yang baru lahir. Itulah sebabnya Sadiyah berusaha keras untuk bisa mengeluarkan ASI pertamanya walaupun terasa nyeri dan pedih. Ia sangat meyakini bahwa kolostrum ini berisikan antibodi, protein, dan zat gizi lainnya.
Dulu, saat melahirkan Aras dan Aris, Sadiyah tidak menemui kesulitan dalam memberikan ASI walaupun harus memberikan ASI pada dua bayi. Sekarang, ia pun bertekad untuk memberikan ASI terbaik untuk kedua anak kembarnya. Bayi yang baru lahir harus segera diberi kolostrum selain baik untuk bayi hal ini pun dapat memperlancar produksi ASI selanjutnya.
Kagendra kembali dari mengazani bayi-bayi mereka saat Sadiyah baru saja selesai memompa ASI untuk bayi-bayinya. Sadiyah meringis merasakan rasa sakit yang luar biasa pada ***********.
“Sakit?” Kagendra mengecup dan mengelus puncak kepala Sadiyah.
“Payudara Iyah sakit, A. ASInya juga tidak keluar banyak. Kasihan mereka tidak bisa langsung menyusu,” ucap Sadiyah terisak.
“Tidak apa-apa, Sayang. Mereka bayi-bayi yang kuat. Mereka akan tahan walaupun hanya minum ASI yang sedikit.”
“Dulu ASI Iyah keluar banyak walaupun baru pertama kali melahirkan. Aras dan Aris juga dapat ASI banyak.” Sadiyah kembali terisak.
“Tidak apa-apa, Sayang. Nanti juga ASInya banyak. Kamu jangan sedih. Kalau kamu sedih nanti ASInya semakin sulit keluar. Jangan nangis lagi, ya.” Kagendra mengusap air mata yang mengalir di pipi Sadiyah lalu menciumi kedua mata Sadiyah.
Bukannya berhenti, tangis Sadiyah semakin kencang.
Tidak tahan melihat istrinya yang menangis, Kagendra memeluk Sadiyah erat.
“I love you. I love you to the moon and back.” Kagendra terus memeluk Sadiyah sambil menciumi puncak kepalanya.
__ADS_1
*********
to be continued...