Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
94. Mengejar


__ADS_3

“Iyah….” panggil Kagendra ketika Sadiyah berjalan mendekat.


Sadiyah seperti baru tersadarkan bahwa ada seorang laki-laki dewasa yang bersama dengan Faras dan Faris ketika mendengar namanya dipanggil.


Sadiyah melihat ke arah laki-laki dengan suara yang selalu ia ingat sepanjang enam tahun ini.


“Aa….” mata Sadiyah terbelalak melihat kehadiran Kagendra yang berdiri tidak jauh dari hadapannya. Tangan kedua anak kembarnya tampak erat memegang tangan Kagendra.


Untuk beberapa saat Kagendra dan Sadiyah saling menatap.


“Iyah….”


Sadiyah yang duluan melepas tatapannya. Ia langsung fokus pada Faras dan Faris dan menarik tangan mereka yang sedang menggenggam erat tangan Kagendra.


“Aras…Aris…cepat ikut pulang sama Ibu.” Sadiyah menuntun Faras dan Faris dengan kedua tangannya dan sedikit berlari menjauhi Kagendra yang masih terkejut karena pertemuan pertamanya dengan Sadiyah setelah enam tahun berpisah. Faras dan Faris berjalan mengikuti langkah Sadiyah yang cepat dengan sedikit terseok-seok.


“Iyah…tunggu….”


Kagendra yang baru tersadar langsung berlari menyusul Sadiyah.


“Bu…jalannya jangan cepat-cepat. Kaki Aris sakit.”


Sadiyah tidak mengindahkan protes dari Faris.


“Atep….Tuti…cepat kemari!” Sadiyah berteriak pada Atep dan Tuti yang berada tidak jauh.


Atep dan Tuti segera berlari menghampiri Sadiyah. Mereka heran melihat wajah Sadiyah yang berurai air mata dan terlihat seperti ketakutan.


“Cepat gendong Aras dan Aris.” perintah Sadiyah.


Atep menggendong Faris sedangkan Tuti menggendong Faras. Mereka segera bergegas mengikuti Sadiyah yang berlari keluar dari hutan.


“Ada apa, Teh?” tanya Atep.


“Nanti Teteh ceritakan.” sahut Sadiyah yang tidak berhenti berlari ketakutan seperti dikejar-kejar oleh penjahat.


“Iyah…..tunggu….” teriak Kagendra dari belakang.


“Teh, sepertinya Teteh dipanggil-panggil itu.” ujar Tuti.


“Jangan didengar. Cepat kita pergi dari sini.” Sadiyah semakin cepat berlari diikuti oleh Atep dan Tuti yang berlari dengan agak terseok-seok karena berlari sambil menggendong Faras.


“Cepat buka mobilnya, Tep.”


Atep menurunkan Faris dan membuka kunci pintu mobil. Setelah kunci mobil terbuka, Sadiyah langsung mengambil Faris dan mendudukkannya di kursi belakang.


Karena kelelahan, Tuti menurunkan Faras dari gendongannya.


“Iyah…tunggu…saya mau bicara sama kamu.” teriak Kagendra yang sudah semakin mendekat.


Sadiyah menggendong Faras dan tidak mengindahkan panggilan dari Kagendra.


“Bu, itu Om Endra panggil-panggil nama Ibu.” ujar Faras.

__ADS_1


Sadiyah tidak merespon apa yang dikatakan oleh Faras dan dengan cepat menempatkan Faras di dalam mobil.


“Cepat masuk ke mobil, Tut.”


“Iya, Teh.” Tuti segera masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang samping kursi supir.


“Tep, cepat jalan.” perintah Sadiyah.


Atep sudah mulai menyalakan mesin mobil ketika Kagendra sampai. Kagendra memanggil-manggil nama Sadiyah dan mengetuk-ngetuk kaca pintu penumpang.


Karena tidak mendapatkan respon dari Sadiyah, Kagendra langsung menuju ke depan mobil dan mencoba untuk menghadang mobil Sadiyah dengan tubuhnya.


“Bagaimana ini, Teh?”


“Tabrak saja.” jawab Sadiyah kalut.


“Yakin Teh, kita tabrak saja orang itu?” tanya Atep tidak serius.


“Jangaan…” teriak Sadiyah.


“Jadi gimana, Teh? Tabrak atau jangan?”


“Jangan ditabrak, Tep. Mundurkan saja mobilnya lalu segera berbalik. Bisa kan?”


“Siap, Teh.” sekarang saatnya Atep akan memperlihatkan skill balapannya.


Dengan cepat, Atep memundurkan mobil lalu berbalik arah menghindar dari hadangan Kagendra dan melajukan mobilnya dengan cepat.


“Teteh kenal sama Om Endra?” tanya Tuti.


“Kan Tuti sudah pernah cerita kalau Om Endra ini yang syuting film itu. Aras dan Aris juga sering main bareng sama Om Endra.”


“Bagaimana awalnya kalian bertemu dan akhirnya jadi saling mengenal?”


“Kita pertama kali bertemu di sungai. A Atep juga tau kok. Itu loh A pas kita mengantar Aras dan Aris nonton yang syuting tapi tidak jadi karena syutingnya bubar terus kita pergi ke sungai dan bertemu Om Endra di sana.”


“Betul, kamu juga tahu, Tep?” tanya Sadiyah dengan suara meninggi.


Atep mencoba mengingat-ingat pertemuan pertama mereka dengan Kagendra.


“Betul, Teh. Di pertemuan pertama mereka, Aras dan Aris sudah terlihat dekat dengan Om itu.”


“Memangnya Teteh kenal sama Om Endra?” tanya Tuti.


Sadiyah tidak menjawab pertanyaan Tuti.


“Atau jangan-jangan Om Endra itu ay…” ucapan Tuti menggantung.


“Ah iya, Teh. Sepertinya Atep memang sedikit familiar sama Om itu.” Atep mengingat Kagendra di pernikahan Sadiyah dan Kagendra enam tahun lalu walaupun Atep baru beberapa kali bertemu tetapi tidak pernah berinteraksi.


“Jangan banyak ngomong, Atep, Tuti. Nanti saja Teteh ceritakan di rumah.” Sadiyah berusaha untuk tidak memperpanjang pembicaraan mereka tentang laki-laki yang bersama Faras dan Faris.


Faras dan Faris terdiam tidak berani berbicara apapun pada Ibu mereka.

__ADS_1


Setelah sampai di rumah, Sadiyah langsung masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Faras dan Faris yang masih berada di dalam mobil.


Dengan lunglai Faras dan Faris keluar dari mobil dan berjalan dengan kepala tertunduk.


Sampai di dalam rumah, sudah ada Rostita dan Darmawan yang baru saja datang mengunjungi rumah Sadiyah untuk pertama kalinya.


Rostita dan Sadiyah memang pernah beberapa kali bertemu di Bandung jika Sadiyah sedang ada urusan bisnisnya di sana. Tapi hari ini adalah pertama kalinya Rostita dan Darmawan berkunjung ke rumah Sadiyah.


Faras dan Faris juga beberapa kali bertemu dengan bibi dan paman dari Ibu mereka itu.


“Aras…Aris…kenapa sedih begitu?” tanya Rostita ketika melihat wajah Faras dan Faris yang sendu. Tadi juga Rostita melihat Sadiyah yang masuk rumah dalam keadaan marah.


“Kenapa mereka, Tut?” tanya Rostita.


“Ceritanya panjang, Mbu.” jawab Tuti.


“Aras…Aris…salim dulu sama Enin dan Aki” terdengar suara Mak Isah yang keluar dari dapur.


Faras dan Faris mencium punggung tangan Rostita dan Darmawan.


“Enin beliin hotwheel buat Aras dan Aris.” Rostita menyerahkan sekantong mainan pada Faras dan Faris. Biasanya mereka akan berteriak-teriak kegirangan jika mendapatkan mainan baru, tapi kali ini mereka menerimanya dengan wajah sedih.


“Terima kasih, Nin.” ucap Faras dan Faris.


Setelah mengucapkan terima kasih pada Rostita, Faras dan Faris berlalu masuk ke dalam kamar mereka. Di kamar, Sadiyah sudah duduk di ranjang dengan tangan  bersedekap di depan dada.


“Kalian tahu apa kesalahan kalian?” tanya Sadiyah dingin.


“Iya, Bu.” jawab Faras dan Faris berbarengan.


“Ibu kan sudah bilang jangan pernah bicara dengan orang yang tidak dikenal tetapi kalian telah melanggarnya. Bukan hanya bicara tapi kalian main bersama orang asing itu. Apa kalian tidak takut kalau kalian diculik dan tidak bisa bertemu dengan Ibu lagi selamanya?” tanya Sadiyah dengan nada suara tinggi.


“Tapi Om Endra bukan orang asing, Bu.” ujar Faras.


“Bagi Ibu, dia orang asing yang mungkin saja berencana menculik kalian.” bentak Sadiyah kesal.


“Tapi Om Endra tidak akan menculik Aras dan Aris. Kita hanya main bareng saja.” bantah Faras.


“Jangan membantah Ibu, Aras. Kalian berdua tahu kalau perbuatan kalian ini sangat salah? Tidak meminta izin pada Ibu dan pergi dengan diam-diam. Bagaimana kalau kalian celaka? Kalian itu masih anak-anak. Bagaimana kalau di jalan bertemu dengan orang jahat atau bagaimana kalau di jalan kalian tertabrak kendaraan.” Sadiyah mulai terisak.


“Tapi Aras dan Aris kan sudah meminta izin sama Ibu.”


“Memang benar. Tapi apa Ibu ngasih izin sama kalian? Tidak, kan?”


“Maaf, Bu.” ucap Faras.


“Maafin Aris ya, Bu….” Faris mendekati Sadiyah dan memeluk Sadiyah dengan erat.


“Lain kali kalian tidak boleh seperti ini lagi.”


“Iya, Bu.” Jawab Faras dan Faris.


“Aras sini.” Sadiyah memanggil Faras dan memeluknya keduanya dengan erat.

__ADS_1


************


to be continued....


__ADS_2