Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
118. Bahagia Bersama


__ADS_3

“Aa harus janji tidak akan lagi meninggalkan Iyah. Aa harus janji kalau Aa tidak akan lagi mencintai perempuan lain. Aa harus janji kalau Aa akan bersama dengan Iyah selamanya.”


“Maaf, Aa tidak bisa janji kalau Aa tidak akan mencintai perempuan lain.”


Sadiyah melepaskan pelukannya dan menatap Kagendra dengan tatapan tajamnya.


“Maksud Aa apa?” Sadiyah bertanya dengan nada suara yang naik beberapa oktaf.


“Bukan hanya kamu perempuan yang akan dicintai Aa.” Kagendra menggenggam tangan Sadiyah.


Setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Kagendra, Sadiyah berusaha melepaskan pegangan tangan Kagendra.


“Maksud Aa. Perempuan-perempuan lain yang dicintai Aa selain kamu adalah Ibu, Lena dan anak-anak perempuan kita nanti. Lagian Aa pernah bilang tentang mencintai perempuan lain. Kok kamu masih marah? Kamu lupa kalau Aa pernah bilang kalau perempuan lain yang akan Aa cintai itu anak-anak perempuan kita?” Kagendra tertawa karena tidak tahan melihat wajah galak Sadiyah.


“Aa nyebelin. Iyah tidak ingat Aa pernah bilang begitu.” wajah Sadiyah merona karena begitu mudahnya ia terbakar cemburu. “Maksud Iyah itu, Aa tidak boleh mencintai perempuan lain seperti si Natasha atau model cungkring itu.”


“Kalau perempuannya bukan Natasha atau Grace, boleh tidak?” goda Kagendra.


Sadiyah mencubit lengan Kagendra dengan keras.


“Kalau Aa berani mencintai atau berhubungan dengan perempuan-perempuan tidak jelas seperti Natasha atau si Grace itu, Iyah tidak akan pernah memaafkan Aa lagi. Iyah akan pergi jauh bawa Aras dan Aris. Sangat jauh sampai Aa tidak akan pernah lagi bisa menemui kami.”


“Jangan begitu dong, Sayang. Insya Allah, Aa janji hanya kamu yang akan menjadi satu-satunya wanita Aa. Jangan pernah meninggalkan Aa lagi. Hidup Aa merana karena kamu tinggal.” Kagendra menggenggam erat tangan Sadiyah.


“Iih gombal…” Sadiyah mencubit lengan Kagendra karena gemas. “Oh iya, satu lagi. Aa tidak boleh menyebut nama perempuan-perempuan di masa lalu Aa. Iyah tidak mau mendengar nama perempuan-perempuan itu.”


“Hmm… your wish is my command my queen.”


Senyuman terbit di wajah Sadiyah setelah mendengar pernyataan Kagendra.


“Awas kalau Aa melanggar janji Aa.”


“Insya Allah tidak akan. Lagian sebelum kamu hadir di hidup Aa, hanya ada satu nama perempuan. Aa bukan playboy seperti laki-laki kebanyakan. Aa itu tipe pria yang loyal terhadap pasangan. Walaupun kamu bukan wanita pertama yang Aa cintai, tetapi kamu akan menjadi wanita terakhir dan satu-satunya yang akan Aa cintai.”


“Ibu dan Lena? Aa tidak mencintai mereka, huh?”


“Kamu tuh, susah sekali mengertinya sih. Cintanya Aa buat Ibu, Lena dan anak-anak perempuan kita itu beda dong sama cintanya Aa sama kamu. Cinta Aa sama mereka itu cinta seorang anak kepada ibu, kakak kepada adik, dan ayah kepada anak. Namun cinta Aa untuk kamu adalah cinta seorang laki-laki kepada seorang wanita. Masa tidak paham terus? Kamu sedang menguji Aa, huh?” Kagendra memalingkan wajahnya karena kesal.

__ADS_1


Sadiyah tertawa mendengar suaminya yang merajuk. Baru kali ini ia melihat sikap Kagendra yang lain dari biasanya. “Aa marah?”


“Siapa yang marah?” ucap Kagendra ketus.


“Tuh kan marah. Kalau tidak marah, masa suaranya ketus seperti itu?”


“Aa tidak marah tapi kesal.”


“Sama saja. Kesal dan marah itu kakak beradik.” Sadiyah kembali terkikik mendengar kekesalan Kagendra.


“Kenapa kamu tertawa? Kamu anggap ini lucu?” Aa bukan pelawak.” Kekesalan Kagendra memuncak setelah seharian kemarin ditinggal Sadiyah, hari ini istrinya itu kembali membuat ulah dengan meragukan cintanya.


“Jangan marah. Kalau wajah Aa seperti ini jadi tambah ganteng. Kalau lucu dan ganteng seperti ini, Iyah tidak akan pernah sanggup lagi berpisah dari Aa.” Sadiyah menangkup wajah Kagendra. Pandangannya fokus pada wajah suaminya. “Iyah cinta dan sayang sekali sama Aa. Jadi jangan cemberut terus. Bibirnya ditarik seperti ini” Sadiyah menarik bibir Kagendra ke arah kanan dan kiri.


Cup… Sadiyah mencium bibir Kagendra sekilas.


“Wajah Aa lucu.” Sadiyah masih meregangkan bibir Kagendra.


Kedua tangan Kagendra memegang tangan Sadiyah.


“Aku, Kagendra Kamandaka Nataprawira mencintai kamu, Sadiyah Galuh Kartasasmita. Kutemukan cinta bersama denganmu.” Kagendra menyatakan cintanya.


Kagendra menangkup wajah Sadiyah dengan kedua tangan lalu mendekatkan bibirnya ke arah bibir Sadiyah. “Jangan pernah meragukan cinta Aa sama kamu.” bisik Kagendra sebelum ia kembali melabuhkan bibirnya. Setelah kedua bibir itu bertemu, mereka meluapkan kerinduan yang mereka pendam selama enam tahun itu dengan saling merasai. Mereka tidak melepaskan apa yang sedang mereka nikmati sampai seseorang membuka pintu kamar dan terkesiap sambil menutup mulut dengan tangannya.


Kedua tangan Yusuf sibuk menutup mata Faras dan Faris sedangkan Indriani menghalangi pandangan Faras dan Faris  dari kegiatan yang sedang dilakukan oleh ayah dan ibunya.


“Endra…Iyah…” teriak Indriani yang mengagetkan Kagendra dan Sadiyah.


Refleks, Sadiyah mendorong dada Kagendra dan melepaskan tautan bibirnya dari bibir Kagendra.


“Kalian itu… kalau mau begituan jangan disini, nanti saja kalau sudah di rumah.” tegur Indriani sambil menahan tawanya sekuat tenaga.


“Maaf, Bu.” cicit Sadiyah sambil menundukkan kepala dalam-dalam. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus karena mertuanya memergoki aktivitas intim yang dilakukan oleh dirinya dan Kagendra.


“Ah Ibu, ngapain ke sini? Mengganggu saja.” protes Kagendra.


Indriani menjitak kepala Kagendra karena kesal.

__ADS_1


“Ibu kesini bawa Aras dan Aris. Mereka sudah rindu sama kamu. Ini malah kamu seenaknya bermesraan sama Iyah.”


“Kan Iyah istrinya Aa, Bu. Tidak masalah dong kalau kami berciu….”


“Aa…..” Sadiyah berteriak sambil menutup mulut Kagendra dengan tangannya.


Faras dan Faris mencoba melepaskan tangan kakeknya yang menutupi mata mereka.


Setelah tangan Yusuf terlepas, Faras dan Faris langsung menghambur menuju Kagendra.


“Ayah……” teriak Faras dan Faris.


Faras dan Faris memanjat ke atas ranjang Kagendra.


“Ayah sudah sehat?” tanya Faras.


“Hmmm….” Kagendra menganggukkan kepala.


“Ayah, kapan pulangnya? Nanti kita main sama-sama lagi.” Faris bertanya dengan ceria.


“Aras…Aris… jangan lompat-lompat seperti itu. Kasihan Ayahnya masih sakit. Kalau kalian lompat-lompat nanti kena lukanya Ayah. Cepat turun.” Sadiyah memerintahkan Faras dan Faris untuk segera turun dari ranjang Kagendra.


“Sebentar atuh Bu… Aris kan masih kangen sama Ayah.” rajuk Faris.


Faras dan Faris sudah memposisikan diri mereka untuk berbaring di samping kanan dan kiri Kagendra. Faras berbaring sebelah kanan Kagendra sedangkan Faris berbaring di sisi kiri Kagendra. Mereka berbaring sambil memeluk Kagendra.


“Aras…Aris…” panggil Sadiyah dengan nada agak tinggi.


“Biarkan saja. Mereka tidak mengenai lukanya.” Kagendra pun mencium puncak kepala dan memeluk Faras dan Faris dengan sayang.


Indriani dan Yusuf yang melihat pemandangan di hadapan mereka meneteskan air mata haru. Mereka tidak menyangka jika anak laki-laki, menantu dan cucu-cucu mereka berkumpul dengan bahagia.


Yusuf merengkuh bahu Indriani sedangkan Indriani memeluk lengan Yusuf dan merebahkan kepala di dada suaminya.


“Ibu tidak pernah membayangkan jika anak kita akan bahagia seperti ini, Bah.”


Yusuf menganggukkan kepala dan mengusapkan tangan di punggung istrinya.

__ADS_1


*********


to be continued...


__ADS_2