
Malam ini, Kagendra tidak pulang karena masalah di perusahaanya semakin rumit saja. Klien yang memakai jasa perusahaannya menuntut karena merasa tidak puas dengan layanan yang diberikan. Kliennya bukan klien sembarangan sehingga begitu mempengaruhi reputasi perusahaan. Kagendra mencurigai ada orang dalam yang bermain dengan perusahaan kompetitor untuk menjatuhkan nama perusahaan miliknya.
Ketika bangun subuh, Sadiyah tidak melihat Kagendra tidur di sampingnya. Pantas saja ia tidak terbangun tengah malam akibat terganggu suara Kagendra pulang. Sadiyah mengecek ponselnya untuk melihat pesan yang mungkin dikirimkan oleh Kagendra.
Ada satu pesan dari Kagendra yang memberitahu bahwa ia tidak akan pulang. Dilihat dari waktunya, Kagendra mengirim pesan pukul tiga pagi. Ternyata Kagendra memang benar-benar tidak pulang. Sadiyah menghela nafasnya dengan kasar. Ia merasa kesal sekaligus khawatir pada Kagendra.
*******
Setelah selesai masak untuk makan siang, Sadiyah memanggil Faras dan Faris untuk makan siang.
“Ibu tanya sekali lagi. Aras dan Aris benar tidak mau ikut Ibu ke kantor ayah? Memang berani berdua saja di rumah?”
“Sebentar lagi Nenek jemput kita,” ungkap Faras.
“Nenek tidak bilang sama Ibu kalau mau jemput Aras dan Aris ke sini,”
“Tadi Nenek telepon, Ibu lagi mandi. Aras baca nama Nenek di telepon Ibu, jadi Aras terima saja.”
Baru saja Faras selesai bicara, bel rumah berbunyi.
“Tuh, mungkin Nenek yang datang.” Sadiyah menyuruh Faras dan Faris untuk membukakan pintu.
“Iya, Bu. Nenek yang datang,” seru Faris ketika melihat neneknya datang dari balik jendela.
Sadiyah memang mengajarkan pada Faras dan Faris untuk tidak membuka pintu sembarangan sebelum yakin dengan orang yang datang ke rumah mereka. Itulah sebabnya sebelum membuka pintu, Faras dan Faris selalu melihat dulu tamu yang datang dari balik jendela.
Indriani mengajak Sadiyah untuk ikut pergi ke mall, namun ia menolaknya dengan alasan akan pergi ke kantor Kagendra untuk membawakan makan siang.
“Memang harus begitu, Iyah. Sebagai istri, sesekali kita harus memantau suami kita. Kita harus tahu siapa saja pegawai yang bekerja pada suami kita. Terutama pegawai perempuan.”
Sadiyah terpana mendengar pernyataan Indriani. Ia tidak menyangka jika kekhawatirannya bisa terbaca oleh ibu mertuanya.
“Ibu juga pernah muda. Abah itu mirip dan persis gantengnya seperti Endra. Dulu, Ibu juga merasa khawatir ada pegawai perempuan yang menggoda Abah. Hampir tiap hari Ibu berkunjung ke kantor Abah hanya untuk mengawasi kelakuan Abah. Ibu sampai harus bolak balik kampus dan kantor Abah demi menjaga kewarasan Ibu.” Indriani terkekeh saat mengenang masa di awal-awal pernikahannya.
“Dulu, Abah punya mantan terindah juga?”
__ADS_1
“Untungnya Abah tidak seperti Endra yang punya mantan ambisius seperti Nat… eh itu lah seperti mantannya Endra,” Hampir saja Indriani kelepasan bicara dengan menyebut nama perempuan yang tabu diucapkan di keluarga mereka.
“Sebelum bertemu Ibu, Abah memang banyak pacarnya. Pernah dalam satu waktu memacari tiga perempuan. Endra saja kalah sama Abah kalau sudah bicara masalah perempuan. Tetapi tidak ada pacar yang gila seperti Nat… ah perempuan itu. Semua perempuan yang dikencani Abah langsung manut saja ketika Abah memutuskan mereka,” ungkap Indriani.
“Mantan pacar Aa memang cuma satu tetapi sangat meresahkan.” Sadiyah meringis ketika mengingat lagi perselingkuhan antara Kagendra dan Natasha.
“Jangan diingat-ingat lagi. Yang terpenting sekarang kalian fokus pada diri kalian dan juga anak-anak. Nanti pas liburan, kalian harus berusaha dengan keras lalu bawakan Ibu dan Abah oleh-oleh yang spesial.”
“Ibu mau dibawakan oleh-oleh spesial apa memangnya? Oh iya, Ibu sudah tahu kalau liburan kami diundur?”
“Iyah jangan marah sama ya, Nak. Ibu dan Abah sudah tahu masalah yang sedang dihadapi sama Endra. Kamu harus sabar. Beginilah risiko menjadi istri dari pemilik sebuah perusahaan. Harus sabar dan bermental baja.”
“Iyah tidak marah, Bu. Iyah hanya khawatir dengan kondisi kesehatan Aa. Aa kan baru sembuh.”
“Ibu yakin Aa sangat paham dengan kondisi fisiknya. Kalau merasa tubuhnya sudah tidak kuat, dia akan istirahat.”
“Tapi tidak begitu ketika Iyah pergi. Aa pernah bilang sama Iyah kalau sekarang tidak bisa minum kopi lagi karena lambungnya rusak sampai dirawat di rumah sakit gara-gara sering begadang dan bekerja sampai larut malam sekadar untuk melupakan Iyah.”
“Itu karena situasinya berbeda. Saat itu Endra memang depresi dan meluapkan kekecewaannya dengan bekerja sampai tidak ingat waktu. Sekarang situasinya berbeda. Endra tahu kalau sekarang ada istri dan anak-anak yang membutuhkannya sehingga dia tidak akan abai terhadap kesehatannya lagi.”
“Kalau Ibu ceritakan detailnya, Ibu khawatir kamu akan menyalahkan diri sendiri. Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Sekarang fokus saja ke masa kini dan masa depan kalian.”
Sadiyah menganggukan kepala walapun ia masih penasaran dengan kondisi Kagendra saat itu. Mungkin nanti, ia akan bertanya kepada Alena.
Sadiyah memutuskan untuk pergi ke kantor Kagendra sendirian saja dengan menggunakan ojek online. Walaupun ada satu mobil menganggur di garasi rumahnya, namun ia malas untuk menyetir sendirian di kota yang terkenal dengan kemacetannya. Ia sudah memasukkan nasi dan lauk pauk ke dalam wadah. Kemudian Sadiyah mengirimkan pesan pada Kagendra bahwa ia akan mengantar bekal makan siang ke kantor.
Kagendra langsung meneleponnya ketika mendapatkan pesan dari istrinya.
“Tumben mau ke kantor. Oh iya maaf semalam Aa tidak pulang. Ini juga - ”
“Salam dulu kalau menjawab telepon itu,” tegur Sadiyah.
“Assalamu’alaikum bidadariku.”
“Wa’alaikumsalam… ih gombal.”
__ADS_1
“Suka kan digombalin? Tidak apa-apa gombalin istri sendiri daripada gombalin istri orang.”
“Awas saja kalau berani selingkuh lagi.”
“Tidak, Sayang. Sudah ada bidadari yang dikirim dari surga, buat apa mengharapkan yang lain.”
“Iiih makin pintar ngegombal.”
“Hanya sama kamu.”
“Sudah… sudah acara ngegombalnya. Iyah mau ke kantor Aa nganterin makan siang. Gak kemana-mana, kan?”
“Waaah, kamu memang bidadariku. Aa tidak kemana-mana, masih berkutat dengan berkas-berkas. Sekalian bawa juga buat Rudi.”
“Sekalian bawain buat karyawan-karyawan Aa yang wangi dan cantik juga tidak?”
“Eh?”
“Sebentar lagi Iyah sampai ke kantor Aa.”
Sesampainya di kantor Kagendra, Sadiyah hendak menuju lift namun ditahan oleh seorang penjaga keamanan. Ia sedikit bingung dengan suasana kantor yang dulu pernah dikujunginya. Ada gerbang khusus di sebelah front office. Sepertinya hanya karayawan saja yang bisa masuk dengan menggunakan kartu pegawai mereka.
“Maaf, Bu. Ada keperluan apa dan hendak menemui siapa? Silahkan Ibu lapor dulu di meja front office dan meminta kartu khusus tamu agar bisa naik ke lantai yang dituju.”
“Oh iya, maaf Pak.”
Penjaga keamanan bernama Kurnia itu mengantarkan Sadiyah ke meja *front offic*e.
“Selamat siang, Bu. Bisa saya bantu?” sapa pegawai perempuan yang bertugas di front office dengan ramah. Sadiyah melihat nama di nametag-nya, Rita.
Faras dan Faris benar ketika mengatakan karyawan-karyawan Kagendra yang cantik dan wangi. Sadiyah ingat enam tahun yang lalu, pegawai-pegawai Kagendra tidak secantik dan sewangi para pegawai yang sekarang. Pakaian yang dikenakan oleh petugas front office juga sedikit terlihat seksi di mata Sadiyah.
*********
to be continued...
__ADS_1