
Kagendra segera bergegas setelah mendapatkan telepon dari Alena. Ia melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, beruntung tidak ada polisi lalu lintas yang menilangnya.
Dalam waktu kurang dari setengah jam, Kagendra sudah tiba di rumah keluarga.
Alena sudah menunggu Kagendra di pintu gerbang. Melihat mobil Kagendra yang berhenti di depan rumah, Alena langsung menghampiri Kagendra yang baru saja keluar dari mobilnya.
“Aa…cepat masuk A.” seru Alena.
“Ada apa sih, Len?” Kagendra merasa was-was juga karena melihat raut wajah Alena yang terlihat khawatir.
“Menurut Lena, situasinya gak menguntungkan buat Aa. Makanya Aa cepetan deh masuk. Mang Awan sedang bicara hanya sama Aki dan Abah di ruang kerja. Ibu gak boleh masuk.” Alena menjelaskan situasi yang sedang berlangsung di dalam rumah.
“Bu….” Kagendra memanggil Ibunya yang terlihat sedang mondar mandir di depan pintu ruangan kerja Aki Musa.
“Aa, kamu itu kemana saja sih? Kamu melakukan kesalahan apa sama menantu Ibu?” Indriani memukuli tubuh Kagendra.
“Aa juga tidak mengerti Bu. Ketika kemarin Aa pulang, Iyah sudah tidak ada di rumah. Memang sejak tiga hari yang lalu, ponsel Iyah tidak bisa dihubungi. Semua pesan Aa tidak ada yang dibaca, panggilan telepon Aa juga tidak pernah diangkat. Aa juga tidak paham, Bu.”
“Ya sudah, kamu tunggu saja dipanggil sama Aki kamu.”
“Ani….” suara Aki Musa terdengar dari dalam ruangan memanggil Indriani.
“Ibu masuk dulu, Aki kamu memanggil.”
Indriani mengetuk pintu dengan jantung yang berdebar-debar, khawatir dengan apa yang akan terjadi.
“Masuk.” terdengar kembali suara Aki Musa yang berat.
“Endra sudah datang?”
“Sudah, Bah.”
“Suruh dia masuk. Kamu juga dengarkan pembicaraan kami biar tahu bagaimana kelakukan anak kamu itu.” suara Aki Musa terdengar dingin, Yusuf hanya bisa terdiam karena malu dengan perbuatan Kagendra yang terungkap oleh bukti-bukti yang dibawa oleh Rostita dan Darmawan.
__ADS_1
Kagendra mengetuk pintu dan segera masuk setelah mendengar nada perintah dari Akinya.
“Duduk kamu.” perintah Aki Musa dingin.
Aki Musa melemparkan semua foto-foto yang menampilkan kebersamaan Kagendra dan Natasha. Indriani terkesiap melihat sebagian foto-foto Kagendra dan Natasha yang sedang tidur bersama dan hampir telanjang.
“Astaghfirulloh. Aa…” Indriani menutup mulut dengan tangannya dan terus beristighfar.
“Darimana foto-foto ini?” tanya Kagendra terheran-heran.
“Kurang ajar kamu Endra. Menyembunyikan semua perbuatan maksiat kalian dari kami. Jangan tanyakan darimana Rostita dan Darmawan mendapatkan foto-fotonya, tapi seharusnya kamu tanyakan pada diri kamu sendiri kenapa bisa kamu melakukan perbuatan bejat seperti itu.”
Aki Musa mulai memukulkan tongkat kayu jati miliknya berkali-kali pada tubuh Kagendra. Kagendra terdiam tak melawan hingga kamejanya robek-robek di bagian pundak dan punggung karena menerima sabetan dan pukulan yang bertubi-tubi. Darah mulai merembes membasahi kamejanya yang berwarna navy itu.
Yusuf yang melihat tindakan Ayahnya hanya bisa diam dan sebenarnya ia pun ingin menambahkan pukulan itu karena merasa malu pada keluarga Sadiyah atas tindakan putranya yang memalukan itu, sedangkan Indriani hanya bisa menangis melihat putra kesayangannya dipukuli oleh sang kakek. Indriani menyesali perbuatan tercela Kagendra dan menyetujui apa yang dilakukan mertuanya pada putranya walaupun ia juga merasa sakit melihat putranya kesakitan menahan pukulan.
Rostita dan Darmawan yang melihat tindakan Aki Musa pun terkejut dan tidak bisa berkata-kata. Mereka terdiam karena terlalu terkesima melihat apa yang Aki Musa lakukan pada Kagendra.
“Aki, sudah berhenti. Kasihan Aa.” Alena meringis kesakitan karena tidak sengaja terkena pukulan tongkat kayu jati milik Aki Musa.
“Awas Lena. Jangan halangi Aki untuk memberi pelajaran kepada kakak kamu yang bejat ini. Anak yang tidak tahu diri dan memalukan keluarga saja. Aki malu pada keluarga Aki Idi.” suara Aki Musa menggelegar sarat dengan emosi.
“Cukup, Abah. Endra sudah menerima hukuman yang memang harus dia terima. Ani mohon Bah, jangan tambah lagi pukulannya. Kasihan Endra.”
“Kamu jangan merasa kasihan sama anak kamu yang melakukan perbuatan tercela dan hina. Kamu tahu apa hukuman bagi laki-laki yang sudah menikah lalu berzina dengan perempuan lain? Hukumannya didera hingga mati. Hukuman yang Abah berikan pada Endra tidaklah seberapa.”
Indriani terdiam setelah mendengar perkataan dari Aki Musa. Memang benar jika seorang pria atau wanita yang sudah menikah lalu melakukan perzinahan maka hukumannya didera hingga mati, berbeda jika pria atau wanita itu belum menikah, mereka dihukum cambuk seratus kali.
Kagendra yang mendengarkan penjelasan Aki Musa tentang hukuman bagi para penzina merasa tertohok. Memang benar ia telah melakukan perzinahan ketika ia sudah terikat dalam pernikahan. Ia seperti diingatkan hukuman yang harus diterima oleh seorang pria yang sudah menikah tapi melakukan perzinahan atau perselingkuhan dengan wanita lain. Ia tahu bahwa hukumannya adalah didera sampai mati. Itulah sebabnya ia diam saja ketika Aki Musa memukulinya sampai berdarah-darah. Tidak dirasa lagi sakit di sekujur tubuhnya.
“Minggir Lena, Ani!” teriak Aki Musa dengan suara menggelegar.
Indriani dan Alena menyingkir menjauh dari tubuh Kagendra.
__ADS_1
Aki Musa melanjutkan mendera Kagendra dengan tongkatnya.
Rostita yang tidak tega melihat Kagendra yang didera hingga pundak, lengan dan punggungnya mengeluarkan darah segar, menatap ke arah Darmawan, tatapannya menyiratkan permohonan agar Darmawan bisa membujuk Aki Musa untuk menghentikan hukumannya.
Darmawan mengangguk mengerti atas permintaan tanpa kata yang diberikan oleh istrinya.
“Mohon maaf Pak Musa. Saya kira sudah cukup hukuman yang Pak Musa berikan pada Kagendra.” Darmawan memohon pada Aki Musa.
“Ita, saya merasa malu pada keluarga kalian, saya malu pada Idi karena cucu saya telah menyakiti cucunya. Ini juga salah saya karena telah memohon pada kalian untuk memberikan cucu perempuan Idi untuk cucu saya. Ternyata cucu saya yang tidak tahu diri ini telah melakukan hal yang sangat memalukan. Kalau kalian ingin meneruskan hukuman ini dengan mendera Kagendra, saya persilahkan.” Aki Musa menyerahkan tongkat jatinya pada Darmawan.
“Tidak perlu Pak Musa. Saya kira hukuman yang telah diberikan oleh Pak Musa sudah cukup.” ujar Darmawan.
“Selain mengantarkan bukti berupa foto-foto yang memang didapatkan oleh Sadiyah dari pengirimnya yang bernama Natasha, kami juga ingin memberitahu bahwasanya Sadiyah sudah mendaftarkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Mungkin dalam minggu ini, surat panggilan dari pengadilan akan sampai ke alamat rumah Kagendra.” Rostita memberitahukan kabar yang kembali mengguncangkan keluarga Aki Musa.
Kagendra yang mendengar kabar dari Rostita hanya bisa menundukkan kepalanya dengan tetesan air mata yang tak kuasa ditahannya.
“Semua hal yang ingin Sadiyah sampaikan, telah kami sampaikan. Mohon maaf jika kedatangan kami mengganggu ketenangan keluarga Pak Musa. Kami pamit dulu.” ucap Darmawan.
“Ita, sekali lagi saya memohon permintaan maaf dari keluarga kalian atas perbuatan cucu saya. Saya pastikan dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Mohon sampaikan permintaan maaf saya pada Sadiyah.” Aki Musa sesenggukan ketika menyampaikan permohonan maafnya.
“Maafkan juga keponakan kami karena telah meninggalkan rumah tanpa seizin suaminya. Mungkin perbuatan Sadiyah termasuk ke dalam perbuatan istri yang durhaka karena meninggalkan rumah. Sadiyah meminta pada kami untuk menyampaikan permohonan maafnya pada Kagendra dan keluarga Pak Musa.” jelas Rostita.
“Tidak. Sadiyah sama sekali tidak bersalah. Cucu saya, Kagendra lah yang bersalah dalam hal ini. Walaupun saya sangat menyesalkan keputusan Sadiyah untuk meminta cerai pada Kagendra, tapi saya akan menyetujui apapun yang diminta oleh Sadiyah demi kebahagiaannya.” janji Aki Musa kepada Ita dan Darmawan.
Indriani menangis tersedu-sedu mendengar bahwa dia akan kehilangan menantu yang sangat ia sayangi.
“Ita, tolong sampaikan pada Iyah kalau saya sangat menyayanginya. Maafkan Mbak, karena Mbak tidak bisa mendidik anak Mbak dengan benar. Mbak benar-benar minta maaf.” Indriani memeluk Rostita dan mereka berdua menangis tersedu-sedu sambil berpelukan menyesali apa yang terjadi pada Sadiyah dan Kagendra.
“Maafkan saya juga, Mbak. Maafkan juga Sadiyah karena belum bisa menjadi menantu yang diharapkan oleh keluarga Mbak.”
Sedu sedan Indriani semakin keras mendengar permintaan maaf dari Rostita.
*********
__ADS_1