
Setelah waktu dzuhur, rombongan Pak Musa tiba di rumah keluarga Sadiyah. Pak Musa datang bersama anak laki-lakinya, Yusuf dan menantu perempuannya, Indriani.
“Assalamu’alaikum…” Pak Musa memberikan salam pada penghuni rumah.
“Wa’alaikumsalam…” jawab Rostita dan Darmawan kompak.
“Silahkan masuk, Pak.” Darmawan mempersilahkan rombongan Pak Musa untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Pak Musa duduk di tengah diantara Yusuf dan Indriani.
“Seperti yang sudah saya jelaskan di telepon bahwa kedatangan kami ini untuk melamar cucu perempuan dari sahabat saya, Junaidi untuk cucu laki-laki saya. Semoga maksud baik dari keluarga kami ini bisa diterima juga dengan baik oleh keluarga dari almarhum Junaidi. Bagaimana Nak Ita?” Pak Musa menyampaikan lagi niat untuk menjodohkan cucu laki-lakinya dengan Sadiyah dan menanyakan keputusan yang diambil oleh Rostita.
“Saya sudah menyampaikan maksud baik dari Pak Musa yang hendak melamarkan Sadiyah untuk cucu laki-laki bapak. Insya Allah, keluarga kami menyambut baik perjodohan ini. Sadiyah menyambut dengan lapang dada atas lamaran yang diajukan oleh keluarga Pak Musa.” Rostita memberikan jawaban yang membuat hati Pak Musa merasa lega dan bahagia.
“Alhamdulillah….” Seru Pak Musa, Yusuf dan Indriani berbarengan mengucapkan syukur atas sambutan baik dari keluarga Rostita.
“Boleh kami bertemu dengan Sadiyah?” tanya Indriani tak sabar ingin bertemu dengan calon menantu perempuannya.
Rostita berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamar Sadiyah untuk menyuruhnya keluar dan menemui keluarga calon suaminya.
“Neng, bantu bibi di dapur, bawa minuman dan makanan ringan buat calon mertua kamu.” Ujar Rostita sambil berlalu menuju dapur.
__ADS_1
Sadiyah mengikuti bibinya berjalan menuju dapur. Mereka berdua membawa baki-baki berisi makanan ringan dan minuman untuk Pak Musa, Yusuf dan Indriani.
Sadiyah meletakkan piring-piring berisi kue-kue di atas meja sambil sekilas melirik ke arah Yusuf.
“Astaghfirulloh, apakah laki-laki itu yang akan menjadi calon suamiku. Dia terlihat sudah agak tua. Apa gak salah Bi Ita menerima laki-laki itu buat jadi suami aku. Walaupun dia ganteng tapi sepertinya dia sudah agak tua. Berapa tahun perbedaan usia kami. Ah, sudahlah, mungkin memang sudah jadi nasibku dijodohkan dengan laki-laki yang sudah agak tua itu. Mudah-mudahan keputusan aku untuk menerima perjodohan ini bisa membuat ikatan keluarga Aki dan sahabatnya itu bisa terjalin lebih kuat lagi. Sabar Iyah, sabar….” Sadiyah membatin menguatkan hatinya untuk menerima perjodohan ini.
“Cantik.” Ucap Indriani.
Sadiyah hanya tersenyum mendengar pujian dari perempuan yang ada di hadapannya.
Setelah selesai memindahkan seluruh piring dari baki ke atas meja, Sadiyah kemudian mencium punggung tangan dari Pak Musa, Yusuf dan Indriani.
“Neng Iyah, ini Pak Musa, Pak Yusuf dan Bu indriani. Pak Musa ini sahabat dari Aki.” Darmawan memperkenalkan nama dari orang-orang yang ada di hadapan mereka.
“Jadi Sadiyah ini panggilannya Iyah?” tanya Indriani lembut.
Sadiyah menganggukan kepalanya sedikit.
“Iyah.” Panggil Pak Musa.
Sadiyah mengangkat kepalanya demi mendengar Pak Musa yang memanggil namanya.
__ADS_1
“Iyah, sudah mendengarkan penjelasan dari Amang dan Bibi kamu perihal maksud kedatangan kami?” tanya Pak Musa lembut.
Lagi-lagi Sadiyah hanya sanggup untuk menganggukkan kepalanya saja.
“Iyah boleh panggil Aki dengan Aki Musa. Aki ini sahabat dari Aki kamu, Aki Idi. Kami bersahabat sejak kami masih sangat muda. Aki kamu itu sangat berjasa buat hidup Aki. Mungkin keluarga Aki tidak akan seperti ini jika tanpa bantuan Aki kamu. Aki kamu banyak sekali berkorban buat Aki dan keluarga Aki. Aki dan aki kamu telah mengucapkan janji bahwa kami akan mengikat persabahatan kami ini dengan perjodohan anak-anak kami. Tapi kami tidak berhasil dengan usaha menjodohkan anak-anak kami karena memang Allah tidak mentakdirkan anak-anak kami saling berjodoh. Maafkan Aki kalau Aki ini bersikap sangat egois. Mungkin Iyah sudah memiliki pilihan sendiri. Jika memang Iyah sudah memiliki pilihan sendiri, maka Aki pun tidak akan memaksa Iyah untuk menerima perjodohan ini. Apa Iyah sudah memiliki pilihan sendiri?” tanya Pak Musa.
Sebenarnya Pak Musa ini sudah mengetahui dari cerita Rostita bahwa Sadiyah belum memiliki teman dekat pria. Tapi Pak Musa dalam hal ini ingin memantapkan niat baiknya tanpa menyakiti pihak Sadiyah. Pak Musa akan berlapang dada jika saat ini Sadiyah mengatakan bahwa ia sudah memiliki tambatan hati.
“Neng, jawab pertanyaan dari Aki Musa.” Bisik Rostita karena melihat Sadiyah diam saja.
“Belum, Aki.” Jawab Sadiyah pelan sambil menggelengkan kepalanya.
“Alhamdulillah.” Pak Musa mengucapkan syukur.
“Iyah, mau menerima cucu Aki sebagai calon suami?” tanya Pak Musa.
Banyak hal yang berseliweran dalam pikiran Sadiyah sehingga ia tidak mendengarkan pertanyaan lanjutan dari Pak Musa.
Rostita menyenggol lengan Sadiyah dengan sikunya.
“Eh, iya apa Aki?” tanya Sadiyah gelagapan.
__ADS_1
Yusuf dan Indriani tersenyum melihat calon menantunya yang terlihat sangat gugup itu.
“Iyah, mau menerima cucu Aki sebagai calon suami Iyah?” ulang Pak Musa.