Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
75. Selamat Tinggal


__ADS_3

“Kamu awasi rumah bibinya Sadiyah di Bandung. Jangan sampai lepas lagi. Ikuti kemanapun Bi Ita


dan Mang Awan pergi. Tambah jumlah tim kamu biar tidak lepas lagi.”


“Siap, Bos.”


“Jangan mengecewakan saya lagi.”


“Baik, Bos.”


*******


Sudah satu bulan Faiq mengawasi rumah Rostita tapi belum terlihat hasil yang menggembirakan.


Selama satu bulan tim Faiq mengawasi pergerakan Rostita dan Darmawan tapi tidak pernah sekalipun ada petunjuk keberadaan Sadiyah.


“Bagaimana, Fai? Sudah ada petunjuk baru?”


“Belum ada Bos. Selama sebulan ini, Bu Rostita dan Pak Darmawan tidak pernah sekalipun pergi menemui Bu Sadiyah. Sepertinya Bu Sadiyah mengetahui kalau Bos akan mencari keberadaanya dengan mengawasi pergerakan paman dan bibinya.”


“Teruskan saja. Jangan sampai lengah.”


“Siap, Bos.”


**********


Natasha berteriak-teriak di luar ruangan Kagendra meminta Kagendra untuk keluar. Rudi


menahan Natasha untuk tidak masuk ke dalam ruangan Kagendra.


“Lepasin berengsek! Siapa kamu beraninya menahan saya disini.” Natasha meronta-ronta meminta Rudi untuk melepaskan pegangannya.


“Anda tidak boleh masuk ke ruangan. Pak Kagendra sudah memerintahkan pada kami semua untuk tidak membiarkan anda menemuinya.”


“Aku harus bertemu dengan Kagendra. Aku harus bicara sama dia. Lepasin aku!” Natasha masih meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Rudi, kakinya berusaha menginjak kaki Rudi tapi tidak berhasil.


“Tidak bisa. Sebaiknya anda pergi dari sini. Pak Kagendra sedang tidak bisa diganggu.” Rudi semakin mengeratkan cengkraman tangannya.


Kagendra membuka pintu ruangannya.


“Biarkan dia masuk, Rud.”

__ADS_1


Dengan enggan Rudi melepaskan cekalannya.


“Mau apa kamu menemui saya?” tanya Kagendra dingin tanpa memandang ke arah lawan bicaranya.


“Kenapa kamu tidak mau menemui aku? Sudah lebih dari satu bulan ini kamu menghindar dari aku. Apa salahku?”


“Kamu tanya apa salahmu? Kamu tidak menyadari apa yang sudah kamu perbuat? Kamu telah menghancurkan pernikahan saya dan membuat istri saya pergi dan sekarang kamu bertanya apa salah kamu?” bentak Kagendra kesal.


“Bukan salahku kalau istri kamu pergi meninggalkan kamu. Malah kepergian istrimu itu membuatku sangat bahagia. Itu kan yang kamu mau, yang kita berdua inginkan. Aku dan kamu menginginkan supaya istri kamu pergi sehingga kita dapat bersama tanpa harus pusing memikirkan penghalang cinta kita.”


“Kamu sudah gila. Saya sangat menyesal pernah mengenal dan mencintai kamu. Sekarang, pergi kamu dari hadapanku dan jangan pernah lagi mencariku. Hubungan kita cukup sampai disini. Saya tidak akan pernah mau lagi berhubungan dengan perempuan seperti kamu.”


“Sadarlah Kagendra. Aku ini wanita yang kamu cintai. Aku ini milik kamu dan kamu milikku.” Natasha masih sangat meyakini kalau sebenarnya Kagendra masih mencintainya.


“Kamu yang seharusnya sadar. Sejak awal, hubungan kita sudah salah. Saya yang salah karena mau berhubungan dengan perempuan yang pernah pergi meninggalkan saya demi egonya. Saya yang salah karena menjalin cinta yang semu denganmu sedangkan saya sudah memiliki istri. Saya yang bodoh karena terpedaya oleh bujuk rayu kamu.”


"Tidak...tidak...kamu tidak salah. Aku tidak salah. Kita berdua tidak salah. Yang salah perempuan itu. Perempuan yang sudah merebut kamu dariku."


Kagendra menggeleng-gelengkan kepala mendengar perkataan Natasha. Bukannya mengakui kesalahan malah menuduh Sadiyah sebagai perempuan perebut. Kagendra sudah benar-benar tidak memiliki rasa apapun terhadap Natasha. Tidak cinta tidak juga benci. Dia hanya tidak ingin lagi berhubungan dan bertemu lagi dengan Natasha.


“Selamat tinggal, Sha. Saya harap, kita tidak akan pernah bertemu lagi. Kalaupun kita terpaksa untuk bertemu karena pekerjaan kita, anggap saja kita tidak pernah kenal sebelumnya.”


“Aku tidak mau. Aku tidak mau berpisah dari kamu.” Natasha berusaha memeluk Kagendra, tapi tidak berhasil karena Kagendra menghindarinya.


“Kalau kamu meninggalkan aku, aku akan mati. Lebih baik aku mati jika tidak bisa bersama dengan kamu.” ancam Natasha dengan deraian air mata.


“Jangan seperti ini, Sha. Kalau aku terpaksa harus bersama dengan kamu, mungkin aku yang akan mati.” Kagendra sudah tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapi Natasha.


“Tidak…..tidak….” Natasha berteriak teriak dengan histeris. Ia mencari sesuatu di atas meja kerja Kagendra dan menemukan sebuah cutter.


“Sha, kamu jangan nekad.”


“Kamu lihat…aku akan mati di hadapan kamu.” Natasha mendekatkan mata pisau ke pergelangan tangannya.


“Rud…..” teriak Kagendra memanggil Rudi.


“Berengsek kalian semua.” teriak Natasha.


Dengan sigap Rudi mencekal tangan Natasha yang memegang cutter. Natasha memberontak dan berhasil melepaskan diri. Ia berusaha untuk menyayat pergelangan tangannya lagi dengan cutter yang masih ia pegang. Kagendra berlari mendekat pada Natasha untuk merebut cutter tersebut. Mereka berdua bergumul saling berebut cutter.


“Aww…..” lengan Kagendra terkena sabetan cutter yang dipegang oleh Natasha.

__ADS_1


Natasha kaget melihat darah yang mengucur merembes pada kameja putih milik Kagendra.


“Sayang, maafkan aku. Aku tidak sengaja.” Natasha menghampiri Kagendra.


Kagendra memberi kode pada Rudi dengan matanya dan Rudi menangkap kode yang dikirimkan oleh Kagendra. Dengan cepat Rudi mendekat pada Natasha dan merebut cutter yang sedang dipegangnya.


Belum sempat Natasha bereaksi, Rudi sudah berhasil merebut cutter dari tangannya dan dua orang satpam yang memang sudah siap, meringkus Natasha hingga tidak dapat bergerak lagi.


Natasha berusaha melepaskan diri dari cengkraman dua orang satpam yang tinggi besar.


“Lepaskan aku sialan. jangan sentuh aku dengan tangan kotor kalian.” Natasha berteriak-teriak dengan histeris.


Tidak lama kemudian, seorang dokter dan perawat yang dihubungi oleh Rudi datang tergopoh-gopoh memasuki ruangan Kagendra. Dokter tersebut menyuntikkan obat penenang pada Natasha dan mereka membawa Natasha ke rumah sakit untuk dilakukan tindakan perawatan.


Dua hari kemudian, Kagendra mengunjungi Natasha di rumah sakit. Kagendra memasuki kamar perawatan Natasha dan melihatnya sedang duduk bersandar.


Kagendra mendekat dan duduk di pinggir tempat tidur.


“Bagaimana kabar kamu, Sha?”


Pandangan Natasha kosong ke arah depan, ia tak bereaksi atas pertanyaan Kagendra.


Kagendra menggenggam tangan kiri Natasha.


“Maafkan aku, Sha. Aku yang bersalah hingga membuatmu seperti ini. Andai saja sejak awal kita tidak menjalin lagi cinta yang sudah terputus mungkin kamu tidak akan semenderita seperti sekarang ini.”


Natasha masih terdiam seakan tidak mendengar apa yang Kagendra ucapkan.


“Sha, dulu aku pernah sangat mencintai kamu hingga aku meyakini bahwa kamu satu-satunya perempuan yang akan menghuni hatiku selamanya. Tapi dia datang ketika hatiku terlalu sakit karena merindukanmu. Dia datang menawarkan cinta yang tulus. Dia Sadiyah, istriku. Sekarang, hanya dia pemilik hatiku. Aku sangat mencintai dia, Sha. Rasanya hidupku jadi tidak berarti kalau dia tidak ada di sisiku. Rasanya aku ingin mati saja kalau dia tidak akan pernah hadir lagi dalam hidupku.”


Natasha menyingkirkan tangan Kagendra yang menggenggam tangannya.


“Aku benar-benar minta maaf padamu, Sha. Aku yang bersalah karena telah menyakiti kamu. Maafkan aku. Aku akan berdo’a untuk kebahagianmu. Aku yakin kamu akan menemukan cinta baru yang akan membuat hidupmu bahagia.”


Natasha berbaring memunggungi Kagendra. Air mata tak berhenti menetes dari pelupuk matanya.


“Selamat tinggal, Sha. Semoga kau berbahagia.”


Setelah mengucapkan salam perpisahan, Kagendra keluar dari kamar perawatan Natasha dengan perasaan yang entahlah dia sendiri tidak bisa menerjemahkannya. Ada rasa iba dan kasihan melihat kondisi Natasha, tapi Kagendra sangat yakin bahwa dia tidak bisa kembali pada Natasha apapun alasannya.


Keesokan harinya, kedua orangtua Natasha datang ke Indonesia dan membawa Natasha untuk tinggal bersama mereka di luar negeri.

__ADS_1


********


__ADS_2