
Di tempat lain, di unit apartemennya, Natasha sedang uring-uringan karena hari ini tidak satupun pesannya yang dibalas oleh Kagendra.
Tadi siang ia mendatangi kantor Kagendra tapi tidak menemukannya disana. Elsa, sekretaris Kagendra memberitahu bahwa Kagendra pulang ke rumah sejak siang dan tidak kembali lagi ke kantor sampai jam kerja habis.
Natasha kesal setelah mendapatkan info jika Kagendra pulang ke rumahnya yang sudah bisa dipastikan makan siang bersama dengan istrinya.
“Dia milikku. Tidak boleh ada yang memiliki dia selain aku, termasuk istrinya.” Natasha teriak teriak histeris di dalam kamarnya.
Natasha mengambil minuman keras dari lemari penyimpanan. Ia menghabiskan dua botol minuman keras. Semalaman ia menangis sambil menenggak minuman keras.
Pagi-pagi Natasha terbangun dan merasakan kepalanya sakit sekali. Emosinya masih belum surut. Kebencian terhadap Sadiyah semakin membara. Banyak rencana untuk merebut Kagendra yang telah tersusun di kepalanya.
Natasha merekam dan menyimpan kata-kata Kagendra yang menyatakan akan menceraikan Sadiyah. Ia juga menyimpan foto-foto Kagendra yang tidur dengan memeluk dirinya saat Kagendra tidak sadarkan diri.
“Sekalinya dia menjadi milikku, dia akan selamanya menjadi milikku.” Natasha bertekad untuk melakukan segala cara untuk memisahkan Kagendra dari Sadiyah dan menjadikan Kagendra menjadi miliknya seorang.
Natasha memiliki beberapa senjata sebagai amunisi untuk memisahkan Kagendra dan Sadiyah.
Pertama, Natasha mengirimkan foto Kagendra yang sedang tidur sambil memeluk dirinya pada Sadiyah. Setelah mengirimkan bukti kebersamaan mereka, Natasha meminta Sadiyah untuk bertemu dengan dirinya. Natasha hendak memperdengarkan rekaman suara Kagendra yang menyatakan bahwa Kagendra akan menceraikan Sadiyah setelah Sadiyah melahirkan anak mereka.
**********
Sadiyah menerima pesan teks dari Natasha disertai foto Kagendra dan Natasha yang sedang tidur sambil berpelukan. Di dalam foto itu terlihat Kagendra yang telanjang dada dengan bagian depan tubuh telanjangnya Natasha yang menempel ke sisi tubuh Kagendra. Selimut hanya menutupi tubuh mereka sampai batas pinggang.
__ADS_1
Sadiyah beristighfar ketika melihat foto yang tak senonoh tersebut.
Aku sedang bersama dengan suami kamu. Kami saling mencintai. Kamu bisa lihat bukti cinta kami lewat foto ini.
Natasha kembali mengirim pesan teks yang bernada provokasi.
“Astaghfirulloh….astaghfirulloh…astaghfirulloh….” seketika Sadiyah merasakan sesak di dadanya, jantungnya berdetak sangat kencang, kepalanya terasa sangat sakit, dan perutnya mual.
Sadiyah segera berlari ke dalam kamar mandi di dekat dapur dan memuntahkan yang ada dalam perutnya. Semua sarapan yang dia makan tadi pagi sudah keluar semua disertai oleh cairan yang berasa pahit.
Air mata keluar bercucuran tak terkendali. Sadiyah menangis hingga dadanya terasa sesak. Ia memukul-mukul dadanya dengan tangan.
Setelah agak tenang, Sadiyah keluar dari kamar mandi. Ditinggalkannya bahan-bahan masakan yang sudah ia siapkan tadi. Sudah tidak ada keinginan untuk memasak lagi. Tak dihiraukan lagi bagaimana Kagendra akan makan siang.
Sadiyah tidak menyangka Kagendra mampu berbuat sampai sejauh itu. Sadiyah mengetahui jika Kagendra menjalin cinta dengan kekasihnya itu tapi ia tidak menyangka jika Kagendra tidak mengindahkan norma agama demi nafsu belaka. Ia kecewa pada Kagendra.
Sadiyah mendengar ponselnya berbunyi. Di layar ponselnya terlihat nomer telepon yang tidak dikenal. Awalnya Sadiyah membiarkan panggilan tersebut tapi nomer tak dikenal itu terus-terusan memanggil.
Sadiyah mengambil ponselnya yang berada di meja rias.
“Hallo, Assalamu’alaikum.”
“Kenapa kamu tidak membalas pesanku? Sekarang kamu sudah sadar kalau Kagendra itu hanya mencintai aku. Seharusnya kamu tahu diri kalau Kagendra itu tidak mencintai kamu. Akulah cinta pertamanya Kagendra. Tinggalkan dia, dia hanya milikku.”
__ADS_1
“Sampai saat ini saya masih istri Kagendra dan Kagendra adalah suami saya. Dalam hal ini kamu ada di pihak yang salah. Kamu menjadi perempuan perebut suami orang dan menghancurkan rumah tangga orang. Masyarakat akan menilai kamulah yang salah.” Sadiyah menguatkan dirinya agar suaranya tidak bergetar.
“Aku tidak peduli dengan pandangan orang lain. Yang aku pedulikan adalah Kagendra dan aku bersama karena kami saling mencintai.” teriak Natasha.
“Rasa cinta kalian itu salah. Kagendra sudah menikah dengan saya dan dia harus menghormati pernikahan kami. Begitu juga kamu yang harus menghormati lembaga pernikahan. Kamulah yang seharusnya tahu diri. Kamu sudah tidak berhak atas Kagendra. Saya yang berhak atas diri Kagendra.” Sadiyah berkata dengan tegas.
“Aku yang jadi cinta pertamanya. Kamu yang sudah merebut dia dari aku. Kamu tidak berhak atas Kagendra. Kagendra adalah milikku seorang, bukan milik kamu.” Natasha kembali berteriak dengan histeris.”
“Apapun yang kamu katakan tetap saja kamu ada di pihak yang salah. Kamulah yang jadi perebut suami orang dan kamu juga perusak rumah tangga orang. Dilihat dari sudut pandang manapun tetap kamu yang salah. Saya istri sahnya, apa posisi kamu? Posisi kamu cuma jadi selingkuhan dan perusak rumah tangga orang saja. Apa kamu tidak malu dengan kelakuan kamu. Sadar diri lah.” Sadiyah terengah engah setelah mengatakan semua yang selama ini mengganjal di hatinya.
“Kamu yang merebut dia dariku. Kamu yang tidak tahu diri. Pada akhirnya akulah yang akan jadi pemenang dan kamu akan jadi perempuan yang dicampakkan Kagendra. Ingat itu! Kamu yang akan dicampakkan.” teriak Natasha histeris.
Sadiyah segera memutuskan hubungan telepon itu karena ia sudah merasa tidak kuat lagi mendengar ocehan Natasha.
“Dasar perempuan gila. Astaghfirulloh. Ya Allah kuatkan Iyah, sabarkan Iyah.” Sadiyah tak hentinya beristighfar. Perutnya kembali mual dan kembali memuntahkan yang kali ini hanya mengeluarkan cairan pahit saja.
Natasha mengirimkan rekaman suara Kagendra yang menyatakan bahwa dirinya akan menceraikan Sadiyah setelah anak mereka lahir.
Dada* Sadiyah kembali terasa sangat sesak dan air mata kembali keluar dari pelupuk matanya.
“Astaghfirulloh, apa lagi ini.”
***************
__ADS_1
to be continued....