Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
135. Merajuk


__ADS_3

Satu minggu ke depan, Kagendra dan Sadiyah akan tinggal di rumah hanya berdua saja karena orangtua dan anak-anak mereka memperpanjang waktu liburan selama satu minggu. Setelah dari Bali, mereka meneruskan liburan ke Raja Ampat karena Alena bergabung dan ingin pergi ke Raja Ampat bersama-sama. Tentu saja Yusuf dan Indriani menyambut gembira ajakan Alena apalagi semua biaya liburan di Raja Ampat ditanggung oleh Alena yang baru saja mendapatkan uang bonus.


Faras dan Faris juga senang bukan main. Mereka senang Alena bergabung dalam rangkaian liburan mereka. Rasa rindu pada Kagendra dan Sadiyah luntur ketika mengetahui tante kesayangan mereka menyusul ke Bali untuk lanjut ke Raja Ampat.


“Aras dan Aris kapan pulang? Ibu sudah kangen,” rengek Sadiyah saat menghubungi Faras dan Faris.


“Aras dan Aris mau pergi ke Raja Ampat sama Tante Lena. Pulangnya satu minggu lagi,” jawab Faris riang.


“Aris tidak kangen Ibu?”


“Kangen sih, Bu. Kalau Ibu kangen, ikut tante Lena saja ke sini, Bu. Katanya Tante sampai sini sebentar lagi.”


Sadiyah kemudian merengek pada Kagendra untuk menyusul Faras dan Faris ke Bali.


“Besok Aa harus kerja.”


“Iyah kangen sama Aras dan Aris.”


“Tadi kan sudah video call.”


“Video call dengan bertemu langsung itu beda, Aa.”


“Jadi, kamu inginnya bagaimana?”


“Kita susul ke sana.”


“Aa butuh istirahat sebelum kembali bekerja. Pekerjaan di kantor sudah menumpuk.”


“Aa kan bisa mendelegasikan pada Pak Rudi,” rajuk Sadiyah.


“Tidak Bisa!” tegas Kagendra.


“Aa…”


“Tidak bisa, Iyah. Aa sudah ambil cuti 10 hari.”


“Ya sudah, Iyah berangkat saja sendiri.”


“Terserah!” jawab Kagendra membentak lalu beranjak menuju ruang kerjanya.


Kagendra benar-benar marah dan Sadiyah memahami jika suaminya sudah marah maka suasana di antara mereka akan terasa tidak menyenangkan. Sadiyah berusaha menekan rasa rindu pada Faras dan Faris. Ia tidak akan merajuk lagi. Lebih baik ia membereskan rumah dan mencuci baju kotor yang menumpuk di dalam koper.

__ADS_1


Kagendra berada di ruang kerja sambil membaca berkas pekerjaan yang tertunda karena liburan mereka. Banyak hal yang harus dipikirkannya selain pekerjaan. Masalah Marco sangat mengganggu pikiran ditambah kabar tidak mengenakkan yang ia dapat dari anak buahnya tentang Natasha yang kembali ke Indonesia. Ia khawatir kehadiran Natasha di Indonesia akan mengganggu ketentraman rumah tangganya.


Tok…tok…


“Iyah boleh masuk?” tanya Sadiyah melongokkan kepala di balik pintu.


Kagendra tidak langsung menjawab permintaan Sadiyah. Ia masih kesal dengan kejadian tadi pagi saat Sadiyah merajuk.


“Aa… Iyah bawakan teh hangat buat Aa. Boleh masuk?”


Sebenarnya Sadiyah bisa saja langsung masuk ke ruang kerja Kagendra tanpa meminta izin, tetapi Sadiyah berpikir ruang kerja Kagendra adalah ruang pribadinya yang tidak bisa seenaknya diintervensi oleh siapapun termasuk dirinya. Itulah sebabnya ia selalu meminta izin pada Kagendra.  Kagendra bahkan membersihkan ruangannya sendiri tanpa bantuan Sadiyah ataupun asisten rumah tangga yang suka bersih-bersih rumahnya dua hari sekali.


“Masuk saja.” Akhirnya Kagendra mengizinkan Sadiyah untuk masuk.


“Aa…” Sadiyah membawa secangkir teh dan pisang rebus.


“Simpan saja tehnya di atas meja!” perintah Kagendra yang artinya ia tidak menginginkan Sadiyah berada di ruangannya lebih lama.


Sadiyah menatap tajam ke arah Kagendra dan mendapati suaminya tidak sekalipun melihatnya ke arahnya.


“A…”


“Saya banyak pekerjaan,” usir Kagendra secara halus.


Sadiyah sengaja menutup pintu dengan keras menandakan jika ia pun kesal dengan sikap Kagendra. Ia seperti kembali ke masa lalu saat Kagendra tidak acuh padanya.


Air mata menggenang di pelupuk mata bersiap untuk mengalir deras.


“Dasar laki-laki menyebalkan.”


Kagendra menghela nafas dengan kasar. Ia paham Sadiyah marah karena ia abaikan.


Sadiyah meluapkan kekesalannya dengan menggosok lantai seluruh kamar mandi yang ada di rumah. Setelah selesai membersihkan kamar mandi, ia memesan makanan secara online. Tidak tanggung-tanggung, ada lima jenis makanan yang ia pesan.


Dua kotak pizza lengkap dengan side dishes dan dessert, satu bucket ayam, satu kantong besar kentang goreng, satu kotak besar dimsum, dan dua box mie goreng memenuhi meja makan.


Sadiyah selalu berprinsip marah dan sedih juga butuh energi, maka ia tidak akan menyiksa dirinya dengan rasa lapar kecuali saat ia mengandung Faras dan Faris. Saat mengandung dulu, ia mengalami kesulitan untuk makan bahkan ia menderita kekurangan nutrisi yang disebabkan kurangnya makanan yang masuk ke dalam tubuh.


Sadiyah duduk di depan meja yang penuh dengan makanan. Ada satu gelas besar berisi jus jeruk. Ia mulai dengan satu potong pizza dan diteruskan dengan beberapa potong lagi yang berhasil masuk ke dalam perutnya. Sadiyah menghabiskan hampir satu kotak pizza, hanya ada dua potong pizza tersisa di dalam kotak.


Setelah selesai dengan pizza, Sadiyah ambil satu potong ayam yang ia celupkan ke dalam saus super pedas. Ketika potongan ayam penuh dengan saus pedas itu masuk ke dalam mulut, ia merasakan mulutnya sedikit terbakar. Air mata mulai keluar karena rasa pedas dan rasa kesal. Sadiyah terus mengunyah sambil menangis. Dua potong ayam dan setengah kantong besar kentang goreng mendarat dengan mulus di dalam perutnya.

__ADS_1


Tidak berhenti dengan kegiatannya, Sadiyah melanjutkan dengan dimsum dan mie goreng yang juga super pedas. Air matanya semakin mengalir deras disertai dengan isakan.


********


Merasakan lapar yang luar biasa, Kagendra memutuskan untuk keluar dari sarangnya. Jam dinding di tembok ruangan menunjukkan pukul 11 lewat.


“Pantas saja lapar,” gumam Kagendra. Ia memang tidak sarapan tadi pagi. Perutnya baru diisi satu cangkir the dan dua buah pisang rebus yang tadi dibawakan Sadiyah.


“Iyah…” Kagendra memanggil Sadiyah untuk mengajak makan siang bersama. Ia menyadari kemarahan Sadiyah dan menduga istrinya tidak akan masak. Oleh sebab itu, Kagendra memutuskan untuk mengajak Sadiyah makan siang di restoran langganannya.


Mata Kagendra terbelalak saat melihat berbagai macam makanan yang memenuhi meja makan. Masih terdengar isakan Sadiyah yang duduk memunggungi dirinya.


“Sayang, kamu sedang apa?” tanya Kagendra.


“Sedang cuci piring!” jawab Sadiyah asal.


“Sayang…”


“Tidak usah panggil-panggil sayang!” kata Sadiyah ketus.


“Kamu makan sebanyak ini?” tanya Kagendra terkejut melihat sisa makanan yang tinggal sedikit. Ia yakin Sadiyah sudah menghabiskan hampir seluruh makanan yang dipesannya.


“Kenapa? Gak boleh?”


“Bukan begitu. Nanti perut kamu sakit kalau makan sebanyak ini.”


“Bukan urusan Aa. Sudah sana! Jangan ganggu!” usir Sadiyah.


“Jadi urusan Aa kalau kamu sakit. Kamu itu istri Aa dan ibu dari anak-anak Aa. Urusan kamu adalah urusan Aa,” kata Kagendra tegas. Ia tidak suka mendengar perkataan Sadiyah.


“Oh, masih ingat kalau Iyah istri Aa? Kirain udah lupa punya istri,” sindir Sadiyah.


“Maksud kamu apa sih marah-marah tidak jelas seperti ini?”


“Iyah tidak marah. Iyah sedang makan bukan sedang marah.”


Sadiyah melanjutkan makan mie goreng. Saat ia hendak memasukkan satu garpu penuh mie ke dalam mulut, Kagendra mencengkram pergelangan tangannya.


“Sudah! Jangan diteruskan makannya. Kamu sudah terlalu banyak makan. Nanti perut kamu sakit.”


Prang…

__ADS_1


********


to be continued...


__ADS_2