Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
93. Mencari


__ADS_3

“Mak…Aras dan Aris di mana?” tanya Sadiyah yang sudah sejak dari tadi mencari keberadaan Faras dan Faris.


“Tadi kan mereka pergi ke kamar tidur mereka. Sudah cek ke sana?”


“Sudah. Mak. Mereka tidak ada di dalam kamar.” sahut Sadiyah kalut.


“Coba cari di halaman belakang. Mereka mungkin sedang main di sana.”


“Iyah juga barusan dari halaman belakang dan tidak ada Aras dan Aris di sana. Kemana ya mereka?”


“Coba lihat ke rumah sebelah. Mereka mungkin main di rumahnya Ceu Pur.”


Sadiyah segera bergegas menuju rumah tetangganya.


“Ceu Pur, Aras dan Aris main di rumah Ceu Pur tidak?” tanya Sadiyah ketika ia melihat Ceu Pur di teras depan rumahnya.


“Tidak Neng.”


“Kemana ya mereka?” Sadiyah sudah hampir menangis karena tidak menemukan Faras dan Faris dimana-mana.


“Tadi Ceuceu lihat mereka berjalan ke arah perempatan jalan. Ceuceu kira Neng Iyah sudah tahu kalau mereka pergi berdua saja.”


“Kemana, Ceu?” tanya Sadiyah tidak sabar menunggu jawaban Ceu Pur.


“Itu ke arah perempatan jalan. Tapi Ceuceu tidak tahu mereka akan pergi kemana.”


“Terima kasih atas infonya Ceu.”


Sadiyah segera kembali ke dalam rumah.


“Ketemu tidak sama Aras dan Aris, Neng?” tanya Mak Isah.


“Tidak, Mak. Tapi tadi Ceu Pur bilang kalau Aras dan Aris berjalan ke arah perempatan jalan. Kemana ya mereka?” Sadiyah sudah mulai terisak.


“Mau kemana Neng?” tanya Mak Isah ketika ia melihat Sadiyah yang tergesa-gesa keluar lagi dari rumahnya.


“Iyah mau mencari mereka, Mak.”


“Mau cari kemana? Sebaiknya kita tenang dulu dan tanya-tanya dulu ke orang-orang sekitar. Siapa tahu ada yang berpapasan dengan Aras dan Aris sewaktu mereka sedang jalan.” Mak Isah memberikan pendapatnya.


“Tuti….” Sadiyah berteriak memanggil Tuti.


“Ada apa, Teh?” Tuti datang tergopoh-gopoh mendengar panggilan Sadiyah.

__ADS_1


“Kamu tahu tidak kemana Aras dan Aris pergi?”


“Tidak tau, The. Eh, apa mereka pergi bertemu dengan si Om ya?” tiba-tiba terlintas dalam pikiran Tuti jika Faras dan Faris nekad untuk bertemu dengan Kagendra. Tadi Tuti sempat mendengar jika Sadiyah tidak mengizinkan Faras dan Faris untuk keluar rumah.


“Om siapa? Kemana mereka.”


“Itu Om yang syuting film. Kemarin kan mereka janjian buat ketemuan.” Tuti mengingat janji yang diucapkan oleh Kagendra, Faras dan Faris untuk bertemu dan bermain bersama.


“Mereka janjian di mana, Tut?”


“Tuti juga tidak yakin sih, Teh. Tapi kemarin Tuti sempat mendengar kalau Aras dan Aris mengajak si Om untuk main di hutan.”


“Ayo cepat kita susul ke sana!” seru Sadiyah.


“Mau kemana, Teh?”


Ketika Sadiyah sudah bersiap pergi, Atep baru saja datang dengan sepeda motornya.


“Antar Teteh, Tep!” perintah Sadiyah cepat.


“Kemana, Teh?”


“Tuti…kamu juga ikut. Kita naik mobil saja ke sananya.”


Sadiyah menyerahkan kunci mobilnya pada Atep.


*******************


Setelah sampai di gerbang masuk ke hutan, Atep memarkirkan mobil di pinggir jalan dan segera menyusul Sadiyah dan Tuti yang sudah duluan keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam hutan sambil berteriak-teriak memanggil nama Faras dan Faris.


“Aras…..Aris…..” Sadiyah dan Tuti bergantian meneriakkan nama Faras dan Faris.


Faras dan Faris yang sedang berbaring di pelukan Kagendra mendengar sayup-sayup suara yang memanggil-manggil nama mereka.


“Aras….Aris….” suara itu semakin keras terdengar dan semakin dekat.


“Ibu…..” seru Faras dan Faris berbarengan.


Kagendra terbangun karena gerakan tiba-tiba dari Faras dan Faris.


“Ada apa?” tanya Kagendra.


“Ada Ibu yang nyari kita, Om.” ujar Faris tampak gusar sedangkan Faras berusaha untuk bersikap tenang.

__ADS_1


“Tadi kalian tidak izin sama Ibu?”


“Tidak, Om. Habisnya Ibu tidak mengizinkan Aras dan Aris buat ketemu sama Om. Jadi Aras dan Aris tadi perginya diam-diam.” jawab Faris.


“Siapa yang punya ide untuk pergi diam-diam?” tanya Kagendra tegas.


“Aras, Om.” Faris menunjuk ka arah Faras.


“Benar, Aras yang punya ide untuk pergi diam-diam tanpa sepengetahuan Ibu kalian?”


Faras mengangguk lemah.


“Ya sudah, nanti Om temani kalian untuk minta maaf sama Ibu.”


“Benar, Om?” tanya Faras sumringah mendengar perkataan Kagendra yang akan membela mereka.


“Aras…Aris…” suara Sadiyah dan Tuti yang bersahutan memanggil Faras dan Faris sudah terdengar semakin dekat.


“Itu Ibu, Om.” Faras menunjuk seorang perempuan yang wajahnya mampu membuat Kagendra terdiam mematung.


Faras dan Faris menarik-narik tangan Kagendra yang masih berdiri kaku di tempatnya.


“Ayo, Om. Katanya mau menemani Aras dan Aris buat minta maaf sama Ibu.” Faras berusaha untuk menarik tangan Kagendra, sedangkan Faris bersembunyi di belakang tubuh Kagendra.


Tatapan Kagendra fokus pada perempuan yang sudah enam tahun ini ia rindui.


Rudi juga sudah terbangun dan melihat apa yang terjadi di depan matanya. Ia kaget melihat Sadiyah yang berlari ke arah Faras dan Faris.


Kagendra masih menatap wajah Sadiyah yang berurai air mata. Sedangkan tatapan Sadiyah fokus pada kedua anaknya dan tidak menyadari kehadiran Kagendra.


“Iyah….” panggil Kagendra ketika Sadiyah berjalan mendekat.


Sadiyah seperti baru tersadarkan bahwa ada seorang laki-laki dewasa yang bersama dengan Faras dan Faris ketika mendengar namanya dipanggil.


Sadiyah melihat ke arah laki-laki dengan suara yang selalu ia ingat sepanjang enam tahun ini.


“Aa….” mata Sadiyah terbelalak melihat kehadiran Kagendra yang berdiri tidak jauh dari hadapannya. Tangan kedua anak kembarnya tampak erat memegang tangan Kagendra.


Untuk beberapa saat Kagendra dan Sadiyah saling menatap.


“Iyah….”


***********

__ADS_1


to be continued....


__ADS_2