
“Jauhkan anak itu dari sini!” perintah Marco.
“Marco!” Natasha kembali menangis histeris. Ia menjambak rambutnya sendiri.
“Tenanglah, Natasha. Kau kenapa?”
“Dia marah.”
“Siapa yang marah?” tanya Marco. Setelah belajar bahasa Indonesia selama satu tahun penuh, sekarang Marco fasih dalam berbicara dalam bahasa Indonesia.
“Kagendra,” desis Natasha.
“Tidak ada Kagendra di sini,” bentak Marco kesal.
“Dia di sana. Dia menatapku tajam. Dia membenciku padahal aku begitu mencintainya.”
Natasha menunjuk Faras.
“Dia bukan Kagendra. Kau tidak melihat kalau yang kau tunjuk itu anak kecil?”
“Dia Kagendra. Tatapannya penuh kebencian. Aku takut.” Natasha ketakutan dan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
“Kau sudah gila,” desis Marco.
“Cepat bawa pergi anak itu,” bentak Marco. Ia kesal karena anak buahnya tidak gesit.
Anak buah Marco menyeret Faras kembali ke ruangan tempat ia disekap lalu melemparnya hingga tubuh kecilnya terbentur tembok.
__ADS_1
Faras meringis, berusaha menahan rasa sakitnya. “Ayah, Ibu, Aras sakit. Kapan Ayah datang?” Faras mulai terisak. Merasa sendirian dan ketakutan, Faras sudah tidak tahan lagi. Ia menangis sejadi-jadinya.
Faras terbangun saat merasakan tendangan ringan mengenai punggungnya. Kepalanya terasa sangat sakit karena terlalu banyak menangis dan kelaparan. Sejak kemarin sore, tidak sedikitpun makanan yang masuk ke dalam perutnya.
“Cepat makan! Sebentar lagi kita akan pergi dari sini,” perintah si penculik sambil melemparkan sebungkus roti dan sekotak susu.
Karena lapar, Faras mengambil bungkusan roti dan kotak susu yang dilempar.
“Tidak sopan! Makanan dan minuman kok dilempar,” gerutu Faras.
Tidak lama kemudian, penculik yang lain menyeret Faras.
“Mau ke mana?” tanya Faras.
“Kamu tidak perlu tahu.”
Tidak mengindahkan protes Faras, penculik itu semakin kuat mencengkram lengan Faras dan menyeretnya hingga masuk ke dalam mobil.
“Saya mau dibawa ke mana, Om?” Faras berusaha melepaskan diri.
“Cepat masuk!” perintah si penculik.
Penculik itu mengangkat tubuh Faras lalu melemparkannya ke dalam mobil.
Lagi-lagi, tubuh kecil Faras terbentur pintu mobil cukup keras. Selama diculik, entah berapa kali tubuh kecilnya terbentur dan entah sebesar apa rasa sakit yang harus ditahan.
Faras kembali meringis kesakitan saat merasakan benturan yang cukup keras itu. Sepertinya, tubuhnya semakin terbiasa dengan rasa sakit. Sekarang ia tidak terlalu terkejut dengan rasa sakit yang dirasakannya.
__ADS_1
Karena merasa sangat lelah baik fisik dan mentalnya, sepanjang jalan Faras tertidur. Ia terbangun saat merasakan tubuhnya diangkat dan ditempatkan di kursi sebuah helikopter.
“Ini di mana?”
Faras mulai merasakan helikopter yang bergerak.
“Om, kita mau ke mana?” Faras kembali bertanya karena belum mendapat jawaban atas pertanyaan sebelumnya.
“Kita mau ke tempat yang jauh,” jawab si penculik.
“Om, Aras mau pulang,” rengeknya.
“Tidak bisa!”
“Om, telfon ayahnya Aras terus minta uang aja sama ayah. Nanti ayah pasti kasih uang banyak sama Om.” Faras mulai bernegosiasi.
“Jangan berisik kalau masih berisik terus, saya cemplungin kamu ke laut. Mau?”
Faras melihat di sekelilingnya.
“Gak mau, Om. Tapi Aras mau pulang, Om. Aras kangen sama ibu.” Faras mulai terisak. Sekuat-kuatnya Faras menahan diri, wajah ibu, ayah, dan saudara kembarnya selalu terbayang.
“Kenapa kita harus pergi ke pulau terpencil, Bos?” tanya salah seorang penculik.
“Kata bos besar, keberadaan kita sudah tercium. Makanya kita harus segera pergi sebelum mereka menangkap kita.
**********
__ADS_1
to be continued...