
“Endra, kamu ini kerja kok ngoyo amat sih. Perhatikan juga kesehatan kamu. Ibu lihat sekarang kamu semakin kurus saja. Kamu ada di Indonesia tidak lebih dari satu bulan dalam 1 tahunnya. Sudah empat tahun lebih kamu seperti ini. Kamu nyari apa sih, A? Cari uang segede apa? Buat apa uang banyak kalau kamu tidak memiliki lagi rumah untuk pulang.” Indriani merasa khawatir melihat kondisi Kagendra sekarang karena hampir seluruh waktunya ia curahkan untuk bekerja.
Kagendra sedang menyantap makanan lengkap pertamanya setelah beberapa hari hanya makan seadanya saja di kantor, di bandara, di pesawat bahkan di lokasi syuting. Setelah beberapa bulan berkutat dengan berbagai macam urusan, hari ini Kagendra menginjakkan kaki kembali di tanah air setelah lima bulan memfokuskan diri pada pekerjaannya di negara Thailand.
“Bu, biarkan Aa makan dengan tenang dulu. Baru hari ini Aa makan nasi.” Kagendra enggan menanggapi apa yang dikatakan ibunya.
Indriani menghela nafasnya dengan berat. Sudah habis akal untuk menasehati putra sulungnya yang keras kepala itu. Sebenarnya Indriani paham dengan apa yang dilakukan oleh Kagendra. Ia yakin jika apa yang dikerjakan oleh anaknya itu sebagai bentuk pelampiasan dari rasa sepi dan patah hati.
“A Endra, kamu tahu tidak kalau Ibu kesepian di rumah? Alena sekarang sudah jadi dosen tetap Universitas di Bandung. Abah kamu dengan usia yang sudah tidak muda lagi masih saja sibuk bekerja. Apa kamu tidak kasihan melihat abah yang sudah tua tapi harus bekerja setiap hari?” tanya Indriani dengan tatapan memelas andalannya.
“Abah belum terlalu tua untuk menjadi bos di perusahaan. Masih banyak bos yang jauh lebih tua dari Abah tapi masih tetap kuat untuk menjadi pemimpin tertinggi di perusahaan mereka. Ibu jangan memandang remeh kekuatan Abah.”
Sepertinya taktik Indriani untuk memaksa Kagendra mengambil alih tampuk kekuasaan di perusahaan milik keluarga tidak berhasil.
“Sebenarnya Ibu berharap kalau Aa sudah bisa mengambil alih peran Abah di kantor. Kamu tidak kasihan sama Ibu yang tidak ada yang menemani? Kamu kan tahu sendiri kalau adik kamu itu jarang pulang karena dia sibuk dengan pekerjaannya. Tidak ada lagi yang menemani Ibu pergi belanja.” ucap Indriani merajuk.
“Ah, itu mah alasan Ibu saja. Memangnya Ibu tidak bisa pergi belanja dengan teman-teman Ibu? Biasanya juga Ibu pergi dengan mereka. Memangnya Ibu tidak bisa mengajak Tante Maya atau Tante Rini? Biasanya juga kalian selalu jalan-jalan bertiga kan?”
“Itu mah beda dong A. Ibu juga kan ingin kalau belanja itu ditemani sama suami sendiri.”
“Kaya pengantin baru saja kemana-mana harus ditemani.” Kagendra mencemooh sikap manja Indriani.
“Eh, jangan salah. Pasangan tua pun harus tetap memupuk dan menyiram rasa cinta supaya cintanya tidak mati.” kata Indriani berfilosofi.
“Jangan ngomongin cinta-cintaan sama Aa.” ucap Kagendra dingin.
“Kamu belum pernah sih merasakan cinta sejati. Abah itu cinta sejatinya Ibu begitupun sebaliknya, Ibu adalah cinta sejatinya Abah.”
“Makanya Aa tidak percaya dengan cinta sejati. Semuanya hanya omong kosong. Ibu dan Abah hanya beruntung mendapatkan pasangan yang tepat.”
“Jangan bicara seperti itu, A. Setiap orang memiliki cinta sejatinya masing-masing. Sekarang Aa dan Iyah sedang diberi ujian. Ibu yakin kalian akan melewati dan lulus dengan ujian yang diberikan. Kamu hanya harus bersabar dengan ujian ini. Jangan putus asa untuk terus mengejar cinta sejati Aa.”
“Entahlah, Bu. Untuk sekarang, Aa hanya ingin fokus dengan perusahaan dan pekerjaan Aa saja. Mungkin nanti kalau perusahaan Aa sudah stabil, Aa bisa bantu di perusahaan keluarga.”
__ADS_1
“Kapan?” tanya Indriani tidak sabar.
“Aa masih harus banyak belajar, Bu. Belum layak sepertinya jika harus memegang tampuk pimpinan tertinggi di perusahaan. Aa khawatir kalau para senior di sana belum bisa menerima jika Aa mendapatkan posisi tertinggi di perusahaan.”
“Omong kosong. Aa berbicara seperti itu karena Aa tidak mau kan menggantikan posisi Abah. Ibu rasa Aa sudah sangat mampu untuk jadi pimpinan tertinggi di perusahaan keluarga kita. Ingat A, ada saham keluarga Sadiyah di perusahaan kita. Kalau bukan kamu yang menggantikan Abah, siapa lagi?”
“Nanti saja kita bicarakan, Bu. Aa juga harus berdiskusi dulu dengan Abah. Jika Abah dan juga Aki sudah menganggap Aa layak untuk menggantikan posisi Abah, mungkin mereka sudah bersegera memberikan posisi tersebut pada Aa. Tapi kenyataan mereka tidak pernah berbicara apapun pada Aa.”
“Mungkin Aki dan Abah merasa segan untuk berbicara mengenai hal itu dengan Aa karena Aa selalu menghindar dari mereka sejak kejadian itu.”
“Sudahlah, Bu. Jangan terus membicarakan kejadian di masa lalu. Dari tadi Ibu membicarakan tentang cinta dan dia. Ibu tahu kalau Aa masih berusaha dengan sangat keras untuk melupakan dia? Jangan rusak usaha Aa untuk melupakan perempuan itu.”
“Aa yakin kalau Aa ingin melupakan Iyah? Sampai sekarang kamu masih mencintai dan merindukan Iyah kan? Kamu belum mentalaknya, kan?”
“Entahlah, Bu. Sudah hampir 6 tahun Aa berusaha mencari dia tapi tidak ada hasilnya. Sepertinya Aa mau menyerah saja. Mungkin sekarang dia sudah mendapatkan kebahagiaannya, sendiri ataupun dengan pria lain.”
“Jangan sembarangan bicara, A. Aa belum mentalaknya dan belum ada surat perceraian. Iyah tidak mungkin menikah lagi.”
“Ya mungkin belum menikah, Bu. Tapi bisa jadi dia sudah punya kekasih. Kalau memang dia sudah bahagia bersama pria lain, Aa akan menceraikannya.”
Kagendra terdiam mendengar perkataan ibunya.
“Sekarang Ibu mau tanya. Aa masih mencintai Iyah?”
“Entahlah, Bu. Sekarang Aa tidak sedang ingin membicarakan tentang cinta. Bagi Aa cinta itu sesuatu yang semu.
Ibu kan tahu kalau Aa sudah ditinggalkan oleh perempuan yang pernah Aa cintai itu dua kali Bu. Sepertinya hati ini sudah tidak bisa lagi mentolerirnya.”
“Jangan berkata seperti itu, A. kalau kalian memang masih berjodoh, pasti ada jalan keluarnya.”
“Sekarang Aa tidak yakin dengan hati sendiri. Apakah masih mencintai Sadiyah atau cinta itu sudah hilang? Yang
pasti untuk saat ini, Aa tidak mau dipusingkan soal cinta.”
__ADS_1
“Lalu apa yang ada dalam berita gosip itu? Aa jangan mengelak! Ibu menonton acara gosip yang memberitakan kalau Aa sedang dekat dengan model yang sedang tenar itu.” omel Indriani.
“Namanya juga acara gosip, Bu. Isinya juga cuma gosip saja. Aa tegaskan sekali lagi kalau untuk sekarang, Aa tidak mau dipusingkan soal cinta atau perempuan. Bagi Aa, perempuan itu makhluk yang aneh dan membingungkan.”
“Jangan berkata seperti, A. Ibu kamu itu seorang perempuan, begitu juga adik kamu.”
“Siapa yang bilang kalau Ibu dan Alena itu laki-laki?" ujar Kagendra ketus. "Karena kelakuan Ibu, Alena dan perempuan itu, Aa bisa mengatakan kalau kalian itu makhluk yang aneh dan membingungkan. Bilang akan selalu bersama tapi meninggalkan, bilang sayang tapi menyakiti pasangannya, bilang cinta tapi pergi.” Kagendra tidak ingin menyebut nama Sadiyah dengan gamblang karena ia khawatir dengan hatinya sendiri jika nama Sadiyah terucap dari mulutnya.
“Iyah pergi karena Aa yang menyakitinya.” ujar Indriani mengingatkan kesalahan yang Kagendra perbuat pada Sadiyah.
“Tapi dia salah paham, Bu. Seenaknya saja dia pergi tanpa mendengarkan penjelasan dari Aa dulu.”
“Makanya, cepat temukan dia dan ceritakan kejadian yang sesungguhnya. Ibu yakin Iyah akan memaafkan Aa.”
“Sepertinya sudah terlambat, Bu. Sudah hampir enam tahun berlalu. Mungkin rasa dalam hati kami sudah berubah.”
“Jangan menyerah, A.” Indriani menggenggam kedua tangan Kagendra dengan erat.
“Entahlah, Bu.”
“Dia layak diperjuangkan.”
“Aa mau pulang, Bu, mau istirahat dulu. Besok Aa akan pergi ke Cianjur untuk meninjau lokasi syuting iklan terbaru. Sekalian Aa juga berencana untuk membuat film berdasarkan storyline dari iklan yang sedang tim Aa garap sekarang.”
“Aa kamu itu baru saja pulang dari Thailand dan besok sudah mau pergi ke luar kota lagi. Kagendra Kamandaka
Nataprawira, tubuh kamu juga memiliki hak untuk beristirahat. Kasihan juga Rudi kalau terus harus mendampingi kamu. Bisa-bisa kalian kolaps berbarengan.”
Kagendra paham jika ibu sudah memanggilnya dengan nama lengkap artinya ibu tidak main-main dengan perkataannya tetapi ia pun tidak bisa membiarkan tubuh dan pikirannya beristirahat karena ia sangat tahu jika tidak banyak yang dilakukan dan dipikirkan, ia akan kembali memikirkan Sadiyah.
“Aa dan Rudi bisa istirahat di mobil, Bu. Ada supir perusahaan yang bawa mobilnya.” elak Kagendra.
“Terserah kamu saja.” Lirih Indriani sambil menatap punggung lelah Kagendra yang berjalan keluar dari pintu depan rumahnya. Ia benar-benar berharap jika putra sulungnya itu segera mendapatkan kebahagiannya. Indriani sangat tahu kalau kebahagian putranya itu bersama Sadiyah tetapi Kagendra selalu menutupi rasa rindunya pada Sadiyah dengan bersikap tidak acuh.
__ADS_1
********
to be continued....