Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
101. Belum Berhasil


__ADS_3

“Bagaimana hasilnya Bos?” tanya Rudi ketika Kagendra memasuki mobil.


“Masih belum ada kabar baik, Rud.”


“Bu Bos menolak Bos?” tanya Rudi prihatin.


“Saya sedang tidak beruntung, Rud. Sewaktu saya sedang mencoba merayu Sadiyah, eh itu si Tuti teriak-teriak kalau ada berita gossip tentang saya sama si Grace di infotainment. Kurang ajar itu si Grace ngaku-ngaku ke media kalau saya sama dia sedang berpacaran. Dasar perempuan gila.”


“Salah Bos sendiri tidak bersikap tegas sama si Grace.” Rudi mengingatkan sikap Kagendra.


Cepat kamu urus gossip murahan itu. Saya tidak mau gosiip itu masih ada di acara infotainment.”


“Buruk banget sih Bos nasibnya.” kata Rudi prihatin.


“Om…Om….” terlihat Tuti berlari menuju mobil yang sedang ditumpangi Kagendra dan Rudi.


Tuti mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil.


“Apaan sih Tut?” bentak Kagendra.


“Om kok ninggalin Tuti sih. Nanti Tuti pulangnya sama siapa? Tadi kan Tuti yang mengantar Om kesini. Masa sekarang Om ninggalin Tuti sih?”


“Saya mau balik ke Jakarta. Kamu pulang saja sama Iyah.”


“Lah Om, kan Tuti gak tau kalau Teh Iyah kapan pulangnya. Om jangan tega seperti ini sama Tuti.” Tuti sudah mulai terisak.


“Mana nomor hapenya Sadiyah. Saya nanti yang telepon Sadiyah supaya kamu bisa pulang sama dia.”


“Masa Om tidak punya nomor hapenya Teh Iyah sih?” tanya Tuti heran.


“Sudah, jangan cerewet. Cepat mana nomor telepon Sadiyah!” Kagendra memang belum memiliki nomor telepon Sadiyah yang baru dan ini kesempatannya untuk mendapatkan nomor telepon Sadiyah. Ia yakin kalau ia yang minta pada Sadiyah, ia tidak akan mendapatkannya dengan mudah.


Tuti segera memberikan nomor telepon Sadiyah.


“Om jangan lupa yah ngasih tahu Teh Iyah. Kalau Tuti bawa baju ganti sih tidak apa-apa menginap lama disini. Tapi Tuti tidak membawa baju ganti.”


“Ya sudah. Sana masuk lagi.” perintah Kagendra.


Rudi segera melajukan mobilnya dan meninggalkan Tuti yang sedang berdiri kebingungan. Rudi tersenyum geli melihat Tuti yang terlihat kebingungan dari kaca spion.


“Bos, tega banget sih sama si Tuti.”


“Tega apanya?” tanya Kagendra polos.


“Itu minta nomornya Bu Bos sama si Tuti. Bisa aja Bos bikin modusnya.”


Kagendra tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Rudi.


Tuti tampak masih berdiri kebingungan di halaman depan butik.

__ADS_1


“Kok Tuti bego banget ya. Kalau nanti Teh Iyah marah bagaimana? Duuuh kenapa sih Tuti ngasih nomor teleponnya Teh Iyah sama Om Endra.” Tuti memukul dahinya sendiri setelah menyadari kebodohan yang sudah diperbuatnya.


**********


Hari yang melelahkan bagi Kagendra. Pertemuan dengan Sadiyah dan Keisha ternyata menguras energinya. Apalagi perjuangan untuk mendapatkan Sadiyah menguras jiwa dan raganya. Tapi ia tidak akan menyerah begitu saja. Cukup enam tahun ia merasa jadi laki-laki tidak berguna yang tidak mampu melindungi perempuan yang dincintainya.


Kagendra merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur yang sama saat dulu ia dan Sadiyah mereguk kenikmatan dunia. Ia kembali mengingat malam itu, baik malam mengerikan saat ia memaksa dan malam indah saat ia dan Sadiyah saling melengkapi.


Air mata meluncur dari sudut mata. “Iyah, aku janji tidak akan pernah lagi menyakitimu. Aku akan berusaha agar tidak ada air mata kesedihan lagi yang keluar dari mata kamu.” Kagendra berikrar dalam hati.


Dering ponsel Kagendra berbunyi dan terlihat nama Alena memanggil di layar ponselnya. Sebenarnya Kagendra malas untuk menerima telepon, tapi yang memanggil ini adik satu-satu dan kesayangannya yang akan marah tujuh hari tujuh malam jika ia tidak segera mengangkat telepon.


“A, lagi di mana?” tanya Alena di seberang sana.


“Di apartemen, baru pulang dari Bandung, habis merayu kakak ipar kamu.”


“Aa sudah ketemu sama Teh Iyah?”


“Sudah dan ada kejutan buat kamu, Aki, Abah dan Ibu.”


“Kejutan apa, A?”


“Kalau dikasih tahu sekarang namanya bukan kejutan.” ujar Kagendra.


“Iiih si Aa mah.” rutuk Alena kesal.


“Oh iya, Lena sampai lupa mau ngasih tau kabar kalau Ka Fian masuk rumah sakit.”


“Kenapa bisa sampai masuk rumah sakit?”


“Pingsan di bandara. Katanya sih kecapekan sama dehidrasi tapi Lena belum jelas gimananya.” jawab Alena.


“Ah palingan dia capek nyariin si Keisha. Nyari si Keisha sampai Italy dan Perancis, eeh si Keisha malah asyik nongkrong di Bandung.” Kagendra tertawa mendengar alasan Arfian masuk rumah sakit.


“Si Aa mah malah ngetawain orang yang kena musibah.”


“Lucu saja kalau kamu tahu gimana hebohnya si Fian nyariin temen kamu itu.” Kagendra masih terkekeh.


“Ya sudah, Lena sama Keisha mau ke rumah sakit mau jenguk Ka Fian. Sudah dulu ya A. ditunggu kejutannya.”


Kagendra tersenyum memikirkan kejutan yang akan dia berikan pada Aki, Abah, Ibu dan adiknya.


*******


Malam hari setelah Sadiyah menidurkan Faras dan Faris, terdengar deringan dari ponsel yang dia simpan di atas nakas.


Terlihat nomor yang memanggilnya tidak dikenal. Sebenarnya Sadiyah malas menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal, tapi ia khawatir kalau panggilan ini penting.


“Assalamu’alaikum.” Sadiyah memberikan salam pada si penelepon yang tidak dikenalnya.

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam.” jawab suara yang tidak asing dari seberang sana.


“Darimana tahu nomor telepon Iyah?” tanya Sadiyah ketus.


“Rahasia.” jawab Kagendra di ujung telepon sana.


“Cih…menyebalkan.” dengus Sadiyah.


“Anak-anak sudah tidur?”


“Sudah.”


“Yaaaah, padahal Aa ingin ngobrol sama mereka. Tadi siang kan tidak bertemu dengan mereka. Oh iya tadi siang kok mereka tidak ada di butik. Mereka ada di mana?”


“Telat nanyanya.” nada suara Sadiyah masih terdengar ketus.


“Maaf, soalnya Aa terlalu fokus sama kamu dan hanya kamu yang ada di pikiranku.”


“Gombal.”


“Gombalnya hanya pada kamu seorang. Jadi bagaimana?”


“Bagaimana apanya?” tanya Sadiyah pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan dari Kagendra.


“Keputusan kamu.”


“Aa gak sabaran banget sih. Belum juga Iyah sempet mikir,  udah main tanya saja.” protes Sadiyah.


“Hehehehe” terdenger kekehan suara Kagendra yang membuat Sadiyah kesal.


“Ya sudah, besok pagi Aa ke sini.” nada perintah terdengar dari suara Sadiyah.


“Kemana?”


“Rumah Iyah.”


“Yang di mana?” tanya Kagendra ingin mendengar informasi yang tepat karena Kagendra tahu jika Sadiyah memiliki beberapa rumah.


“Tebak saja sendiri.” jawab Sadiyah jahil.


“Jangan bercanda Iyah. Aa tidak mau bulak balik nyariin kamu lagi. Aa juga tidak tahu rumah kamu yang di Bandung.”


“Nomor telepon Iyah saja bisa tahu masa rumah Iyah tidak tahu. Cari saja sendiri!” Sadiyah menutup teleponnya dan langsung menonaktifkannya.


“Halo…halo…Iyah…Iyah…” Kagendra kesal karena Sadiyah menutup teleponnya sebelum ia benar-benar puas berbicara dengan Sadiyah lewat telepon.


Sadiyah tersenyum puas karena ia merasa yakin telah membuat Kagendra kesal.


********

__ADS_1


__ADS_2