
“Mereka tidak kesini lagi, Rud?”
“Mereka siapa, Bos?”
“Aras dan Aris.”
“Kemarin mereka ke sini.” jawab Rudi.
“Hari ini tidak?”
“Sepertinya tidak Bos.”
Kagendra sedikit kecewa dengan jawaban dari Rudi.
“Tapi besok mereka akan ke sini, Bos.”
Senyuman terbit di wajah Kagendra mendengar jawaban Rudi yang mengatakan bahwa Faras dan Faris akan datang esok hari.
Rudi juga tersenyum melihat Kagendra yang tersenyum.
“Bos kangen yah sama mereka?”
Kagendra terdiam tidak menjawab pertanyaan dari Rudi.
“Eh, Bos. Tahu tidak kalau Aras dan Aris sepertinya tidak tinggal bersama ayah mereka.”
“Darimana kamu tahu?”
“Soalnya mereka bilang kalau ayah mereka bekerja di hutan Amazon. Tahu tidak apa yang Aras dan Aris katakan soal pekerjaan ayah mereka?”
“Apa?” tanya Kagendra penasaran.
“Mereka bilang kalau pekerjaan Ayahnya itu memberi makan ikan piranha dan anaconda yang ada di hutan Amazon. Bos percaya tidak?” Rudi kembali tergelak teringat perkataan Faras dan Faris tentang pekerjaan ayah mereka.”
“Mana mungkin ada pekerjaan memberi makan ikan piranha dan anaconda.”
“Ibu mereka yang mengatakan kalau ayah mereka kerjanya seperti itu.”
“Sudah bisa dipastikan ibu mereka berbohong. Mungkin Ayah mereka sudah bercerai dengan Ibu mereka tapi Ibu mereka tidak mau kalau mereka tahu kenyataannya.” prediksi Kagendra.
“Mungkin seperti itu Bos. Makanya saya bilang pada mereka kalau mereka hanya butuh izin dari Ibu mereka saja untuk main di….ups.” sepertinya Rudi salah ucap. Ia keceplosan membeberkan rencananya untuk memasukkan si kembar sebagai ekstras dalam film.
“Maksud kamu apa, Rud?” bentak Kagendra.
“Tidak ada maksud apa-apa, Bos.” Rudi menjawab dengan sedikit gugup. Ia khawatir Kagendra akan murka dengan apa yang telah direncanakannya secara diam-diam.
“Sudah saya katakan kalau Aras dan Aris tidak boleh terlibat dalam film apapun.” tegas Kagendra.
“Kalau dalam iklan boleh tidak Bos?” Rudi masih berusaha untuk menggolkan rencananya.
“Tidak boleh.”
__ADS_1
“Bos tidak asyik ah.” Rudi pun melengos, berlalu dari hadapan Kagendra untuk menghindari amukan bosnya yang galak itu.
**********
Keesokan harinya…
Faras dan Faris melihat Ibu mereka sedang bersiap-siap untuk pergi lagi.
“Ibu mau kemana?” tanya Faras.
“Ibu mau ke Bandung 2 hari. Kalian mau ikut tidak? Kalau mau ikut cepat mandi sana. Ibu sudah membereskan baju kalian. Kita menginap di Bandung.”
“Aris tidak mau ikut, Bu.”
“Aras juga tidak akan ikut.”
“Kenapa tidak mau ikut?” Sadiyah heran karena biasanya anak kembarnya itu akan antusias jika diajak menginap di Bandung.
“Soalnya Aras dan Aris sudah janjian sama Om. Kemarin kita tidak bertemu Om. Jadi hari ini kita mau ketemu sama Om.” kata Faras.
“Om siapa sih?”
“Om ganteng, Bu.” jawab Aris.
“Iya Om siapa namanya?”
“Siapa ya?” Faras dan Faris bingung untuk menjawab pertanyaan Sadiyah karena memang mereka tidak tahu nama Om yang ditanyakan oleh Sadiyah.
“Tapi Om nya baik kok Bu. Bukan orang yang jahat.”
“Kalian bertemu sama Om itu dimana?”
“Di sungai, Bu. Kita main air bersama.” jawab Faras.
“Oh jadi gara-gara main sama Om itu, Aris sampai sakit?” Sadiyah sudah merasakan jika Om yang disebut-sebut anak kembarnya itu memberikan pengaruh yang buruk.
“Aris mah sakit bukan karena main di sungai, Bu. Itu kan Arisnya yang bandel minum air es.” Faras membela Om gantengnya.
“Boleh ya, Bu. Kita mau ketemu Om hari ini.” Faris memohon pada Sadiyah agar mengabulkan permintaannya.
“Ibu takut kalau Om itu akan berbuat jahat sama kalian. Ibu tidak mengenal Om yang kalian maksud.”
“Kalau Ibu tidak percaya, tanya saja sama Teh Tuti. Teh Tuti suka juga sama Om itu. Kata Teh Tuti, Om nya ganteng jadi Teh Tuti juga suka.” Faris menunjukkan bukti-bukti agar Sadiyah meloloskan permintaannya.
Sadiyah memanggil Tuti dan bertanya perihal Om yang dimaksud oleh anak-anaknya.
“Om itu yang mau syuting film di desa ini, Teh.”
“Kemarin Tuti juga yang mengantar mereka ke sana. Om nya juga baik kok, Teh. Kemarin, Aras sama Aris memang tidak ketemu sama Om yang satu lagi. Tuti juga tidak ketemu Om yang ganteng itu, Teh. Jadi hari ini, Tuti mau ke sana. Mau ketemu sama Om yang ganteng.” Tuti sudah menyiapkan dirinya secantik mungkin.
“Hsti-hati kamu, Tut. Laki-laki dari kota itu beda dengan laki-laki dari desa ini. Kamu belum mengenal mereka dan tidak tahu apakah mereka jahat atau tidak. Kamu jangan sampai tertipu sama penampilan mereka. Jangan terlihat murahan di depan mereka. Kalau kamu bersikap genit sama mereka, kamu bisa dimanfaatkan.” nasehat Sadiyah.
__ADS_1
“Tidak kok, Teh. Tuti cuma kagum saja sama cowok-cowok ganteng. Tuti juga bisa menjaga diri. Dan Om itu tidak terlihat jahat kok Teh. Malah Om ganteng itu tidak bersikap genit sama Tuti. Dia mah cuek banget sama cewek, Teh. Padahal banyak banget model-model yang cantik tapi dia mah cuek. Jarang senyum juga. Tapi Tuti suka cowok cool seperti Om itu.” Tuti senyam-senyum karena sudah membayangkan pertemuan dengan Om ganteng itu.
“Kalau Om itu galak, kenapa Aras sama Aris suka sama dia? Padahal kan biasanya Aras dan Aris susah dekat sama orang, apalagi orang yang baru mereka kenal.” tanya Sadiyah heran.
“Tuti juga heran, Teh.”
“Ya sudah kalau anak-anak mau bertemu dengan Om itu, kamu temani. Jangan sampai mereka terlepas dari pengawasan kamu. Kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Teteh bakal nyalahin kamu.”
“Siap, Teh.”
“Aras…Aris…Ibu mengizinkan kalian bertemu dengan Om.” akhirnya Sadiyah memberikan izinnya.
“Makasih Ibuuuuu…..” Faras dan Faris memeluk Sadiyah.
“Tapi Ibu di Bandung selama 2 hari. Kalian tidak akan kangen sama Ibu?”
“Ah Ibu kan sudah sering ke Bandung lebih dari dua hari dan sering juga kesananya lama, gak cuma dua hari.” protes Faras.
“Kan kalau kalian ikut sekarang, Ibu mau ajak kalian beli baju dan mainan baru. Tapi karena kalian mau bertemu dengan Om kalian itu, Ibu tidak akan jadi membelikan baju dan mainan barunya.” Sadiyah masih mencoba membujuk anak-anaknya agar mau ikut dia ke Bandung.
“Baju sama mainan kita masih banyak, Bu. Tidak perlu beli baju dan mainan baru lagi.” Faras menegaskan.
“Ah Aras mah suka begitu.” Sadiyah semakin yakin jika karakter Faras mirip sekali dengan Kagendra yang dingin dan tegas.
“Ya sudah, Ibu pergi dulu yaa. kalau kangen sama Ibu jangan nangis.”
Faris memeluk Sadiyah dengan erat.
“Aris bakal kangen sama Ibu, tapi Aris tidak akan nangis kok. Kan bisa vidio call an sama Ibu pakai hapenya Teh Tuti.” Faris menduselkan wajahnya ke perut Sadiyah.
Sadiyah merasa sedikit cemburu pada Om baru yang dikenal oleh anak kembarnya. Biasanya kalau Sadiyah mengajak Faras dan Faris ke Bandung, mereka akan antusias. Tapi gara-gara Om itu, mereka tidak mengindahkan ajakannya.
“Kalau Ibu di Bandungnya satu minggu bagaimana?” pancing Sadiyah.
“Kenapa harus satu minggu? Tadi bilangnya cuma 2 hari.” tanya Faras dingin.
“Ya kan Ibu bilangnya kalau.” rajuk Sadiyah.
“Ah Ibu mah suka plin plan.”
“Memang Aras tahu artinya plin plan?”” tanya Sadiyah yang merasa heran dengan pemilihan kata yang dipakai Faras.
“Tahu. Plin plan itu, tadi ngomongnya apa, sekarang ngomongnya beda lagi.”
“Araaaaas…kamu tuh lucu banget siiiiih...” Sadiyah mencubit gemas pipi Faras.
“Sakiiiiit…Ibuuu…..” protes Faras.
“Ibu pergi dulu yaa….” Sadiyah menciumi pipi Faras dan Faris.
************
__ADS_1
to be continued...